Hukum Zakat Profesi, Adakah Di Zaman Nabi ?

 

Assalamualaikum. Pak Ustadz,  saya mau menanyakan tentang zakat perdagangan. Katanya ada yang bilang zakatnya dibayar 2,5 % dari modal namun ada juga yang bilang nanti dilihat untungnya dalam setahun sampai dengan nasabnya zakat harta yang harus dizakati? Mana yang benar? Kemudian ada yang mengatakan bahwa zakat profesi itu tidak ada, sebab di zaman rasul juga tidak ada profesi yang di zakati. Mohon penjelasannya dan terima kasih. (Maya via fb)

 

Waalaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Zakat adalah salah satu rukum Islam yang harus ditunaikan setiap muslim bagi yang telah memenuhi syarat dan ketentuan. Zakat juga merupakan salah satu pilar ekonomi ummat Islam sehingga selain berdimensi spiritual yakni bentuk ibadah kepada Allah Swt juga mengandung dimensi sosial untuk membantu sesama dalam bidang ekonomi.

 

Fungsi atau hikmah dari zakat ini adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan membersihkan harta dan jiwa kita.  Hal ini seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam Alquran,

 

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

 

Selain zakat fitrah yang biasa kita keluarkan atau tunaikan setahun sekali yakni diakhir Ramadhan atau menjelang Shalat Idul Fitri juga ada beberapa jenis zakat salahnya adalah zakat perdagangan.

 

Zakat perdagangan sendiri menurut mayoritas para ulama, itu disyariatkan dalam Islam. Sementara secara umum atau global menurut para ulama fikih cara menghitung zakat perdangan yaitu dengan menghitung nilai jumlah barang dagangan, kemudian digabung dengan keuntungan bersih setelah dipotong utang dan biaya operasional dagangnya.

 

Setelah itu, 2,5% diambil dari jumlah tersebut untuk dikeluarkan sebagai zakat. Namun nilai barang tersebut dilihat berdasarkan harga ketika jatuh tempo diwajibkannya zakat, bukan berdasarkan harga belinya barang tersebut.

 

Kemudian untuk ketentuannya sendiri sampa seperti zakat harta (maal) lainnya, yakni telah mencapai haul atau waktunya yaitu satu tahun. Kemudian telah mencapai nishab setara dengan 85 gr emas dan besarnya zakat yakni 2,5 %. Untuk zakat perdagangan ini berlaku secara individu atau badan usaha. Jadi usaha itu apakah Anda jalankan sendiri atau tergabung dalam sebuah usaha.

 

Untuk hitung-hitungan detailnya Anda bisa langsung berkonsultasi dengan lembaga zakat atau ulama. Jadi Anda bisa menceritakan tentang usaha Anda, modalnya, keuntungannya termasuk hutang kalau ada.

 

Kemudian masalah zakat profesi yang tidak ada di zaman Nabi. Memang betul di zaman Nabi tidak ada profesi seperti sekarang ini. Istilah zakat profesi sendiri termasuk fikih kontemporer atau kekinian. Namun demikian secara tersirat zakat profesi ini telah ada ketentuannya secara umum, seperti yang difirmankan Allah Swt,

 

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…” ( QS.Al Baqarah: 267)

 

Kemudian dalam ayat yang lain juga disebutkan,  “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.” ( QS. Adz Dzariyat: 19)

 

Menurut ulama kontemporer seperti Dr Yusuf Qordhowi sendiri sangat dianjurkan zakat profesi ini yang dihitung dari pendapatan kasar (brutto). Hal ini tentu untuk lebih menjaga kehati-hatian.

 

Zakat profesi sendiri adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi bila telah mencapai nishab. Kemudian nisabnya  sebesar 5 wasaq / 652,8 kg gabah setara 520 kg beras dan besar zakat profesi ini yaitu 2,5 %.

 

Nah, terkait dengan hitung-hitungan lebih detail sesuai dengan profesi Anda, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan petugas lembaga zakat atau ulama yang sangat paham sehingga Anda mempunyai gambaran yang jelas tentang zakat yang harus Anda keluarkan.

 

Terkait status profesi sendiri menurut para ulama adalah seseorang yang bekerja atau mencari nafkah dari keahliannya atau kepakarannya.Misalnya dokter ahli jantung, dokter ahli ginjal, insinyur ahli tambang, ahli hukum dan sebagainya. Artinya profesi tersebut tidak dimiliki atau tidak bisa dikerjakan kebanyakan atau semua orang. Ia mempunyai spesialisasi yang khusus.

 

Kemudian ada yang berpendapat bahwa zakat profesi ini tidak ada, sebab di zaman Rasul tidak ada kasus atau penjelasannya Rasul langsung. Ini tentu sangat wajar jika ada berpedaan pendapat dan semua pastinya mempunyai dalil atau landasan hukum. Pro kotra tentu sangat manusiawi dan bisa dimaklumi.

 

BACA JUGA: Beli Emas 2 Gram, Apakah Kena Zakat Perhiasan?

 

Anda boleh setuju atau tidak setuju, namun dalam syariat Islam ada infaq. Kalau zakat ketentuannya 2,5 % maka infaq tidak ada ketentuannya. Anda boleh tidak mengeluarkan zakat profesi tetapi silakan keluarkan infaq dari harta Anda. Sebab, kedua-keduanya mempunyai tujuan yang sama, baik zakat atau pun infaq yakni untuk membersihkan harta dan jiwa.

 

Sebenarnya menurut hemat saya cukup simple. Kalau tidak setuju dengan zakat profesi, ada saluran lain yang bisa untuk digunakan yakni infaq. Kalau infaq ini lebih fleksibel baik waktu maupun ketentuannya. Anda boleh mengeluarkan kapan saja dan besarannya.

 

Jangan sampai Anda atau kita tidak setuju dengan adanya zakat profesi sementara infaq, sedekah tidak ditunaikan juga. Itu sama saja dengan menghindari ketentuan. Jadi silakan pilih salah satunya, mau mengeluarkan harta dengan zakat profesi atau infaq dan sekedah, atau keduanya juga dilakukan, zakat profesi juga infaq iya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 451 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment