Meluruskan Shaf Dalam Shalat, Yang Rapat Bahu atau Kaki ?

 

 

Assalamualaikum, Pak Aam terkait perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat itu bagaimana? Terus terang kadang saya suka risih ketika kaki berdekatan dan kurang nyaman. Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Riva via email)

 

Waalaikumsalam w.w. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perintah untuk meluruskan dan merapikan atau merapatkan barisan atau shaf dalam shalat ini sering diingatkan oleh imam sebelum memulai shalat berjamaah.

 

Hal ini mengacu pada sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, dimana Rasulullah Saw  mengucapkan atau memerintahkannya ketika hendak shalat berjamaah,

 

 

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

 

”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim).

 

 

kebiasan didalam masyarakat kita bahwa yang harus dirapatkan adalah kaki dengan kaki orang yang disebelahnya. Padahal menurut beberapa ulama atau hali hadits bahwa yang harus dirapatkan itu pundaknya bukan kakinya.

 

Hal ini dapat kita pahami dari sebuah hadi dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw memerintahkan,

 

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ

 

Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)

 

Jadi menurut hemat saya, yang namanya merapatkan shaf itu bahunya bukan kakinya. Sebab, kalau kaki nantinya akan terjadi mengejar-ngejar kaki orang sehingga dalam bahasa Sunda nya akan jadi ngajegang.

 

Ini saya sebutkan tanpa bermaksud apa dan saya menghormati orang yang suka merapatkan kakinya ke jamaah disebelahnya. Jadi sekali lagi bahu yang didekatkan bukan kaki yang dirapatkan.

 

BACA JUGA: Apakah Shalat Sendiri Harus Adzan?

 

Sebab, kalau kaki, umpamanya jamaah yang disebelah kita tidak mau maka dia akan menghindar dan kaki kita akan terus mengejarnya sehingga akan terjadi ngajegang tersebut. Tapi kalau pundak, insya Allah akan stabil jika dirapatkan atau didekatkan.

 

Bagi jamaah yang merasa geli atau risih ketika didekati kaki jamaah sebelahnya itu sangat wajar dan mungkin belum terbiasa. Anda harus menghormatinya. Kemudian bagi jamaah yang berada diselahnya, menurut hemat saya, sebaiknya tidak perlu mengejarnya hingga dapat bersentuhan kaki. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini, gerakan dan bacaannya  lebih detail berikut dalil penjelasannyanya, Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?”. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya dengan penjelasan dalil yang shahih. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

938

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 439 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment