Menghadapi Mertua Suka Bergosip, Bagaimana Cara Menasihatinya?

mertua dan menantu

 

Assalamualaikum. Pak Aam, saat ini saya masih tinggal bersama mertua. Namun yang membuat kurang nyaman mertua mempunyai kebiasaan bergosip atau ghibah dengan tetangga. Bagaimana caranya menyikapi orangtua/mertua yang hampir setiap hari kerjaannya menggunjing, bahkan tidak jarang sampai menghina orang lain? Jika ditegur atau diadukan ke suami, saya takut akan timbul permasalahan yang lebih besar. Mohon nasihatnya. ( Nia via email)

 

 

Waalaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Kita menyadari bahwa ghibah atau bergosip memang merupakan perbuatan dosa yang hampir setiap orang melakukannya atau bahkan menyukainya.

 

 

Berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ghibah artinya menyebutkan (keadaan) seseorang yang tidak disenanginya ketika orang tersebut tidak ada di tempat.

 

 

Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan. Dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 12 disebutkan bahwasannya ghibah pada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudara tersebut.

 

Hai, orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk. Sesungguh¬nya, prasangka buruk itu dosa. Jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian lain. Apakah kamu mau memakan daging saudaramu yang sudah mati? Tentu kamu jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”

 

 

Ditinjau dari sudut pandang dosa, boleh jadi hal ini menunjukkan besarnya dosa ghibah. Dari sudut pandang kemanusiaan, tentu perilaku yang diibaratkan dengan memakan bangkai tersebut sangatlah menjijikkan dan tidak normal.

 

 

Meski begitu, para ulama sepakat bahwa ada enam hal yang memperbolehkan kita membicarakan orang lain. Keenam hal tersebut yaitu:

  1. Membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut.
  2. Membicarakan orang yang berbuat munkar kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemunkaran tersebut.
  3. Membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut).
  4. Membicarakan orang untuk dijadikan cermin dalam kehiduan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan).
  5. Mengumumkan atau menerangkan kefasikan seperti pemakaian narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan.
  6. Mengetahui identitas orang yang diperlukan karena tidak cukup hanya dengan mengenal namanya saja.

 

 

Jadi, jika kita mendapati siapa pun yang sedang ber-ghibah atau bergosip, termasuk dengan mertuda maka hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menasihati secara baik-baik agar orang yang bersangkutan  menghentikan perbuatannya.

 

 

Jika tidak juga berhenti atau memang kita tidak mampu menghentikannya, maka sekurang-kurangnya hindarilah pembicaraan tersebut. Hal ini merujuk pada dalil umum yang disebutkan dalam hadits berikut,

 

 

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim).

 

BACA JUGA: Cara Memberi Nasihat Kepada Mertua

 

Nah, terkait dengan mertua Anda sendiri tentu wajar jika Anda merasa segan atau tidak enak jika memberi nasihat langsung maka itu saran saya Anda harus mencoba membicarakan dengan suami.

 

 

Mungkin suami Anda akan kurang nyaman atau bisa jadi tidak suka namun tentu ini bertujuan untuk kebaikan. Atau jika Anda tidak berani menyampaikan kepada suami sesekali ajak suami Anda di rumah agar bisa langsung menyaksikan atau mendengar orangtuanya atau mertua Anda dalam bergosip. Bagaimana pun yang mananya kemunkaran harus tetap dicegah minimal dengan nasihat, seperti yang diperintahkan Allah dalam Alquran,

 

“Sungguh, manusia berada dalam keru­gian,kecuali orang-orang beriman dan me­nger­jakan kebajikan, serta saling mena­sihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS.Al Asr: 2-3)

 

Jadi yang namanya nasihat itu tetap harus dilaksanakan sekali pun menasihati mertua atau orangtua. Jangan biarkan mertua Anda terus berbuat dosa dengan membiarkannya terus bergosip atau ghibah.

 

Dengan cara tersebut mudah-mudahan suami Anda bisa mengerti dan tidak tersinggung. Anda cuma perlu menyampaikan kepada suami bahwa Anda sendiri sebenarnya sangat menyayangi dan menghormati orangtuanya yang juga mertua Anda sendiri. Kalau yang menasihati suami Anda atau anaknya sendiri maka mertua Anda tidak tersinggung. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[ ]

 

5

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

960

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

 

(Visited 194 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment