Setiap Anak Terlahir Dengan Luar Biasa, Maka Rawatlah Ia

 PERCIKANIMAN.ID – – Sudah dipastikan kalau setiap orang akan memandang bahwa anak-anak yang berperilaku “luar biasa” merupakan bawaan sejak lahir. Sementara semua berpandangan bahwa kelahiran seorang bayi dalam keadaan apa pun tidak bisa dilepaskan dari masa-masa cabang bayi berada dalam kandungan atau dengan kata lain bahwa tidak sedikit pengaruh kondisi kehamilan seorang ibu efeknya terhadap kelahiran sang bayi.

 

Sudah banyak penelitian secara medis, genetika ataupun fsikologi yang dilakukan mengenai hubungan antara kehamilan ibu dengan fakta kelahiran seorang bayi. Secara wajar orang akan menerima dan mempercayai apapun hasil penelitian secara ilmiah tersebut. Namun, tidak jarang juga kita melihat fakta kalau sebagian dari masyarakat khususnya di Indonesia justeru lebih mempercayai bahwa ada kekuatan-kekuatan yang bersifat ghaib yang mempunyai peranan cukup besar dalam mempengaruhi kondisi kelahiran bayi. Lantas bagaimanakah sebenarnya Islam memandang persoalan klenik terkait kelahiran anak dan bagaimanakah solusi terbaik yang harus dilakukan?

 

Sejauh pengalaman keseharian dalam menyaksikan kehamilan para ibu, seringkali mendengar ungkapan-ungkapan dari orang-orang sekitar tentang batasan dan larangan-larangan dalam masa kehamilan yang dianggap akan mempengaruhi sang bayi pada saatnya dilahirkan kelak baik secara fisik mampun mental.

 

Larangan tersebut bervariasi mulai dari aspek makanan, perilaku sampai pada masalah kepercayaan yang secara rasio ilmu pengetahuan tidak dapat diterima oleh akal sehat. Ambil saja sebagai contoh, ibu hamil tidak boleh makan  pisang berdempet, karena dianggap akan melahirkan anak kembar bahkan kembar siam, jangan keluar tengah malam karena akan mudah kesambat jin, sang suami dari si ibu hamil tidak boleh menganiaya hewan-hewan tertentu karena keadaan fisik si hewan yang dianiaya akan menentukan kondisi fisik si bayi, tidak boleh menghina atau mencemooh seseorang karena kondisi orang yang dicemoohkan akan menjadi kondisi sang bayi di kemudian hari dan lain sebagainya.

 

Contoh-contoh larangan yang dikemukan di atas, secara tersendiri menyangkut etika seseorang secara personal bisa saja ada benarnya. Namun ketika dikaitkan dengan keberadaan cabang bayi dalam kandungan sepertinya perlu diluruskan.

 

Bahkan ternyata tidak hanya secara adat turun temurun saja kepercayaan terhadap kondisi kelahiran bayi, ada juga yang coba mengait-ngaitkannya dengan Alquran, contohnya ada keyakinan bila membaca Alquran surat Yusuf akan menjadikan bayi itu tampan bila diperkirakan calon bayinya adalah laki-laki dan bacalah katanya surat Maryam agar bayinya cantik bila perempuan.

 

Jika itu benar adanya, bagaimana kalau ibu hamil yang membaca surat al-Lahab atau ayat-ayat tentang Fir’aun, akankah bayi itu menjadi seperti mereka? Tentu membacanya tidak salah bahkan berpahala. Tapi ketika dikaitkan dengan keadaan bayi dalam kandungan inilah yang perlu diluruskan.

 

Baik al-Quran ataupun hadits Rasulullah Saw. sebenarnya tidak secara eksplisit dan rinci menjelaskan bagaimana perilaku seharusnya bagi para ibu yang sedang menjalani kehamilan. Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah hanya menggambarkan keadaan ibu dalam susah payahnya mengandung sang bayi yang hendaknya menjadi motivasi untuk meningkatkan kesadaran para anak dalam berbakti pada orang tua atau hanya menggambarkan proses penciptaan manusia semasa dalam kandungan.

 

Ini menunjukkan bahwasannya menjalani kehamilan tidak jauh beda dengan umumnya menjalani ketidak-hamilan. Perbedaan hanya pada kehati-hatian dan kewaspadaan agar jangan sampai kehamilan itu bermasalah atau gagal di tengah jalan. Masalah itu tinggal kita tanyakan kepada paramedic yang ahli dibidangnya.

 

Namun, satu hal yang meski diketahui bahwa kelahiran bayi dalam beberapa kondisi baik secara fisik ataupun mental sebenarnya sudah menjadi kehendak Allah sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut :

 

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya… ( QS al-Hajj : 5 )

 

Mengomentari ayat ini, al-Maraghy dalam tafsirnya menegaskan bahwasannya “keberadaan mudlghah ( segumpal daging ) yang kadang dibentuk secara sempurna atau kurang sempurna untuk menunjukkan variasi penciptaan manusia dalam bentuk, rupa, tinggi dan pendeknya.” Variasi penciptaan semata-mata dimaksudkan juga untuk menguji sejauh mana keimanan atas irodah dan taqdir Allah.

 

Kehadiran anak bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan dari setiap manusia. Kedudukan anak sama halnya seperti harta. Ia menjadi “bumbu” kehidupan yang akan menambah aroma hidup menjadi penuh cita rasa. Namun ketahuilah bahwa anak dan harta hanyalah fitnah untuk menguji kehebatan iman kita. Allah berfirman :

 

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. ( QS al-Anfal : 28 )

 

Cobaan atau ujian hanya berujung pada dua hal, yaitu lulus dan tidak lulus. Lulus karena mampu menerima dan membawa anak pada kebaikan hidup, sementara tidak lulus karena anak malah menjadi factor utama orang tuanya menjauh dari perintah Allah.

 

Selain sebagai ujian, seringkali kehadiran anak diistilahkan sebagai amanah atau titipan. Keduanya memiliki makna yang sama dengan anak sebagai ujian. Yang jelas sejauh mana kita menerima anak dan bagaimana menempatkannya secara proporsional agar lulus dalam ujian, bagaimana anak sebagai amanah betul-betul bisa dijaga dengan baik agar tidak bermasalah dengan Yang memberi amanah tersebut.

 

BACA JUGA: Mendidik Hebat Anak Di Zaman Now

 

Kelahiran anak yang kebetulan dalam keadaan kekurangan, bukanlah balasan atas dosa semenjak hamil atau sebelumnya. kenyataan anak yang terlahir tidak sesuai harapan, bukanlah petunjuk ketidak adilan Allah, bukan sama sekali.

 

Itu semua hanya kehendak Allah untuk menguji sejauh mana keimanan yang telah tertancap dalam hati. Terimalah dengan sepenuh hati disertai husnudhan kepada Allah. Semoga apapun yang diberikan Allah, adalah semata kasih sayangNya atas keimanan yang kita miliki. Mari kita tadabburi ayat al_Quran berikut ini :

 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ( QS al-‘Ankabut : 2-3 )

 

Untuk itu agar anak-anak menjadi anak yang luar biasa maka harus disiapkan dengan sebaik-baiknya baik pendidikannya maupun masa depannya secera intelektualnya maupun spiritualnya.Wallahu’alam . [ ]

5

Red: ahmad

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 75 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment