Kisah Marbot: Dulu Rajin Maksiat, Sekarang Ahli Shalat

 

 

Kisah Mang Uco Marbot Masjid Al Aamiin

 

PERCIKANIMAN.ID – – Kawasan Jalan Baladewa Utara, RT 04 RW 08 Kelurahan Padjajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung dekat pemakaman Pandu terkenal sebagai wilayah yang rawan perbuatan maksiat. Tak sedikit banyak yang hidup di jalanan dengan citra negatif. Namun diantara itu semua, terselip sebuah kisah Mang Uco yang kini berprofesi sebagai marbot di Masjid Al Aamiin yang baru dibangun dua tahun silam yang tadinya hanya berdinding dari bahan bilik.

 

Mang Uco sendiri berjanji jika masjid selesai dibangun maka ia akan berhenti dari kebiasaan minum minuman keras. Hidup di jalanan membuat hatinya gersang dan uang yang didapatkan memang besar tapi habis untuk hal-hal yang tidak penting. Nah saat pembentukan pengurus DKM baru, Mang Uco memberanikan diri menawarkan untuk menjadi marbot atau yang mengurusi masjid.

 

“Ya saat itu saya mengajukan diri menjadi marbot karena itu yang bisa saya lakukan lagipula rumah kan dekat masjid. Perlu diketahui pula, saya ke masjid berbekal menjadi orang yang tidak pernah Shalat dan tak bisa sedikit pun membaca al Quran. Saya terus belajar bahkan mulai dari iqro.Alhamdulillah akhirnya hampir dua bulan belajar maka saya bisa membaca al Quran,” terang Mang Uco membuka obrolan dengan penulis selepas Ashar di bulan Ramadhan tahun ini.

 

Uniknya, Mang Uco ini pemain bas grup musik dangdut dan main kalo ada job. Dia menyadari jika belum bisa neninggalkan hal itu sepenuhnya. Namun begitu untuk yang lain telah mampu ia tinggalkan. Menurutnya, dulu sih ketika disuruh Shalat malah tidak msu, namun seiring jadi marbot justeru ia semakin termotivasi untuk Shalat di masjid. Baginya, ada di lingkungan masjid membuatnya terem untuk berbuat yang tidak-tidak dan hal tersebut menenangkan hatinya padahal jadi marbot ia tak digaji bulanan.

 

Nggak tahulah, pokoknya kalau ada di masjid hati saya terasa adem walaupun bisa jadi saat itu tidak punya duit,” tambah ayah tiga anak ini.

 

Pekerjaan marbot yang biasa dilakukan adalah menyapu, mengepel lantai dan membereskan karpet untuk kebutuhan Shalat. Selain itu Mang Uco punya tugas khusus pula yaitu karena air wudhu untuk jamaah maka ia pun harus terjaga sampai jam dua dini hari mengisi air ke torn dari air ledeng PDAM. Nah baru setelah itu maka ia baru tidur.

 

“Kelihatannya memang seperti mudah tapi butuh pengorbanan namun baginya jadi marbot itu justeru mengadyikkan. Siapa lagi kalau bukan saya yang bertugas seperti itu demi kenyamanan jamaah,” ungkap pria yang berusia lima puluh tahun ini.

 

Justeru di bulan Ramadhan kesibukannya semakin meningkat karena jammah Shalat Tarawih yang membludak maka ia harus pasang karpet di luar untuk jamaah wanita dan setelah itu membereskannya. Di sisi lain, Mang Uco untuk memenuhi kebutuhan hariannya ia pun jual beli burung yang memang tidak menentu hasilnya tapi ia bersyukur dan rupanya hal itu malah mencukupkannya. Selain menjadi marbot, ia pun sering jadi operator sound system yang biasa digunakan untuk kegiatan Tablig Akbar. Shalat Idul Fitri atau Idul Adha..

 

“Ya sedikit kemampuan yang bisa digunakan untuk amal saleh, karena hal itu menentukan saat acara berlangsung,” imbuhnya dalam kesempatan tersebut.

 

Masjid Al Aamiin sendiri dalam seminggu diisi dengan lima kali pengajian dan semuanya diikuti Mang Uco. Biarpun ia hanya sebagai marbot tapi tak melepaskan kesempatan untuk bertolabul ilmi. Bahkan yang menarik adalah Mang Uco ini sendiri ikut Majelis Baraya Iqro, di mana di dalamnya ada banyak orang yang hidup di jalansn.

 

Dengan semangat hijrahnya mereka bersemangat untuk belajar menjadi lebih baik. Tentu saja dengan sering disirami oleh agama mereka menjadi tak sungkan datang ke masjid.

 

“Senang kalau bisa berkumpul dengan mereka bersilaturahim dan semua bisa mendapat ilmu agama yang dibutuhkan dan saya mendapat bagian pahala dari hal itu,” tuturnya yang tak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang ditekuninya saat ini.

 

Jika tadinya begitu malas untuk Shalat kini bahkan sudah berani menjadi imam kalau tak ada yang sanggup. Karenanya Mang Uco pun belajar sedikit demi sedikit surat pendek dari al Quran dari saudaranya. Artinya, yang tadinya hal-hal agama yang tidak dipedulikannya, kini malah menjadi perhatiannya. Mang Uco akan merasa percaya diri menjadi imam jika bacaanya sudah bagus dan benar.

 

“Tidak salah kan kalau setiap waktu ada peningkatan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin,” ungkap ayah yang kini menyekolahkan anak bungsunya di SMK.

 

BACA JUGA: Kisah Marbot: Dulu Tukang Mabuk, Sekarang Ahli Ibadah

 

Biarpun bekerja menjadi marbot tidak digaji tetapi Mang Uco kalaupun ada orang yang menberi uang kepadanya ternyata tak diambil sepenuhnya karena sebagian dimasukan lagi ke kotak amal. Katanya pula, saat Idul Adha ia pun ikut jadi panitia mempersiapkan segala sesuatunya.  Mang Uco pun jadinya tahu mulai dari penyembelihan dan pembagian hewan qurban.

 

“Banyak pengalaman yang tadinya tak pernah dialami tetapi jadi marbot semua itu jadi teralami,” ujarnya merasa bahagia.

 

Biar begitu rupanya Mang Uco siap terus menjadi marbot jika memang tak ada yang mau menggantikannya. Pekerjaan marbot sudah dicintainya dan bagian darinya mendapatkan pahala sebesar-besarnya

 

.”Insya Allah saya ikhlas jadi marbot sampai kapanpun karena insya Allah apa yang dilakukan oleh saya diridhoi oleh Allah,” pungkasnya menutup obrolan kala itu..[ ]

 

5

Rep: deffy

Editor: iman

Foto: deffy

980

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 93 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment