Hukum Memakai Uang Titipan, Boleh atau Terlarang ?

Assalamualaikum. Pak Ustadz, mohon nasihat dan penjelasannya. Dalam sebuah organisi saya diamanahi sebagai bendahara. Sebagai bendahara yang memegang uang kadang saya suka menggunakan uang tersebut karena arurat tapi belum berbicara dengan pengurus lain. Kemudian saya  kembalikan dengan utuh. Saya juga tidak berniat untuk menyalahgunakan uang tersebut (korupsi) dan sebenarnya saya sudah mengundurkan diri karena godaannya sungguh berat. Namun pengurus dan anggota tidak setuju saya mundur. Bagaimana hukumnya menggunakan uang tersebut, apakah saya berdosa meski tidak ada yang kurang? Terima kasih ( E via email)

 

 

Waalaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Boleh dikata apa yang Anda kerjakan sebagai seorang bendahara adalah mengelola atau menjaga harta atau barang titipan (al wadi’ah). Dalam hal ini Anda diamanahi untuk menjaga uang dari organisasi yang Anda kelola atau dirikan tersebut.

 

Secara umum menurut para ulama mengemukakan prinsip atau dalam kaidah fikihnya,tidak boleh seseorang memanfaatkan kepemilikian orang lain tanpa izin darinya atau pemiliknya. Dalam hal ini uang yang Anda pegang tersebut bukan milik Anda melainkan milik anggota sehingga dalam penggunaannya Anda harus meminta izin kepada pengurus atau anggota lainnya.

 

Apalagi Anda menggunakan uang tersebut bukan untuk urusan organisasi yang Anda ikuti melainkan untuk keperluan Anda pribadi walaupun dalam keadaan darurat. Hal ini berdasarkan hadits yang disampaikan Rasulullah yang bersabda,

 

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

 

Tidaklah halal harta seseorang kecuali dengan ridho pemiliknya” (HR. Ahmad .Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa hadits tersebut shahih lighoirihi).

 

Jadi hukum asalnya Anda tidak boleh menggunakan uang titipan tersebut tanpa ada izin dari orang yang memberi amanah kepada Anda dalam hal ini pengurus atau anggota lainnya. Apabila Anda sudah terlanjur memakainya, menurut hemat saya maka Anda harus meminta izin dan meminta kehalalan dari pengurus atau anggota meski Anda telah mengembalikan uang tersebut seacara utuh.

 

Tentu dalam keadaan darurat Anda boleh memakai uang tersebut dengan maksud tidak untuk korupsi atau menyalahgunakan amanah tersebut, misalnya Anda atau keluarga Anda ada yang sakit dan butuh uang segera maka menurut hemat saya, Anda boleh menggunakannya dalam hal ini statusnya Anda pinjam. Ketika Anda sampaikan kepada pengurus atau anggota lainnya, insya Allah mereka akan paham dan ridho uang tersebut Anda pakai dulu untuk berobat.

 

Namun tentu yang lebih baik lagi Anda mencatatnya atau menulisnya dan minimal menyampaikan kepada keluarga Anda bahwa Anda menggunakan uang tersebut. Sebab ini penting agar jangan sampai jika ada kejadian mendadak,misalnya Anda meninggal dan Anda membawa hutang. Namun kalau Anda sampaikan sebelumnya maka akan menjadi tanggungjawab keluarga Anda untuk mengembalikannya.

 

Sebab yang namanya musibah dalam hal ini meninggal kan sesuatu yang pasti namun kita tidak tahu kapan dan dimananya. Jadi sekali lagi ini penting untuk Anda sampaikan. Selain itu juga untuk jaga-jaga sekiranya Anda lupa. Ketika tiba masa laporan pertanggungjawaban tentu Anda akan malu jika diketahui oleh pengurus atau anggota lainnya bahwa Anda menggunakan uang tersebut dan lupa mengembalikannya. Padahal Anda tidak bermaksud untuk mengkorupsinya. Jadi ini juga salah satu upaya untuk menjaga harga diri dan martabat Anda dan keluarga.

 

Namanya juga orang banyak, bisa ada yang mengerti juga banyak yang tidak mau mengerti, yang mereka tahu uang tersebut Anda gunakan tanpa izin. Nah, menurut hemat saya, situasi ini yang harus Anda jaga atau Anda hindari.

 

BACA JUGA: Kredit Mobil Untuk Usaha, Apakah Termasuk Riba ?

 

Kalau Anda merasa berat menjadi bendahara karena godaan tersebut, menurut hemat saya, Anda sudah benar mengajukan diri untuk mundur atau minta diganti dengan yang lainnya. Tentu yang namanya uang pastinya godaan itu macam-macam, mungkin tidak dari Anda sendiri namun bisa dari  anak atau suami.

 

Ini saya sampaikan tentu tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat saya kepada Anda dan keluarga Anda. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

960

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 516 times, 4 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment