Penyebab Perselisihan Umat, Ini Penjelasan Dosen Ummul Qura

PERCIKANIMAN.ID – –  Isu adanya perselisihan di tengah umat harus menjadi perhatian serius untuk diselesaikan. Salah satu cara menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan mengetahui sebab-sebab munculnya perselisihan.

 

 

Demikian disampaikan Dosen Universitas Ummul Qura Mekkah Dr Fakhruddin Az-Zubair pada Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-5, di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

 

 

Lebih lanjut Dr Fakhruddin Az-Zubair menjelaskan, sebab-sebab tersebut berasal dari kezaliman dan kebodohan.Terkait kezaliman sendiri, menurutnya, terbagi menjadi tiga, yakni kezaliman terhadap Allah, terhadap diri sendiri, dan terhadap saudaranya.

 

 

“Tingkat kezaliman pertama adalah yang paling buruk, yang menyebabkan munculnya kesesatan,”paparnya.

 

 

Menurutnya, keyakinan menyimpang di tengah umat  memang masalah besar bagi kaum Muslimin. Namun demikian, Dr Fakhruddin Az-Zubair menasihati, hal itu tidak semestinya disikapi reaktif oleh umat.

 

 

 

Dr Fakhruddin Az-Zubair pun memberi contoh, dimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun ketika fase Madinah tetap melakukan interaksi dengan orang-orang yang bahkan tidak bersyahadat-dengan batas-batas tertentu.

 

“Contohnya perjanjian-perjanjian Nabi dengan orang-orang Yahudi, serta akomodasi Nabi terhadap orang-orang munafik. Apalagi perselisihan akidah yang sifatnya internal ahlul kiblat (sesama Muslim). Harusnya lebih bisa untuk tidak menyebabkan kita berpecah,” jelas ulama asal Sudan itu melansir kantor berita yang diinisiasi JITU, Islamic News Agency (INA).

 

 

Sementara zalim terhadap diri dan saudara sendiri (sesama muslim), menurut Dr Fakhruddin Az-Zubair merupakan dampak dari kezaliman pertama tersebut.

 

 

Lebih lanjut Dr Fakhruddin Az-Zubair menjelaskan, kezaliman-kezaliman itu pun telah menjatuhkan orang-orang pada kebodohan yang setidaknya terbagi secara umum menjadi tiga.

 

 

Pertama, kekeliruan terhadap pemaknaan ayat-ayat Alquran dan As-Sunnah (hadits), lalu terhadap penghukuman realita dengan dalil (ta’shil). Terakhir yakni kebodohan dalam menempatkan dalil dalam realita (tanzil).

 

 

Tiga kebodohan itu menurutnya tengah menjadi momok tersendiri bagi sesama Muslim, yakni ketika tidak menempatkan dalil pada konteks yang tepat.

 

 

“Imam Bukhari meletakkan dalam shahihnya, bab mengenai mengkhususkan ilmu bagi sebagian kaum saja. Dikhawatirkan orang lain (awam) tidak dapat memahaminya,” sambungnya.

 

 

Dr Fakhruddin kemudian menukil sebuah kisah,dimana suatu ketika ada seorang perempuan yang ingin masuk Islam. Akan tetapi perempuan tersebut mensyaratkan agar tetap diperbolehkan bermain-main dengan anjingnya.

 

 

BACA JUGA: Wapres Jusuf Kalla Buka Pertemuan Ulama Internasional Ke-5

 

 

“Secara ideal, muslim tidak boleh bermain-main dengan anjing. Kalau kita katakan tidak boleh, bisa saja dia tidak jadi masuk Islam. Padahal bermain-main dengan anjing hukumnya dosa, sementara tetapnya dia dalam kekafiran adalah kekufuran,” paparnya.

 

 

Dalam konteks itu dia mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan, “Lebih baik dia masuk Islam atau tetap pada kekafirannya?” tanya Syaikh Fakhruddin. [ Syahrain-INA ]

5

Red: admin

Editor: iman

Foto: istimewa

960

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 95 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment