Hukum Menukar Uang Baru Saat Lebaran, Boleh atau Terlarang ?

Assalamu’alaikum.  Pak Aam, mau bertanya bagaimana hukumnya menukar uang dengan uang baru khususnya menjelang Idul Fitri. Apakah itu termasuk riba? Sebab ada lebihnya atau uang kita menjadi berkurang . Mohon penjelasannya. (Dewi via fb)

 

 

Wa’alaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Salah satu fenomena yang terjadi dalam masyarakat Indonesia khususnya menjelanga berakhirnya Ramadhan atau menjelang Idul Fitri adalah adanya transaksi penukaran uang.

 

 

Sebenarnya transaksi tukar menukar barang itu terjadi bukan hanya sekarang saja, melainkan sudah ada di zaman dulu bahkan di zaman Rasul Saw. Hal ini dapat kita simak dalam hadits yang disampaikan Abu Said al-Khudri ra , dimana Rasul Saw bersabda,

 

 

Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’ir (gandum kasar) ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, takaran atau timbangan harus sama dan dibayar tunai. Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim dan Ahmad)

 

 

Lalu bagaimana dengan tukar uang dengan uang seperti yang sekarang ini terjadi dijalan?

 

 

Menurut para ulama khususnya ulama hadits menjelaskan bahwa emas dan perak diqiyaskan dengan mata uang dan semua alat tukar sebab di zaman dulu mata uang adalah dinar (emas) dan dirham (perak). Hal ini seperti uang kartal atau kertas di zaman kita sekarang ini.

 

 

Jika mengacu pada hadits tersebut maka ada aturan baku yang boleh dilakukan. Pertama tukar menukar tersebut  dilakukan barang barang yang sejenis. Misalnya emas dengan emas, perak dengan perak, rupiah dengan rupiah, dan sebagainya. Dalam hadits disebutkan ,”takarannya harus sama, ukurannya sama dan dari tangan ke tangan (tunai).”

 

 

Kedua dalam transaksi atau tukar menukar itu tidak ada kelebihan, sebab jika ada kelebihan statusnya menjadi riba. Perhatikan hadits Rasul tersebut,  “Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.”

 

 

Dari penjelasan hadits ini bahwasanya menukar uang dengan uang boleh namun tidak boleh ada kelebihan atau kekurangan. Sebab jika ada lebihnya maka jatuhnya bisa riba dan hukumnya haram.

 

 

Mislanya tukar menukar uang receh yang menjadi tradisi di masyarakat kita, dan di situ ada kelebihan, termasuk riba. Misalnya uang Rp 100 ribu ditukar dengan pecahan Rp 5 riban, dengan selisih 10 ribu atau yang menukar dari 5 ribuan tersebut hanya dapat 90 ribu. Berarti si penukar kurang 10 ribu dan yang ditukari  ada kelebihan atau tambahan 10 ribu.

 

BACA JUGA: Cara Bayar Fidyah Yang Benar, Dengan Uang atau Makanan ?

 

Ini termasuk transaksi riba. Karena berarti tidak sama jumlahnya atau nilainya, meskipun dilakukan secara tunai. Karena rupiah yang ditukar dengan rupiah, tergolong tukar menukar yang sejenis, syaratnya ada dua yakni sama nilai dan tunai. Jika ada tambahan, hukumnya riba.

 

 

Namun jika ditukar di bank misalnya dengan nilai yang sama artinya 100 ribu ditukar recehan 5 ribuan dan totalnya tetap 100 ribu maka hukumnya boleh.

 

 

Dalam fatwanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyatakan bahwa penukaran uang di jalan hukumnya bisa tergolong haram, jika terpenuhi unsur riba dalam proses tukar menukar tersebut. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 493 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment