Siapakah Wali Nikah Anak Hasil Zina, Hakim atau Ayah Biologis ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, maaf saya punya anak dari hasil perzinahan. Anak saya perempuan. Kalau nanti anak saya menikah, apakah benar tidak boleh dengan bapaknya dan harus sama hakim? Lalu apakah benar sifat ibu itu menurun ke anak? Mohon penjelasannya. ( R via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Terkait anak yang lahir diluar nikah atau hasil zina ini ada dua pendapat tentang siapa walinya jika anak tersebut perempuan dan hendak menikah.

 

 

Pertama, anak yang lahir dari perzinahan itu tidak bisa diwalikan oleh bapak biologisnya dan harus diwalikan oleh wali hakim. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah ra,

 

 

Anak itu dinasabkan kepada ayah (suami) yang sah sedangkan laki-laki yang berzina itu tidak dapat apa-apa.” (HR .Bukhari dan Muslim).

 

 

Menurut ulama hadits dalam menjelaskan hadits ini menyampaikan bahwa laki-laki yang berzina maka ia tidak memiliki hak apa-apa pun terhadap hak nasab, perwalian dalam nikah, mewarisi, kemahraman ataupun kewajiban memberikan nafkah kepada anak hasil zinanya tersebut.

 

 

Demikian juga untuk wali nikah sekiranya anak hasil zinanya tersebut perempuan yang hendak menikah. Jika anak tersebut hendak menikah maka yang menjadi wali ada wali hakim. Hal ini berdasarkan  hadits,

 

 

Penguasa (hakim) adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah.” (HR. Abu Daud, hadits ini dishahihkan oleh Al Albani).

 

 

Berdasarkan hadits ini maka yang berhak menjadi wali nikah anak perempuan hasil zina adalah hakim atau perwakilan penguasa dimana ia tinggal. Untuk di Indonesia maka petugas KUA adalah pihak yang berhak menjadi wali nikahnya.

 

 

Kedua adalah pendapat yang menyatakan bahwa bapak biologis tetaplah bapak aslinya sehingga boleh menjadi wali. Bapak biologis tersebut apakah menjadi suami ibunya atau tidak maka itu bukan menjadi masalah.

 

 

Perbedaan pendapat ini terjadi dikalangan ulama sebab di zaman Rasulullah, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi. Untuk itu, Anda boleh memilih pendapat mana yang akan Anda ikuti.

 

 

Lalu, apakah perbuatan buruk ibu atau bapaknya itu menurun kepada anaknya?. Sebelumnya perlu dipahami bahwa tidak ada istilah anak haram atau anak jadah bagi anak yang lahir diluar pernikahan atau hasil perzinahan.

 

 

Seorang anak tetap lahir dalam kondisi fitrah atau bersih dan tidak menanggung dosa orangtuanya. Meski anak tersebut lahir dari hasil perzinahan maka tetap yang berdosa adalah orangtuanya. Dalam Islam tidak ada istilahnya menurunkan dosa ke anak atau dosa turunan.

 

 

Namun, perlu kita ketahui bahwa anak adalah peniru yang hebat. Kalau Anda selaku ibunya sudah bertaubat dan berusaha berhijrah, menerapkan aturan Islam dalam kehidupan berkeluarga, maka anak nantinya akan menduplikasi perilaku anda yang sekarang (yang sudah berhijrah). Pun sebaliknya jika Anda tidak atau belum berubah,maka anak Anda akan mencontoh perilaku Anda.

 

 

Maka dari itu, jangan pernah menyalahkan anak seperti, “Kamu itu kok suka bohong?”. Coba Anda ingat-ingat kembali, jangan-jangan anak tersebut hanya mencontoh Anda sebagai orang tuanya. Pada intinya, istilah kalau orang tuanya buruk anaknya buruk itu adalah karena anak mencontoh perilaku dari orang tuanya.

 

 

Untuk itu kurang tepat juga dengan istilah peribahasa,” Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”  atau “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga” yang dinisbatkan perilaku orangtua yang buruk menurun kepada anaknya. Sekali lagi anak akan meniru orangtuanya. Namun orangtua yang berperilaku buruk belum tentu ditiru anaknya. Banyak anak shalih padahal orangtuanya seorang penjahat.

 

 

Anda mempunyai masa lalu yang buruk atau kelam karena pernah berzina maka belum tentu anak Anda kelak demikian juga. Didiklah anak Anda dengan baik dan ajarkan budi pekerti yang baik serta akhlak yang mulia. Insya Allah anak Anda bisa menjadi anak yang baik.

 

 

Dalam sebuah kisah ada di zaman Umar bin Khattab, ada seorang ayah yang membawa anaknya ke hadapan khalifah lalu meminta khalifah Umar untuk menghukum anaknya karena anaknya selalu membangkang dan melawan orang tua.

 

 

Lalu Khalifah Umar bertanya pada si anak. “Kenapa kamu durhaka terhadap orang tuamu?” lalu si anak menjawab, “Ya karena saya selalu disebut pendusta, berandal, anak kurang ajar oleh orang tua saya,” lalu Umar pun berbalik kepada si orang tua dan berkata, “Sesungguhnya kamu telah lebih dulu durhaka terhadap anakmu,”

 

 

Dari kisah tersebut bisa kita ambil bahwa orang tua itu selalu menjadi contoh bagi anak-anak. Maka dari itus, pastikan kita menjadi suri tauladan yang terbaik bagi anak-anak kita. Bertutur kata yang baik dan lembut meski sedang marah atau kecewa kepada anak. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait dengan cara mendidik anak dan seputar kepengasuhan, Anda dan bapak ibu serta sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “GOLDEN PARENTING “. Dalam buku ini ada tips mendidik anak sesuai yang diajarkan Rasul dan orang-orang shalih lainnya.

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: sangpencerah

963

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

 

(Visited 1,121 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment