Hukum Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Izin, Boleh atau Terlarang?

Assalamualaikum. Pak Ustadz, saya sudah berumahtangga dan mempunyai anak. Suami kerja dan saya juga membantu menambah penghasilan dengan berjualan kecil-kecilan. Namun suami saya mempunyai sifat pelit atau susah kalau dimintai uang. Kadang dalam keadaan mendesak atau darurat saya suka mengambil uang suami tanpa izin. Apakah cara ini berdosa? Bagaimana menyadarkan suami yang pelit? Mohon penjelasan dan nasihatnya. (H via fb)

 

 

Waalaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Seorang suami adalah pemimpin atau kepala dalam rumah tangga. Salah satu tugas seorang pemimpin adalah harus memperhatikan kebutuhan dan juga kesejahteraan orang yang dipimpin. Kalau dalam kelurga tentunya istri dan anak-anaknya.

 

Selain mempunyai hak, seorang suami juga mempunyai kewajiban harus ditunaikan terhadap istri dan anak-anaknya. Dalam sebuah hadits ada seorang sahabat yang bernama Khaulah binti Aswad mendatangi Rasulullah Saw. dan bertanya tentang hak seorang istri. Kemudian Rasulullah Saw. menjawab,

 

Kewajiban suamimu adalah memberi makan dengan kualitas makanan yang dia makan, memberimu pakaian dengan kualitas yang dia pakai, tidak menampar wajah (tidak melakukan KDRT), dan tidak membentak”.

 

Berdasarkan hadits tersebut, kita bisa menjabarkan bahwa kewajiban suami terhadap istri juga anak-anaknya adalah memberikan nafkah lahir atau hal yang terlihat dan terasa, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Alquran,

 

Hendaklah orang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya dan orang yang terbatas rezekinya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (Q.S. Aţ-Ţalāq: 7)

 

Suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya, sekecil apa pun nafkah yang dia dapat. Dan, seorang istri harus memahami dan menerima keadaan suami ketika diberi ujian rezeki yang sempit oleh Allah Swt. Karena, ketika keduanya saling mengerti dan menerima, maka keindahan yang akan didapatkan. Selain itu, percayalah bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya.

 

Seorang suami wajib memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan kepada istrinya, dan pemberian tersebut harus disesuaikan dengan kemampuannya. Artinya istri tidak boleh menuntut pemberian nafkah diluar kesanggupan suami,

 

Kewajiban ayah, yaitu memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik. Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya…” (Q.S. Al-Baqarah : 233)

 

Dalam ayat yang lain Allah Swt menjelaskan,

Tempatkanlah para istri di tempat kamu bertempat tinggal sesuai kemampuanmu dan jangan kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hatinya. Jika mereka (istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, berilah nafkah sampai mereka melahirkan…” (Q.S. Aţ-Ţalāq [65]: 6)

 

Di antara faktor kebahagiaan dalam rumah tangga adalah terpenuhinya kebutuhan material, tempat tinggal, pakaian, kesehatan, dan ilmu pengetahuan serta kebutuhan lainnya yang bersifat jasmani maupun rohani.

 

Semua itu sebagai media untuk mencapai kehidupan yang progresif dan prestatif, mampu menjalani kehidupan dengan lebih efektif dan efisien dalam mencari solusi setiap permasalahan yang dialami, baik sebagai anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat, dan sebagai manusia yang bertugas menjadi hamba dan khalifah Allah Swt. di bumi ini.

 

Lalu bagaimana jika seorang suami yang pelit dan tidak memberi nafkah? Apakah istri mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya atau tanpa izin suami juga berdosa?.

 

Tentu saja suami yang pelit dan tidak memberi nafkah kepada istri adalah perbuatan tercela dan berdosa. Pelit untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan mubazir mungkin masih bisa ditolerir namun kalau pelit memberi uang atau nafkah kepada istri tanpa alas an yang dibenarkan agama, tentu ini dilarang. Apalagi harus suami itu memberi uang atau nafkah kepada istrinya.

 

Apakah istri berdosa jika terpaksa mengambil uang suami tanpa izin? Nah, untuk menjelaskan hal ini kita bisa membaca dan mempelajari sebuah hadits yang di sampaikan dari ‘Aisyahra, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang menemui Rasulullah Saw, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?”

 

Mendengar pengaduan tersebut lalu Rasulullah Saw bersabda,

Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari dan  Muslim)

 

Menurut ulama ahli hadits (muhaditsin) berpendapat jika ada suami yang punya kewajiban memberi nafkah pada istri lantas tidak diberi karena sifat pelitnya, maka istri boleh mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Karena seorang suami itu wajib meberi nafkah pada istri dan anak-anaknya.

 

Para ulama juga mengglobalkan hal ini, bukan hanya perihal nafkah. Juga termasuk hal lainnya yang ada di situ kewajiban memberi seorang suami, namun tidak dipenuhi dengan baik. Hanya para ulama menambahkan bahwa mengambil dengan cara yang ma’ruf, maksudnya adalah sesuai kadar yang dibutuhkan untuk keperluan saat itu. Misalnya di dompet atau laci suami ada uang satu juta sementara kebutuhan Anda hanya seratus ribu, maka Anda cukup mengambil seratus ribu dan tidak mengambil semuanya.

 

BACA JUGA: Bolehkah Istri Menolak Ajakan Suami?

 

Lalu bagaimana mengatasi suami yang pelit? Dalam ini tentu harus ditelusuri atau digali lebih dulu. Apakah suami pelit itu karena istri boros dan belanja berlebihan atau sebab lain. Kalau suami pelit disebabkan istri jika diberi uang suka belanja berlebihan dan boros maka yang perlu diperbaiki adalah sifat istri juga.

 

Kalau suami pelit itu karena sifatnya atau kebiasaannya sejak lama maka perlu dinasihati secara pelan-pelan dan bijaksana sehingga ia sadar dan paham bahwa sifat pelit itu tidak baik bahkan dalam berumah tangga bisa jadi dosa karena tidak menafkahi istri. Anda perlu komunikasi dengan suami secara baik-baik, sopan dan santun. Sampaikan keluhan Anda dengan bahasa yang lembut dan tidak dengan emosi.

 

Jika perlu Anda bisa minta bantuan pada orang ketiga, misalnya orangtua, saudara atau orang lain yang Anda percaya untuk memberi nasihat kepada suami Anda tersebut. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1,399 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment