I’tikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan, Ini Keutamaannya

PERCIKANIMAN.ID – – Pada bulan Ramadhan, Allah menyediakan waktu khusus untuk kita untuk melakukan kontemplasi atau menyendiri. Waktu yang tak hanya bisa diisi dengan perenungan, namun juga amalan-amalan yang makin mendekatkan kita kepada-Nya. Ingat, segala kegemilangan hanya berasal dari Allah. Dan, dengan makin mendekatkan diri kepada Allah, kegemilangan itu bisa kita raih.

 

Ya, Ramadhan adalah bulan yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. untuk diisi dengan itikaf. Apalagi, di dalamnya terjanji beberapa kemuliaan, terutama di 10 hari terakhir Ramadhan. Pada saat itikaf inilah, kita bisa melakukan evaluasi serta menata rencana-rencana masa depan atau bermuhasabah.

 

Sembari melakukan hal itu, kita bisa melakukan banyak ibadah kepada Allah Swt. Karena pada hakikatnya, Allah jualah yang Maha Berkehendak atas segala yang telah kita rencanakan.

 

Secara harfiah, itikaf berarti tinggal di suatu tempat. Itikaf sendiri berasal dari kata akafa alaihi yang berarti berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia pada sesuatu. Sedangkan, secara syariah, itikaf berarti tinggal di masjid selama beberapa hari, teristimewa di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti yang di jelaskan dalam hadits,

 

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.”(HR. Bukhari  dan Muslim).

Selama melakukan itikaf, seorang mutakif (orang yang beritikaf) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi, kemudian menggantinya dengan ibadah sepenuh hati. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Saw., selama beritikaf, kita harus menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. seraya mengharap ampunan dan rahmat-Nya. Hakikat itikaf adalah taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) dengan memperbanyak ibadah.

 

Beberapa ritual ibadah yang bisa dilakukan saat melakukan itikaf di antaranya, shalat, baik yang wajib maupun yang sunah, berjamaah maupun munfarid. Beberapa shalat yang bisa dilakukan selain shalat wajib lima waktu, misalnya shalat Tarawih, Witir, shalat Fajar, shalat Rawatib, dan yang lainnya.

 

Selain shalat, ketika itikaf kita juga bisa melakukan dzikir. Semua bentuk dzikir sangat dianjurkan untuk dibaca pada saat itikaf. Akan tetapi, lebih diutamakan dzikir yang lafaznya dari Al-Quran.

 

Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah itu, ibadah yang juga dianjurkan saat itikaf adalah membaca Al-Quran. Bagi yang belum bisa atau belum lancar membaca Al-Quran, saat itikaf malah sangat dianjurkan untuk belajar Al-Quran. Selain membaca, tentu saja kita juga perlu memahami isinya.

 

Al-Quran adalah pedoman hidup yang secara khusus diberikan Allah. Lalu, bagaimana kita bisa menapaki hidup dengan baik jika pedomannya tidak kita maknai secara mendalam? Tentu saja, belajar atau memahami kandunga Al-Quran membutuhkan guru atau pembimbing yang ahli di bidang tersebut. Maka, mengikuti kajian-kajian Al-Quran pada saat itikaf lebih bagus lagi.

 

Kemudian, hal yang bisa dilakukan saat itikaf selanjutnya adalah berdoa kepada Allah Swt. Allah saja yang bisa mengabulkan segala doa untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Dan, meminta adalah salah satu sarana mendekatkan diri kita dengan Allah.

 

BACA JUGA: Adab Ketika I’tikaf  Di Masjid

 

Meminta kepada Allah Swt. adalah bentuk ibadah. Maka, meminta sebanyak-banyaknya berarti mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Allah Swt. senang diminta, bahkan orang yang tidak meminta kepada Allah adalah orang yang sombong.

 

Tentu saja, saat itikaf, kita masih diperbolehkan melakukan aktivitas lain selain yang telah disebutkan tadi. Seorang mutakif boleh beristirahat, tidur, berbicara (makruh membicarakan hal-hal duniawi yang tidak membawa manfaat bagi akhirat), mandi, buang air, bahkan meskipun sekadar diam di dalam masjid (tidak melakukan apa-apa). Karena sekali lagi, makna itikaf adalah diam. Meski tentu saja bukan diam terus sepanjang waktu.

 

Jadi, itikaf adalah saat yang tepat bagi kita melakukan kontemplasi. Karena, selain merenung, kita juga bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Merenung atau berkontemplasi sembari beribadah di dalam itikaf tentu saja sangat baik. Karena, selain mengasah ketajaman pikiran, kita juga akan mendapatkan pahala dan terjaga dari hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shaum Ramadhan.

 

Subhanallah, itikaf memang luar biasa! Semoga kita dapat meraih Lailatul Qadr atau malam seribu bulan, seperti yang Allah janjikan,

 

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” ( QS.Al Qadr:3)

5

Red: muslik

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 414 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment