Memaknai Ramadhan Dengan Menggali Keutamaannya

 

Oleh: Tate Qomaruddin,Lc*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Ramadhan kembali menemui kita untuk keseskian kalinya. Momen ini hendaknya kita syukuri dan dijadikan tekad untuk Ramadhan yang lebih baik darii tahun sebelumnya. Keutamaan dan keberkahan Ramadhan ini telah kita ketahui bersama seperti yang diterangkan dalam hadits dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya–, dia berkata, bersabda Rasulullah Saw. bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

 

Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum. Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya.  Shaum adalah tameng. Maka pada hari seseorang melakukan shaum janganlah ia melakukan rofats dan janganlah bertengkar (berteriak). Jika seseorang mencacinya atau menantangnya berkelahi maka hendaklah ia katakan, “Sesungguhnya aku sedang shaum.” Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang shaum lebih baik di sisi Allah dari pada wangi minyak kesturi. Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika ia berbuka, ia bahagia dengan bukanya. Dan jika ia berjumpa dengan Tuhannya ia berbahagia dengan shaumnya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih, dan lafaz ini riwayat Bukhari)

 

Shaum Ramadhan sebagaiamana dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis tersebut merupakan ibadah yang memiliki keistimewaan di sisi Allah Swt. Shaum terkait erat dengan kekuatan iman yang ada pada diri seseorang karena shaum adalah ibadah rahasia. Shaum adalah ibadah hati yang sangat rahasia antar seorang hamba dengan Tuhannya.

 

Ketika seseorang menahan makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan shaum padahal ia bisa dan mampu makan dan minum, itu merupakan bukti atas kesadaran dan keyakinan akan adanya pengawasan Allah Swt. Ini berbeda dengan ibadah lain yang dilakukan dengan melakukan sesuatu, ibadah shaum justru dilakukan dengan menahan diri dari melakukan sesuatu.

 

Shaum juga mendidik seorang hamba untuk berorientasi pada masa depan. Seorang yang shaum dengan sukarela meninggalkan hal-hal yang halal demi mencapai dua kebahagian di masa yang akan datang, yakni masa berbuka dan masa berjumpa dengan Allah Swt. Jadi, orang yang melakukan shaum rela berkorban dan “menderita” sesaat untuk menggapai kebahagiaan yang akan datang. Dan, itu salah satu indikasi kuatnya keimanan pada hari akhirat, hari kehidupan yang hakiki.

 

Selain itu, shaum adalah pewujudan ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta. Seorang yang melakukan shaum baru makan dan minum pada saat datang magrib. Kemudian, dia menahan diri dari segala hal yang membatalkan manakala datang fajar. Ini saja sudah merupakan ketundukan kepada Allah.

 

Shaum dari terbit fajar sampai Maghrib kira-kira 13 jam lamanya. Dan, sebelum tiba shubuh, kita dianjurkan makan sahur dalam keadaan tubuh kita tidak ingin makan. Kita tidak pernah menawar agar mulai shaum dari jam sepuluh pagi misalnya, yang penting lamanya 13 jam. Karena, kita tunduk dan patuh sepenuhnya kepada titah Allah Swt.

 

“…Sekarang, campuri mereka dan cari apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakan puasa sampai datang malam. Namun, janganlah kamu campuri mereka ketika kamu beriktikaf di dalam masjid...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 187)

 

BACA JUGA: Berkah Ramadhan 2018

 

Dan, yang tidak kalah pentingnya, terutama bila dikaitkan dengan kehidupan kita saat ini, shaum merupakan sarana pendidikan masyarakat. Terasa berat bagi seseorang saat shaum sendirian. Ini dapat kita rasakan saat kita melakukan shaum sunnah. Akan tetapi, berbeda halnya ketika semua orang yang ada di lingkungan kita melaksanakan shaum.

 

 

Setiap kita menjadi semangat melakukannya dan nyaris tanpa keluhan. Ternyata, ibadah yang dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh atau sebagaian besar masyarakat adalah sebuah kenikmatan. Suasana itu  memunculkan rasa persatuan, keterpaduan, kebersamaan dalam ketaatan kepada Allah Swt. Semoga kita mendapatk keberkahan Ramadhan tahun ini. Wallahu’alam bishsawab. [ ]

5

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

Tate Qomaruddin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

843

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis bisa mengirimkan tulisannya  ke email:[email protected] .atau [email protected] .  Dapatkan  bingkisan menarik dari redaksi. Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 178 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment