Suami Diajak Ibadah Malah Marah, Apakah Istri Berdosa?

 

Assalamualaikum.Pak Aam, saya mempunyai suami yang temperamental dan kadang cuek serta cenderung egois. Beberapa kali saya mengajaknya untuk ibadah namun selalu marah-marah dan tidak terima dinasihati istr. Saking keselnya ia pernah bilang kalau saya istri yang durhaka karena membuat suami marah. Apakah demikian? Bagaimana saya harus bersikap ? Apakah tetap membiarkan begitu atau terus dinasihati? Mohon nasihat dari ustadz dan terima kasih (Azka via email)

 

 

Wa’alaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dimuliakan Allah. Romantika dalam rumah tangga selalu ada dalam setiap keluarga. Kita tentunya menginginkan pasangan yang shalih dan shalihah sehingga senantiasa tercipta keharmonisan dalam rumah tangga.

 

Namun dalam kenyataannya terkadang pasangan kita tidak seperti impian semula. Bisa jadi istri taat beribadah namun suaminya kurang. Demikian juga sebaliknya. Apa yang Anda lakukan sebagai istri tentu sudah benar. Ketika melihat suami kurang taat atau rajin ibadah maka sudah selayaknya istri yang aktif mengajak atau mengingatkan.

 

Demikian juga sebaliknya jika mendapati istrinya kurang dalam ibadah maka suami yang harus aktif mengajak atau mengingatkan. Ketika mengingatkan orang lain untuk meninggalkan keburukan atau mengajak kepada ketaan namun orang tresebut tidak terima dan malah marah maka Anda tidak berdosa

 

Apa yang Anda lakukan tentu salah satu bukti kecintaan Anda kepada suami bukan karena benci. Anda tentunya membenci sikap suami yang tidak atau kurang taat dalam ibadah. Dalam sebuah hadits oleh At-Tirmidzi, dimana Rasulullah Saw pernah bersabda:

 

Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)

 

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:

 

Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)

 

Dari dua hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia diberi.

 

Namun demikian dalam mengajak khususnya suami maka Anda hendaknya melakukannya dengan lemah lembut,santun dan bijaksana serta tidak terkesan menggurui. Sebab, biasanya suami atau laki-laki itu tidak suka dinasihati perempuan termasuk istrinya sendiri. Untuk itu pandai-pandailah dalam memilih waktu atau suasana. Suasana santai mungkin lebih pas untuk mengajaknya berdiskusi. Dalam Alquran disebutkan,

 

Serulah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Allah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Allah yang lebih menge-tahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl:125)

 

Mengaju pada ayat ini maka berdakwah atau mengajak kebaikan itu termasuk kepada suami harus dilakukan dengan tahapan tersebut yakni dengan hikmah dan pengajaran atau teladan yang baik serta jika ada perdebatan maka harus dilakukan dengan cara yang baik pula.

 

Dalam sejarahnya bahwa berdakwah itu memang yang terberat dalam lingkungan keluarga atau kerabat terdekat. Ini juga dialami oleh para nabi dan rasul termasuk Rasulullah Muhammada Saw. Kita bisa membaca dalam sejarahnya bagaimana beratnya Nabi dan Rasul mengajak atau berdakwah kepada kerabatnya, misalnya Nabi Nuh dengan istri dan anaknya, Siti Asiah kepada Fir’aun kemudian Rasulullah Saw kepada pamannya. Dalam Alquran disebutkan,

 

Berilah peringatan kepada kerabat-kerabat terdekatmu (Muhammad),  .” (QS. Asy-Syu’araa: 214)

 

Berkaca dari ayat dan kisah tersebut maka masih dalam tahap wajar sekiranya ada penolakan atau keengganan dari orang-orang terdekat kita apabila kita ajak kepada kebaikan termasuk suami Anda tersebut. Untuk itu yang Anda harus lakukan adalah bersabar dan bersabar dan jangan berputus asa.

 

BACA JUGA: Berdakwah Kepada Mertua

 

Selain itu jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah agar suami dibukankan hati yang lapang. Sebab hanya Allah lah yang Maha Membolak balikkan hati. Tetap lah istiqomah dan lakukan dengan penuh kesabaran dan bahasa yang santun serta komunikasi yang baik.

 

Ajaklah suami misalnya mengantar Anda ke tempat pengajian di masjid pas jam shalat sehingga suami akan tergerak untuk ikut shalat berjamaah dan berbagai cara yang baik dan santun lainnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait permasalahan rumah tangga berikut solusinya Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Ada pembahasan lebih detail berikut contoh kasusnya dan solusinya yang sesuai dengan bingkai syariah. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 527 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment