Tinggal Di Lingkungan Non Muslim, Bertahan Sambil Dakwah atau Pindah ?

Assalamualaikum. Pak Ustadz, suami saya mendapat promosi jabatan baru di perusahaannya dan  ditempatkan di luar kota. Setelah diskusi akhirnya kami sepakat untuk pindah rumah dan pihak perusahaan juga telah menyiapkan rumah untuk kami. Namun masalahnya di rumah baru tersebut lingkungannya mayoritas non muslim sehingga tidak ada fasilitas tempat ibadah (masjid). Saya sendiri merasa kurang nyaman bergaul dengan tetangga yang non muslim demikian juga anak-anak saya. Suami sendiri pingin bertahan setahunan dan mencoba sambil berdakwah. Namun saya sudah kurang nyaman. Menurut ustadz bagaimana sebaiknya? Mana yang lebih baik pindah atau bertahan sambil berdakwah? Mohon nasihatnya dan terima kasih ( Layla via email)

 

 

Waalaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Lingkungan atau tetangga tentu sangat penting dalam kehidupan berkeluarga karena akan berpengaruh besar dalam kehidupan beragama kita juga.

 

Tentu saja hidup dalam lingkungan dan orang-orang yang bisa saling menguatkan dan saling menasehati  dalam kehidupan kita akan sangat membantu kita dalam ketaatan dalam ibadah. Betapa bahagianya jika kita tinggal di lingkungan di mana tetangga-tetangga kita orang-orang shalih dan shalihah yang saling mengajak kepada kebaikan. Kita bisa saling menasehati, saling tolong menolong, saling mengambil teladan dan mengajak kepada kebaikan dan ketakwaan.

 

Tentu Anda masih ingat dengan kisah hikmah yang menceritakan bahwa orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi atau parfum, tubuhnya akan ikut terbawa harum. Sementara, orang yang bergaul dengan pandai besi, sedikit banyak pakaiannya akan berlubang karena tepercik api.

 

Dalam sebuah hadits Rasululah Saw menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman atau tetangga dalam hidup kita. Rasul bersabda,

 

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim )

 

Begitulah perumpamaan yang terjadi pada manusia dalam hal interaksinya dengan lingkungan di sekitarnya. Jika lingkungan di sekitar kita baik, maka, insya Allah, kita akan terbawa menjadi orang yang baik atau paling tidak malu untuk berbuat hal-hal yang tidak baik. Jika lingkungan sekitar kita tidak baik, maka yakinlah bahwa kita tidak akan segan untuk berbuat tidak baik.

 

Mengenai lingkungan yang kondusif, bisa kita dapatkan dengan dua cara. Pertama mencari lingkungan yang memang sudah terkondisikan pada kebaikan sehingga kita dapat dengan mudah menerapkan pola kehidupan keluarga sakinah yang telah dijelaskan dibab-bab sebelumnya. Atau, cara kedua adalah dengan berjuang mengubah lingkungan di sekitar kita yang tidak atau kurang baik menjadi lingkungan yang kondusif untuk kita membangun keluarga sakinah.

 

Selain dengan usaha untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, kita juga perlu memanjatkan doa agar senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam mewujudkannya, yaitu dengan membaca dan memahami doa berikut.

 

Ya Tuhanku, berikan ilmu kepadaku dan masukkan aku ke golongan orang-orang shaleh, jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahku, jadikan aku orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, ampunilah ayahku, sesungguhnya ia termasuk orang sesat, janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati bersih.” (Q.S. Asy-Syu‘arā’ [26]: 83-89)

 

Jadi, ketika kita akan membeli rumah, perhatikan juga lingkungan di sekitarnya. Karena, lingkungan yang buruk bisa menjadi bibit persoalan keluarga yang rumit untuk dipecahkan. Meski demikian, saat ini lingkungan yang buruk tidak bisa dikambinghitamkan begitu saja atas permasalahan yang menimpa keluarga.

 

Kita diperintahkan untuk mencari lingkungan yang baik sebagaimana nasehat seorang ulama di masa umat sebelum kita ketika menasehati seorang yang memiliki setumpuk dosa karena telah membunuh seratus orang yang tidak berdosa.

 

Pergilah ke kampung itu karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Alloh. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Jangan pernah kembali ke kampungmu karena kampungmu adalah lingkungan yang buruk.” (HR Muslim no 7184).

 

Kalau dulu lingkungan fisik (seperti sekolah, tetangga sekitar, tempat kerja, atau tempat bermain) menjadi faktor pengaruh perilaku kita dan anak-anak, saat ini kita dan anak-anak bisa rusak karena lingkungan yang masuk lewat alat-alat informasi, seperti televisi atau internet.

 

Mempunyai lingkungan atau tetangga yang baik, yang dalam hal ini bukan hanya baik akhlak saja melainkan baik agamanya tentu menjadi sumber kebahagiaan. Orang non muslim, mungkin saja mempunyai akhlak yang baik sebagai seorang manusia. Namun tentu mereka tidak akan mengajak dalam  ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Swt sesuai ajaran Islam.

 

BACA JUGA: Cara Menasihati Mertua Suka Bergosip

 

Lalu bagaimana baiknya? Bertahan sambil berdakwah atau pindah saja? Tentu saja dalam hal ini Anda dan suami lebih paham akan kesiapan mental. Niat suami Anda untuk bertahan dalam lingkungan non muslim sambil berdakwah tentu pilihan dan sikap yang mulia.

 

Namun yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan Anda baik mental maupun keimanan dan ilmu keislaman. Jika mampu dan kuat mempertahankan keimanan dan bisa mendakwahi mereka yang non muslim tentu sangat bagus dan mulia. Namun sekiranya tidak mampu dan dikhawatirkan akan terpengaruh bahkan hingga bisa mengurangi keimanan atau hingga berpindah keyakinan maka berpindah dari lingkungan yang mayoritas non muslim itu lebih baik.

 

Sekiranya Anda dan suami serta anak-anak tinggal disitu bisa bertambah tekun ibadah, rajin belajar agama bahkan bisa mengajak mereka atau menimal mempengaruhi mereka yang non muslim tentu itu menjadi hal yang baik. Namun sebaliknya, jika tinggal disitu membuat Anda dan keluarga makin lalai dari ibadah, makin jauh dari Allah maka menurut hemat saya, Anda pindah lingkungan yang lebih islami tentu itu lebih baik.

 

Sekali lagi cobalah diskusikan lagi dengan suami atau minta pendapat orangtua atau saudara Anda. Pikirkan juga dampak buruk dari anak-anak Anda yang bergaul atau bermain dengan anak-anak yang non muslim yang bisa berpengaruh pada kehidupan agamanya.

 

Pastinya tinggal di lingkungan non muslim mempunyai tantangan dan godaan yang lebih besar. Jika mempunyai tetangga yang sama-sama muslim tentu bisa saling mengingatkan, misalnya saat adzan, saat Ramadhan dan sebagainya. Apalagi Anda sebutkan disitu tidak ada masjid sehingga anak-anak Anda tidak bisa shalat berjamaah di sekitar lingkungan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

 

 

 

(Visited 295 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment