Jadikan Anak Kita Generasi Terbaik, Begini Caranya

PERCIKANIMAN.ID – – Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang di dalamnya terangkum aturan hidup seorang mukmin. Betul bahwa membaca Al-Quran bernilai pahala yang besar, meski kita masih terbata membacanya. Betul pula bahwa mengkaji dan mempelajari Al-Quran adalah kewajiban setiap umat Islam.

 

 

Meskipun demikian, tidak semua umat Islam paham cara menghidupkan nilai-nilai Al-Quran dalam rumah tangganya. Contoh kecilnya adalah saat ini banyak orangtua yang lebih mempercayakan pendidikan baca Al-Quran bagi putra-putrinya pada Taman Pendidikan Al-Quran, baik TPA maupun TPQ, dibandingkan mendidiknya sendiri di rumah.

 

 

Tentu hal tersebut tidak bisa disalahkan, pun tidak bisa dibenarkan seratus persen. Mengingat, tanggung jawab mendidik anak tidak bisa lepas begitu saja ketika kita menyekolahkan putra-putri kita, bahkan di sekolah top sekalipun. Bukankah akan lebih terasa suasana qurani dalam keluarga manakala kita turun langsung membimbing putra-putri kita belajar Al-Quran?

 

 

Berkenaan dengan hal tersebut, berikut kisah seorang doktor muslimah yang semoga dapat menjadi inspirasi dalam menghidupkan kecintaan membaca Al-Quran dalam diri putra-putri kita. Dr. Sarmini nama aslinya atau lebih dikenal dengan panggilan Ummu Saudah.

 

 

 

Secara duniawi, kami menyadari terdapat banyak kekurangan. Kami hanya berasal dari keturunan orang biasa-biasa saja, punya harta yang biasa-biasa saja, juga memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja. Apalagi prestasi ukhrowi, kualitas iman kami amat jauh tertinggal dari para sahabat. Shalat yang masih jauh dari khusyuk, infak yang kami keluarkan masih bertimbang dan berhitung, penyakit hati pun masih senantiasa datang dan pergi.

 

 

 

Pada titik ini, kami pun berpikir bagaimana caranya agar kami yang biasa-biasa saja ini memiliki tempat yang terbaik kelak di sisi Allah Swt. Maka, tatkala kami menjumpai janji Allah melalui lisan Nabi-Nya bahwa tempat terbaik di sisi Allah itu bisa didapatkan dengan cara belajar Al-Quran dan mengajarkannya, kami pun serta merta bersiap diri.

 

Kami sadar bahwa cakupan belajar Al-Quran itu cukup luas, meliputi belajar membaca Al-Quran dan tafsirnya, ilmu Al-Quran, menghafal Al-Quran, belajar Bahasa Arab, dan sebagainya. Dalam hal ini, kami akan mengajarkan anak-anak kami yang masih balita untuk belajar membaca Al-Quran, lalu secara perlahan mentahfidzkannya.

 

 

Kami teringat hadits Rasulullah Nabi Muhammad Saw. yang mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian tiga perkara, yaitu cinta pada nabinya, cinta pada ahlul bait, serta cinta membaca Al-Quran.” (H.R. Ad Dailamy dari Imam Ali).

 

 

Hadits ini demikian tegas memberi perintah kepada kita melalui kata “didiklah”. Artinya, ini adalah sebuah perintah kepada setiap orangtua untuk mendidik dan melakukan upaya agar anak-anaknya cinta membaca Al-Quran.

 

 

Betapa banyak orangtua yang kami jumpai yang sangat besar keinginannya agar anak-anaknya bisa dan pandai membaca Al-Quran. Anak-anak mereka bahkan ‘dipaksa’ mengikuti program-program pendidikan yang diberikan orangtua, mulai dari sekolah formal di TPA/TPQ, sampai mendatangkan guru privat mengaji ke rumah di saat anak-anak butuh istirahat.

 

 

 

Tetapi, setelah anak bisa dan pandai membaca Al-Quran, para orang tua cenderung lalai dan abai dengan aktivitas membaca Al-Quran anak-anaknya.

 

 

Padahal, menurut kami, menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam diri anak-anak tidak cukup sampai membuat mereka bisa membaca Al-Quran, tetapi harus sampai pada kemauan (tanpa paksaan) putra-putri kita membaca Al-Quran.

 

 

Indikator cinta baca Al-Quran sendiri mencakup kualitas bacaan dan seberapa sering anak-anak mengkhatamkan Al-Quran. Artinya, ada interaksi antara anak dan Al-Quran. Interaksi itu, apalagi yang intens, ditandai dengan betapa seringnya anak membaca Al-Quran serta seberapa akrab anak-anak dengan Al-Quran.

 

 

Cinta baca Al-Quran itu hampir sama dengan seseorang yang mencintai sesuatu, baik orang maupun barang. Kalau sudah cinta, pasti akan berusaha semaksimal mungkin agar senantiasa bersama, berdekatan, atau menghabiskan waktu bersama yang tercinta.

 

 

Dengan perumpamaan ini, maka cinta membaca Al-Quran sama halnya dengan ingin selalu berdekatan dengan Al-Quran serta ingin terus membacanya sehingga lebih sering khatam. Jadi, tidak mungkin seseorang dikatakan cinta membaca Al-Quran kalau khatamnya jarang-jarang atau bahkan musiman.

 

 

Atas dasar pertimbangan ini, maka kami mendesain pembelajaran Al-Quran sekreatif mungkin untuk anak. Saya sebagai ibu, terjun langsung untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak kami. Bukan hanya mengajarkan sampai mereka bisa, tetapi mengantarkan dan menemani mereka untuk mengisi hari-hari dengan Al-Quran.

 

 

 

Saya juga mendorong mereka untuk memiliki target baca per hari, mendesain program agar dalam periode tertentu mereka bisa khatam, menyiapkan hadiah, mengesampingkan hukuman, bahkan sampai pada menyelenggarakan pesta khataman.

 

Ya, untuk menumbuhkan kecintaan dan agar anak-anak kami memiliki kenangan tak terlupakan dengan Al-Quran, kami mendesain pesta khataman serupa pesta ulang tahun yang meriah. Di dalam Islam, ulang tahun tidak harus dirayakan, begitulah kami mengatakannya kepada anak-anak. Namun, kami tahu bahwa mereka mungkin mengkhayalkan karena teman-temannya merayakannya. Maka, kami pun membuat pesta meriah di hari khatamannya.

 

 

Kami undang teman-temannya, kami ajak makan bersama, kami rancang busana menyerupai princess dalam dongeng, bahkan kami rayakan khataman Al-Quran ke tempat-tempat wisata. Subhanallah, nyatanya membumikan dan membuat anak mencintai Al-Quran tidaklah harus sekaku yang dibayangkan.

 

Dengan kerja keras, doa, dan semata inayah Allah Swt., alhamdulillah tiga orang putri kami yang masih balita sudah membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya sebelum usia lima tahun. Bahkan, putri pertama kami sudah mulai menyetor hafalan. Putri bungsu kami yang berusia tiga tahun tujuh bulan saat ini baru mulai membaca Al-Quran, kurang lebih dua halaman setiap harinya.

 

Mengapa sejak balita kami sudah mengajarkan Al-Quran dan mengontrol serta mendesain agar anak-anak membaca Al-Quran setiap hari? Dr. Keith Osborne, profesor perkembangan anak dari University of Georgia, mengatakan bahwa perkembangan kecerdasan anak sejak lair sampai usia empat tahun sama dengan perkembangan kecerdasan dari usia empat sampai 18 tahun.

 

 

 

Bahkan, pakar pendidikan anak, Dr. Montessori, menyebutkan bahwa periode peka yang penting dalam perkembangan anak di antaranya adalah usia satu setengah hingga tiga tahun adalah perkembangan bahasa, usia tiga setengah hingga empat setengah tahun adalah periode mulai menulis; dan usia empat hingga empat setengah tahun adalah periode anak mulai senang membaca. Maka, sangat tepat jika di usia balita, mereka kami kenalkan dan ajarkan baca Al-Quran.

 

Sejarah juga telah menjadi saksi bahwa para ulama salafusshaleh, para cendekiawan muslim yang hebat di masa lalu maupun di masa sekarang, telah menapaki “jalan Al-Quran” sebelum menapaki jalur keilmuan yang lainnya. Ulama-ulama zaman keemasan Islam seperti Al-Kindi (perintis ilmu persandian dan analisis kriptologi), Al-Khwarizmi (penemu istilah pecahan/desimal dan disebut sebagai Bapak Aljabar), Ibnu Sina (ahli kedokteran yang pengaruhnya masih diakui hingga kini), Ibnu Haitsam (pakar fisika yang hidup 600 tahun sebelum Galileo), serta Imam Syafi’i (hafal Al-Quran saat berusia 7 tahun) rata-rata telah membaca bahkan hafidz Al-Quran sejak belia.

 

 

 

Ulama-ulama zaman sekarang seperti Syaikh Yusuf Qardhawi pun telah hafal Al-Quran sebelum usia beliau 10 tahun. Bahkan, dengan bangga beliau menjuduli salah satu bukunya dengan Ana Ibnuk Kuttab (Saya Produk Anak Pesantren Hafal Al-Quran). Subhanallah! Ada juga Hasan Al-Bana, Bintu Syati (ahli tafsir perempuan), dan masih banyak lagi.

 

 

Kami ingin mengulang sejarah emas itu di masa kini. Maka, kami menjadikan pengajaran Al-Quran pada anak-anak sebagai prioritas. Bukankah sesungguhnya sejarah pasti akan berulang jika faktor pencetusnya juga berulang? Bahkan, Al-Ghazali dari Mesir (mufassir di abad ini) mengatakan, “Ana mahrum minal la’bi (Saya tidak main sewaktu kecil)”. Artinya bukan tidak bermain sama sekali, melainkan semasa kecil beliau sudah berinteraksi dengan Al-Quran.

 

 

Motivasi kami yang lain dalam mengutamakan pengajaran Al-Quran pada anak-anak kami adalah adanya hadits Nabi Muhammad Saw. yang menyebutkan, “Sesungguhnya Allah ingin menimpakan azab pada suatu kaum, kemudian Allah mendengar dari bayi/anak mereka bacaan ALHAMDULILLAHI­RABBIL’ALAMIN, maka Allah langsung mengangkat bala tersebut selama 40 tahun karena bacaan anak tersebut.”

 

 

 

Ya, anak-anak yang membaca Al-Quran adalah tameng keluarga. Juga, sebagai wujud kepedulian kami pada lingkungan sekitar agar mendapat perlindungan Allah dari azab-Nya.

 

 

Itulah yang membuat kami sangat ingin agar anak-anak kami mencintai Al-Quran. Mudah-mudahan, kami yang bukan siapa-siapa ini mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin. [ ]

5

Red: fatih

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

879

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 95 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment