Mengajarkan Cinta Kepada Allah Pada Buah Hati,  Lakukan 3 Hal Ini

Assalamu’alaykum. Pak Aam, bagaimana caranya agar anak-anak kenal dan cinta kepada Allah ? Terus terang sebagai orangtua yang kurang pengetahuan agama kami juga ingin belajar. Mohon nasihatnya ( Alex via fb)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebagai muslim agar kita selalu mencari rido dan cinta Allah. Hal ini pula yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita. Karena dengan kita menjadi kekasih-Nya, maka seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi insya Allah akan mudah kita raih.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar kita mendapat ridho dan cinta Allah. Ini bisa juga kita ajarkan atau sampaikan kepada anak-anak kita.

 

Pertama, membaca, memahami, dan mengamalkan Alquran.

 

Cara ini akan melahirkan cinta dan kerinduan kepada-Nya, syukur dan sabar, tawadlu (rendah hati) dan khusyu, serta seluruh sifat yang bisa mengantarkan pada cinta dan rido-Nya. Dalam salah satu ayatnya disebutkan bahwa Al Quran adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang di dalamnya penuh berkah,

 

Al-Qur’an yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang berakal mendapat pelajaran. ” ( QS. Shaad : 29)

 

Alquran adalah kitab suci yang harus dipahami, bukan sekadar dibaca. Fakta menunjukkan, banyak yang rajin membaca Alquran tapi tidak paham isinya, sehingga tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman.

 

Pengalaman menunjukkan, awalnya memang agak susah mencerna maksud terjemahan Alquran, namun kalau kita sering membacanya, lama kelamaan akan mudah memahaminya. Sebenarnya ini berlaku untuk semua ilmu, kalau kita tidak pernah membaca buku-buku psikologi misalnya, akan susah mencerna isinya, tapi kalau sudah sering, insya Allah kesulitan ini bisa diatasi.

 

Saat membaca Alquran, para sahabat mengutamakan pemahaman, implementasi, dan pengamalan. Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, ‘Kebiasaan kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Quran, kami tidak akan melampauinya sebelum kami memahami secara benar maknanya dan mengamalkannya.’

 

Sementara itu, mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat saya, kita, lebih mengutamakan khatam (tamat) ketimbang paham. Tentu khatam dan hafal Alquran itu penting dan bernilai pahala, namaun alangkah indahnya kalau kita sering khatam dan paham serta implementatif. Setelah paham, langsung diaplikasikan dalam kehidupan.

 

Mengutip hadis riwayat Bukhari-Muslim, Anas r.a. pernah mengatakan bahwa Abu Thalhah r.a. (seorang sahabat dari kaum Anshar di Madinah) adalah orang yang banyak hartanya, di antara harta yang paling disenanginya adalah kebun kurma yang menghadap ke masjid, bahkan Rasulullah saw. pun pernah singgah di kebun itu. Ketika turun firman Allah Surat Ali Imran ayat 92 yang berbunyi, ‘Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai,’ Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, sungguh aku telah paham ayat itu, maka harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma yang menghadap ke masjid.

 

Untuk itu saksikanlah, demi Allah aku sedekahkan kebun itu untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya. Maka silakan Ya Rasulullah bagikan sebagaimana Allah telah mengajarkannya kepadamu.’ Kalau kita bagaimana?”

 

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah setelah melaksanakan yang wajib.

Sebuah hadis riwayat Bukhari menyebutkan, Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘.. . Tidak ada amalan yang paling Aku cintai dari hamba- Ku kecuali apa yang telah diwajibkan kepadanya. Dan Aku mencintai hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah …’

 

Menurut riwayat ini, ada dua hal yang menyebabkan Allah mencintai kita. Pertama, konsisten melaksanakan ibadah-ibadah fardlu/wajib, seperti shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, haji kalau sudah mampu, dan lainnya.

 

Kedua, melaksanakan amalan-amalan sunah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, shaum Senin-Kamis, dll. Ibadah-ibadah ini akan menjadi pupuk bagi hati kita sehingga hati kita akan tetap hidup dan subur. Allah swt. akan merespon taqarrub (pendekatan diri) kita dua kali lipat dari apa yang kita lakukan. Rasulullah saw. pernah bersabda melalui hadis qudsinya, Allah swt. berfirman, “Jika ia (manusia) bertaqarrub kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia bertaqarrub kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)

 

Jadi, kalau kita memberi satu cinta kepada Allah, Dia akan memberi dua cinta kepada kita. Kalau kita memberi tiga cinta, maka Allah akan memberi empat cinta, demikian seterusnya. Karena itu, dekatkanlah diri kepada-Nya dengan ibadah-ibadah sunah setelah kita melaksanakan yang wajib, pasti Dia akan mencintai kita.

 

 

Ketiga, memperbanyak zikir, baik dengan lisanataupun perbuatan.

Allah swt. memerintahkan untuk memperbanyak zikir dalam setiap kesempatan, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Jumu’ah ayat 10 yang berbunyi, ‘Dan zikirlah (ingatlah) Allah sebanyakbanyaknya, supaya kamu beruntung.’

 

Ada dua macam zikir, muqayyad dan muthlaq. Zikir Muqayyad adalah zikir yang jenis dan jumlahnya telah ditetapkan Rasulullah saw., seperti zikir setelah shalat fardlu (wajib) membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing 33 kali. Karena Rasulullah telah menetapkan jenis dan jumlahnya, kita tidak boleh menambahi atau menguranginya.

Zikir muthlaq adalah zikir yang jenis dan jumlahnya tidak ditetapkan oleh Rasulullah saw., namun disesuaikan pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Misalnya saat menghadapi ujian kita agak gelisah, nah kita bisa berzikir apa saja sesuai kemauan, bisa baca astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, dll. Jumlahnya pun terserah kita, berapa saja boleh.

 

Allah swt. akan mencintai hamba-Nya yang selalu menyertakan zikir dalam seluruh aktivitas kesehariannya. Mendapat kebahagiaan mengucapkan alhamdulillah, tertimpa musibah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, melihat kemaksiatan mengucapkan astaghfirullah, memulai perbuatanbaik mengucapkan bismillah, melihat sesuatu yang mengagumkan mengucapkan subhanallah, dll. Iniindikator bahwa kita selalu mengingat-Nya, sehingga Allah swt. pun akan mengingat kita. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 52.

 

Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.’

 

Allah swt. akan menyertai orang-orang yang selalu berzikir kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

 

“Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku di tengah-tengah sekelompok orang, maka Aku menyebutnya di tengahtengah kelompok yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat).

 

Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sesungguhnya Allah swt. berfirman, ‘Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat- Ku, dan selama kedua bibirnya masih bergerak menyebut nama-Ku.’ (HR. Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim)

 

Zikir jangan diartikan sempit (sekadar dengan lisan), tapi juga harus tercermin dalam perbuatan. Kalau kita berbisnis, bekerja, belajar, dll. dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, ini juga disebut zikir. Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang yang dicintai-Nya,

 

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam keadaan berbaring…” (QS. Ali Imran :191)

 

Ini yang dimaksud zikir dalam perbuatan atau aktivitas. Apabila ketiga hal di atas dilaksanakan, yakni memahami Al Quran, meningkatkan amaliah wajib dan sunah, serta selalu zikir dengan ucapan dan perbuatan, insya Allah kita akan menjadi kekasih-Nya, dan kita akan rindu bertemu dengan-Nya.

 

Sebuah hadis riwayat Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Ad-Darimi, dan Nasa’i menyatakan, “Barangsiapa yang mendambakan bertemu dengan Allah, Allah pun mendambakan bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, Allah pun akan merasa benci bertemu dengannya.

 

Inilah beberapa langkah atau tips mengajarkan kepada anak-anak agar mencintai Allah, Rabb Yang Maha Kuasa. Pendidikan akidah atau tauhid ini penting sebagai pondasi dalam kehidupannya. Ibarat bangunan maka pondasi yang kokoh maka bangunan yang tinggi pun akan kokoh berdiri diatasnya. Demikian juga sebaliknya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

932

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 462 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment