6 Bentuk Syirik, Adakah Yang Pernah Kita Lakukan ?

PERCIKANIMAN.ID – – Syirik, dan, dosa syirik, adalah dosa besar. Syirik juga merupakan parasit keimanan yang paling berbahaya. Allah Swt. mengklasifikannya sebagai kezaliman besar, “…Sesungguhnya, menyekutukan Allah itu kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqmān [31]: 13). Nabi Saw. bersabda, “Inginkah aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah.” (H.R. Muslim)

 

“Sesungguhnya, siapa pun yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Q.S. Al-Mā’idah [5]: 72)

 

Syirik artinya menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah Swt. Inilah makna syirik yang secara langsung dipahami ketika ia disebut dalam Al-Qur’an dan sunah. Karena itu, siapa pun yang menyembah sesuatu selain Allah atau menyembahnya bersamaan dengan menyembah Allah, dia telah menjadi musyrik. Allah Swt. berfirman,

 

Mereka menyembah selain Allah, yaitu sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana ataupun memberi manfaat kepada mereka. Mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi pertolongan kepada kami di hadapan Allah…’” (Q.S. Yūnus [10]: 18)

Perbuatan syirik memiliki bentuk yang sangat beragam. Di antaranya sebagai berikut.

 

  1. Sihir

Kata sihir dalam bahasa Arab digunakan untuk sesuatu yang tersembunyi dan sangat halus. Dikatakan demikian karena biasanya sihir dilakukan secara sembunyi-sembunyi dengan efek yang berpengaruh secara halus.

 

Allah Swt. menyuruh kita untuk berlindung dari sihir dan tukang sihir dalamfirman-Nya, “Dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup-niup buhul.” (Q.S. Al-Falaq [113]: 4). Maksudnya, wanita-wanita tukang sihir yang meniup buhul-buhul tali untuk menyihir orang lain.

 

Sihir digolongkan syirik karena ia terjadi dengan pertolongan setan. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang membuat buhul tali kemudian meniupnya, maka ia telah menyihir, dan siapa yang menyihir maka ia telah menjadi musyrik.” (H.R. Nasa’i)

 

  1. Ramalan

Ramalan artinya memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Ditinjau dari jenisnya, ada dua macam ramalan. Pertama, Ramalan Ilmiah, yaitu ramalan yang dilakukan oleh para ilmuwan berdasarkan fakta dan data yang dimiliki. Misalnya ramalan cuaca atau ramalan tanggal kelahiran anak yang biasa dilakukan oleh para dokter kandungan. Ramalan seperti ini tidak termasuk syirik karena tidak melibatkan jin tapi berdasarkan pada analisis ilmiah.

 

Kedua, Ramalan Mistik, yaitu ramalan berdasarkan pada informasi jin. Misalnya, ramalan tentang jodoh, kematian, dll. Padahal urusan jodoh, rezeki, dan kematian hanyalah Allah Swt. Yang Mahatahu. Ramalan Mistik hukumnya syirik karena melibatkan jin, sedangkan kita dilarang untuk minta tolong pada jin (lihat Q.S. Al-Jinn [72]: 6)

 

Lalu, bagaimana hukum orang yang memanfaatkan jasa dukun peramal alias paranormal? Menurut Imam Ahmad, pelakunya dinyatakan kafir dengan tingkat kafir kecil, sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Siapa yang mendatangi seorangdukun peramal (paranormal), lalu mempercayai apa yang ia katakan maka dia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad Saw.” (H.R. Abu Daud). “Siapa yang mendatangi seorang dukun peramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian ia percaya pada yang ia katakan maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (H.R. Imam Muslim).

 

  1. Nusyrah

Ibnul Atsir berkata, “Nusyrah adalah semacam pengobatan yang dilakukan terhadap yang diduga kemasukan jin.” Pendapat lain menyebutkan bahwa nusyrah adalah mengeluarkan sihir dari seseorang yang terkena sihir.

 

Ada dua macam nusyrah. Pertama, mengeluarkan sihir dari seseorang yang terkena sihir dengan sihir yang sama. Ini hukumnya haram sebagaimana sabda Nabi Saw., “Janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram.” (Al Albani, Silsilat al ahaditsu al shahihah Vol. IV, hal.173). Kedua, mengeluarkan sihir dari seseorang dengan doa yang dibolehkan dan terdapat dalam Al-Qur’an dan sunah. Ini hukumnya mubah atau boleh.

 

  1. Tanjim (Ramalan Bintang)

Tanjim artinya upaya mengetahui sesuatu dengan mengikuti isyarat bintang-bintang dan biasa disebut ramalan bintang. Jenis peramalan bintang seperti ini hukumnya jelas haram sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw.,

 

“Barangsiapa yang mengambil pancaran sinar dari sekumpulan bintang dan menjadikannya sebagai dasar ramalan peristiwa gaib di bumi maka sungguh ia telah mengambil pancaran sinar dari sekumpulan sihir.” (H.R. Abu Daud).

 

Kalimat … dan menjadikannya sebagai dasar ramalan peristiwa gaib di bumi … menggambarkan bahwa kalau bintang-bintang itu dijadikan isyarat untuk meramal hal-hal gaib seperti kematian, jodoh, rezeki, hukumnya haram. Namun kalau dijadikan untuk meramal cuaca atau posisi bumi, hal itu diperbolehkan.

 

  1. At-Thiyarah

At-Thiyarah dalam bahasa Arab berarti pesimis atau optimis terhadap sesuatu. Thiyarah berasal dari kebiasaan orang-orang Arab untuk menjadikan burung yang lewat di depan atau belakang rumah mereka sebagai tanda-tanda keberkahan atau petaka. Pada sebagian masyarakat Indonesia, ada keyakinan kalau ada kupu-kupu, bakal ada tamu. Kalau mimpi rumah kebakaran, akan naik pangkat. Ini semua disebut thiyarah dan hukumnya syirik, sebagaimana sabda Nabi Saw., “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (H.R. Abu Daud).

 

  1. Tama’im

Kata tama’im adalah bentuk jamak dari tamimah, yaitu sesuatu yang dikalungkan ke leher atau bagian dari tubuh seseorang yang bertujuan mendatangkan manfaat atau menolak bala (bahaya). Bentuk jimat bisa berupa cincin, keris, tongkat, bahkan ada juga lembaran yang bertuliskan sejumlah ayat Al-Qur’an. Zaman Jahiliah, orang-orang Arab biasa menggunakan jimat bagi anak-anak mereka sebagai perlindungan dari sihir/guna-guna dan semacamnya. Hukum memakai jimat adalah syirik sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Sesungguhnya jampi, jimat, dan mantera-mantera adalah syirik.” (H.R. Ibnu Majah)

 

BACA JUGA: Percaya Pada Hari Baik Atau Hari Buruk, Syirik Atau Tradisi?

 

Jimat diharamkan oleh syariat Islam karena ia mengandung makna keterkaitan hati dan tawakal kepada selain Allah dan membuka pintu bagi masuknya kepercayaan-kepercayaan yang dapat mengantarkan seseorang pada syirik besar. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang bergantung kepada sesuatu maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada sesuatu itu.” (H.R. Tirmidzi dan Imam Ahmad).

 

Itulah sejumlah fenomena kemusyrikan yang cukup merebak di masyarakat. Semoga kita dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidaktahuan. Karena itu, doa ini sangat penting untuk kita amalkan karena syirik merupakan kezaliman yang sangat besar. [ ]

 

Disadur dari buku Doa Orang-orang Sukses karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si.

5

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

950

(Visited 449 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment