Bagaimana Menghadapi Suami Yang Tidak Mau Mendengar Pendapat Istri?

Assalamu’alaykum Pak Aam, bagaimana sikap saya menghadapi suami saya yang tidak mengizinkan saya pergi ke majelis taklim? Karena menurut dia saya tidak sesuai dengan harapannya. Suami saya orang yang tidak pernah mendengar keluhan saya, tidak pernah ingin tahu problem rumah tangga seperti problem anak dan keuangan. Dan dia tipe laki-laki yang hanya mau didengar omongannya sendiri. Setelah belasan tahun saya berumah tangga, komunikasi saya dengan suami itu tidak berjalan baik. Sesungguhnya saya bertahan hanya demi anak-anak karena kasihan dengan mereka. (Dewi via email)

 

 

 

 

Baik, memang hidup itu tidak seperti yang kita inginkan, orang yang berumah tangga inginnya memiliki teman untuk sharing, ngobrol, berdiskusi, dan berbagi. Idealnya orang berumah tangga itu untuk menjadi sarana mengekspresikan kehendak masing-masing, seperti didengar dan dihargai. Jadi memang rumah tangga yang sehat adalah yang komunikasinya sehat. Ada ayat yang mengatakan, Wa’aa syiruu hunna bil ma’ruf:

 

 

Bergaullah dengan mereka menurut cara yang pantas.” (QS. An-Nisa: 19)

 

 

Seorang laki-laki harus berlaku baik pada istrinya. Jadi seorang laki-laki haru menjadi pendengar yang baik dan memberi solusi yang sekiranya nyaman untuk kedua belah pihak. Jadi suami yang otoriter, merasa selalu benar, menganggap ide dan pemikiran istrinya selalu salah, adalah contoh suami yang tidak harus dijadikan model.

 

 

Jadi pada bapak-bapak, kita sebagai suami itu diperintahkan untuk memperlakukan istri dengan baik. Salah satunya adalah menjadi pendengar yang baik, jangan pernah menganggap bahwa omongan istri itu tak pernah berbobot.

 

 

Memang idealnya, suami itu adalah tempat berbagi pemikiran, berbagi penderitaan, berbagi pengalaman. Tapi saya yakin tak semua rumah tangga mendapatkan hal seperti ini. Ada suami hanya omongannya yang ingin didengar, ada pula sebaliknya.

 

 

Nah masalahnya bagaimana kita menghadapi pasangan hidup yang tak seideal yang kita harapkan? Dalam kasus ini anda bertahan demi anak-anak, itu bagian dari perjuangan yang luar biasa. Saya banyak menemukan istri yang hidup dalam penderitaan dibawah kedzaliman suami, itu hanya bemper untuk anak-anak. Ibu-ibu yang mengalami hal ini percayalah kalau anda bersabar dengan sebenar-benarnya sabar maka Allah akan membukakan pintu-pintu surga demi kesabarannya. Dalam qur’an dikatakan, Salaamun ‘alaykum bimaashabartum:

 

 

Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” (QS. Ar-Ra’d: 24)

 

 

Jadi kalau dalam rumah tangga, kita akhirnya mengorbankan, pikiran, perasaan, bahkan mungkin kehormatan dan harga diri, demi menyelamatkan anak-anak, rumusnya baca Ali Imran ayat 200,

 

 

Hai, orang-orang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu. Tetaplah waspada dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

 

 

BACA JUGA: Suami Diajak Ibadah Malah Marah, Apakah Istri Berdosa?

 

 

Dan kalau sampai akhir hayat dan anak-anak itu dihantarkan sampai ke pintu kesuksesan, ibu atau bapak mengorbankan diri demi anak-anak, lihat firman Allah dalam surat Ar-Ra’d tadi. Jadi memang solusinya ada dua yaitu sabar dan kalau anda benar-benar terdzalimi dan ingin membela diri, maka anda bisa gugat cerai.

 

 

Makanya di buku nikah kan ada disebutkan, sewaktu-waktu suami tidak menafkahi atau memperlakukan secara kasar dalam bentuk fisik ataupun mental berupa kata-kata kasar, istri bisa menggugat cerai pada laki-laki yang seperti itu. Karena yang namanya rumah tangga itu harus Qowwam (pelindung), jadi suami itu harus melindungi istri, harus ada kesetaraan hubungan.

 

 

Jadi yang namanya laki-laki adalah pemimpin bagi wanita bukan berarti pemimpin secara struktural seperti manager kepada staff, namun pemimpin yang dimaksud bersifat partnership. Maka ayatnya pun berbunyi, Arrijaalu qowwamuu na ‘alannisaa:

 

 

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri).” (QS. An Nisa: 34)

 

 

Qowwam (pelindung) bukannya Amiirun (pemimpin) atau khalifah (pemimpin negara), kalau dalam rumah tangga, tidak disebut Amiirun. Jadi suami itu adalah pelindung, kalau suami otoriter dengan omongannya yang menyakitkan dan perilakunya yang buruk, istri bisa menggugat cerai dengan datang ke pengadilan agama. Atau anda bisa dengan pilihan kedua, yaitu bersabar demi anak-anak.

 

 

 

Kesabaran seperti itu diberi penghargaan yang begitu tinggi oleh Allah, yaitu surga. Kenapa? Karena kesabaran seperti itu memang berat. Kita bisa bayangkan yang seharusnya growing old together dalam kebahagiaan, ini malah tumbuh sampai tua dengan penderitaan sepihak.

 

 

 

Nah, terkait bahasan membangun rumah tangga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah termasuk didalamnya bagaimana mengajak suami untuk tidak berlaku egois, Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Didalamnya juga  ada tips dan trik bagaimana mengajak pasangan bersama-sama dalam ibadah. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

935

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 534 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment