Hubungan Antara Ikhtiar Doa, Apakah Takdir Buruk Juga Kehendak Allah?

berdoa khusyuk

 

Assalamualaikum.Ustadz mau bertanya tentang hubungan antara takdir, doa dan ikhtiar. Apakah kalau kita berdoa yang baik namun tidak dikabul Allah dan justru dapat yang buruk ini adalah takdir? Bagaimana jika doa dan ikhtiar malah mendapat keburukan? Adakah doa agar terhindar dari takdir buruk? Mohon penjelasannya. (Dinda via email)

 

 

Waalaikumsalam ww . Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Percaya kepada takdir termasuk ke dalam Rukun Iman yang wajib kita yakini. Hal ini seperti yang Rasulullah Saw. sabdakan,

 

Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan buruknya.” (H.R. Muslim).

 

Takdir berarti ukuran, ketentuan, dan kepastian. Kata takdir banyak disebut dalam Al-Qur’an, di antaranya, “Allah menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat serta menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-An‘ām [6]: 96).

 

Dan matahari berputar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Q.S. Yā’ Sīn [36]: 38).

 

Dengan takdir-Nya, Allah menciptakan segala sesuatu di alam raya ini; beragam bentuk dan warna baik benda mati maupun makhluk hidup; manusia, binatang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan bunga-bunga; ada bunga mawar yang berwarna merah, bunga anggrek berwarna ungu, warna hijaunya dedaunan, putihnya salju, beningnya air hujan, dan macam-macam paduan warna yang tertata rapi dan serasi yang sedap dipandang mata.

 

Allah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Allah juga yang me-nurunkan air hujan dari langit, lalu Allah hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 22).

 

Tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya serta menghiasinya dan tidak ada cacat sedikit pun? Bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh serta Kami tumbuhkan tanam-tanaman yang indah.” (Q.S. Qāf [50]: 6-7).

 

Harun Yahya memberikan ilustrasi takdir, dengan mengatakan, “Bayangkan Anda sedang melangkah memasuki toko dan melihat kain dengan berbagai desain dan model dengan warna-warni yang selaras satu sama lain. Tentu saja, desain kain-kain itu tidak berada secara kebetulan tetapi ada yang secara sadar menggambar rancangannya, menentukan warna-warninya. Bukan diperoleh secara kebetulan akibat ada cat-cat yang tumpah di atas kain itu.”

 

Dalam Alquran disebutkan  “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. Al-Qamar [54]: 49).

 

Jadi, Allah Swt. menciptakan alam dengan seluruh isinya atas takdir-Nya dengan penuh keseimbangan.

 

Merujuk pada ayat-ayat ini, bisa disimpulkan bahwa secara biologis manusia terikat takdir (ketetapan Allah) karena dia merupakan bagian dari kesemestaan. Alam semesta dan benda-benda tidak akan diminta pertanggungjawaban karena tidak diberi “kehendak”, semuanya “tunduk, patuh, taat, tidak punya kehendak apa pun”. Jadi, alam semesta dan benda-benda hanya tunduk pada takdir atau aturan yang Allah Swt. telah tetapkan.

 

Sementara manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, karena manusia bukan sekadar taat pada takdir yang telah Allah tetapkan, namun diberi potensi naluri, indra, intelektual, dan spiritual untuk melakukan sesuatu, yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan untuk “berkehendak”. Di sinilah perbedaan antara takdir yang ada pada alam dan pada manusia. Manusia diberi peluang untuk berikhtiar, untuk berusaha mencari takdir yang paling baik bagi dirinya.

 

Ketika Umar bin Khattab r.a. melakukan perjalanan menuju Syam, tersebar berita bahwa di sana sedang terjadi wabah cacar. Mendengar berita tersebut, Umar r.a. memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya dan kembali ke Madinah

 

Melihat keputusan Umar r.a. itu, Abu Ubaidah r.a. berkata, “Apakah Anda lari dari takdir Allah?” Umar r.a. menjawab, “Benar, kami lari dari takdir Allah untuk mendapatkan takdir Allah lainnya.”

 

Ucapan Umar r.a. ini menggambarkan bahwa kita diberi pilihan dengan ikhtiar atau usaha untuk memilih takdir yang paling baik untuk diri kita. Karena itu, keimanan kepada takdir idealnya melahirkan semangat kerja keras dan ikhtiar yang tiada putus dalam mewujudkan suatu harapan atau cita-cita.

 

BACA JUGA: 7 Waktu Mustajabnya Doa

 

Sementara doa dan ikhtiar adalah sarana untuk memasrahkan diri bahwa tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah. Doa ini penting dan tidak boleh dianggap sepele. Allah Swt akan mengabulkan hamba-hambanya yang berdoa kepada-Nya.

 

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka menaati perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” ( QS.Al Baqarah: 186)

 

Dalam ayat lain juga diterangkan,

 

Bukankah Dia (Allah) yang Mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan Menghilangkan kesusahan.” (QS.An-Naml:62)

 

Dan masih banyak lagi tentang anjuran untuk berdoa ini. Intinya antara doa,ikhtiar dan takdir adalah berkesinambungan.

 

Kesimpulannya, kita harus yakin bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan takdirnya. Kita harus yakin bahwa manusia diberi pilihan untuk memilih takdir yang paling baik untuk dirinya. Maka, keimanan pada takdir harus mendorong untuk selalu berdoa dan berusaha sebaik mungkin, sementara hasilnya diyakini merupakan takdir Allah. Dan yakinlah bahwa Allah Swt. tidak akan menzalimi hamba-Nya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Terkait dengan doa dan tuntunannya ini Anda dan bapak ibu serta sahabat sekalian bisa baca buku saya yang berjudul “DOA ORANG-ORANG SUKSES”. Di dalamnya ada contoh-contoh doa berikut dalil atau sumbernya serta tata cara berdoa agar dikabul Allah Swt. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

960

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

 

(Visited 809 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment