Orangtua Sakit Tidak Puasa, Qadha atau Bayar Fidyah

Assalamu’alaikum.Pak  Aam, saya mau nanya tahun kemarin saat Ramdhan ibu saya dirawat karena sakit. Ketika sudah sehat ibu saya tidak kuat juga untuk puasa. Kemudian saya sarankan untuk membayar fidyah karena ibu saya di bulan biasa juga tidak kuat puasa. Apakah saran saya itu benar baiknya membayar fidyah saja?. Berapa besarnya fidyah dan kapan membayarnya? Mohon penjelasannya dan terimakasih. ( Pon via fb)

 

 

Wa’alaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Saya sependapat dengan saran Anda, sebab ibadah puasa khususnya di bulan Ramadhan ini selain spiritual juga perlu dukungan fisik yang fit atau sehat. Hal ini sesuai dengan perintah puasa,

 

“…..Jika di antaramu ada yang tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, wajib menggantinya pada hari-hari yang lain sebanyak hari kamu tidak berpuasa. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…. (QS.Al Baqarah: 184)

 

Berdasarkan ayat ini menurut mayoris ulama fikih orang yang sakit karena udzur atau sudah tua maka disarankan untuk membayar fidyah sebagai ganti dari puasa Ramadhan yang tidak bisa ia kerjakan. Sebab, bagi orang tua apalagi sering sakit atau sedang sakit diluar Ramadhan juga belum tentu mereka sanggup atau mampu untuk puasa. Untuk itu membayar fidyah lebih baik bagi mereka.

 

Udzur itu ada dua, pertama karena umur atau usia. Seseorang yang usia sangat sepuh tentu secara fisik tidak mampu untuk puasa. Namun ada juga seseorang yang hingga usia 100 tahun misalnya, ada yang masih sanggup puasa. Hal ini tentu tergantung dari kondisi fisiknya.

 

Kedua, udzur karena sakit. Bisa jadi usianya masih muda namun karena sakit ia tidak mampu untuk puasa dan sakitnya ini juga belum tentu tahu kapan sembuhnya, misalnya sakit stroke atau gagal ginjal yang harus cuci darah. Orang dalam kondisi seperti ini meski secara usia ia masih muda namun karena sakit menahun dan belum diketahui kapan sembuhnya maka disarankan untuk membayar fidyah saja.

 

Kemudian kembali Allah tegaskan atau memberi solusi soal tidak bisa puasa ini pada ayat berikutnya,

 

“….Siapa pun di antaramu berada di negeri tempat tinggalnya pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Jika tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, kamu wajib menggantinya pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….. “ (QS.Al Baqarah; 185)

 

Intinya Allah memberi kemudahan bagi hamba-Nya yang akan beribadah kepada-Nya termasuk dalam ibadah puasa di bulan Ramadhan ini.

 

Lalu bagaimana caranya dan berapa besarnya fidyah?

 

Untuk hal ini secara syariat tidak dijelaskan secara rinci besarannya, hanya mengacu pada pendapat ulama fikih maka disesuaikan dengan besarnya biaya makan secara harian. Ini bisa berbeda setiap orang, misalnya orangtua Anda diperkirakan biaya makan seharinya Rp.20.000; maka tinggal dikalikan jumlah hari yang ditinggalkan tidak buasa atau selama 29 hari atau 30 hari.

Mungkin bisa saja ada orang yang biaya makannya bisa lebih besar atau lebih kecil. Tentu ini tidak menjadi masalah, sebab yang menjadi ukuran adalah dia sendiri. Namun jangan sampai ia memberikan fidyah dibawah atau lebih kecil dari biaya makannya atau disesuaikan dengan biaya makan fakir miskin. Hal ini tidak disarankan.

 

BACA JUGA: Batas Waktu Qadha Puasa

 

Kemudian kapan waktu untuk membayar fidyah ini?

 

Hal ini sama tidak ada ketentukan waktunya secara rinci. Dengan mengacu pada Surat Al Baqarah ayat 184 tersebut tidak dijelaskan waktunya, boleh disaar Ramadhan atau di luar Ramadhan. Namun para ulama menyarankan  lebih afdhol atau lebih utama jika membayar fidyah itu dilakukan di bulan Ramadhan.

 

Sekiranya di bulan Ramadhan belum mampu,maka boleh membayarnya di luar Ramadhan. Mungkin Anda mempunyai rezeki adanya di luar Ramadhan maka tidak mengapa, silakan saja sesuai dengan kemampuan Anda. Namun sekali lagi para ulama menyarankan sebaiknya dilakukan sebelum Ramadhan berikutnya. Ini seperti orang melakukan qadha yang sebaiknya jangan lewat Ramadhan berikutnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 456 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment