Malas Istighfar ? Ini Kerugian Yang Akan Didapat

PERCIKANIMAN.ID – – Semua orang pernah berbuat salah atau dosa, baik disengaja atau tidak disengaja. Istighfar, dan lalu, mohon ampun atau maaf adalah sikap yang bijaksana. Istighfar, adalah bagian dari dzikir. Karena istighfar memiliki makna “menutupi atau memohon ampunan”. Atau lebih jelasnya, makna istighfar adalah

 

“Meminta kepada Allah agar kita ditutupi dari hal-hal yang menyakitkan atau ditutupi dari akibat dosa yang pernah kita lakukan”. Makna tersebut sesuai dengan ungkapan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Istighfar adalah memohon kepada Allah agar kita dilindungi dari keburukan yang telah kita lakukan sebelumnya.” Allah Swt. berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristighfar).” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 33)

 

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa salah satu fungsi istighfar adalah “meredam” murka Allah dan menghindarkan diri dari dosa yang pernah dilakukan. Yang tak kalah pentingnya, istighfar pun dapat mendatangkan cinta dan kasih sayang Allah seperti yang terungkap dalam ayat tadi.

 

Ayat tentang istighfar sangat banyak dikutip Al-Quran dan As-Sunnah, misalnya, “Mereka apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, segera ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya …” (Q.S. Ali Imraan [3]: 135). “Maka barangsiapa memuji Tuhanmu, dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha Penerima taubat.” (Q.S. An-Nashr [110]: 3). “… dan orang-orang yang memohon ampun sebelum fajar.” (Q.S. Ali Imraan [3]: 17)

 

Dalam beberapa hadits pun dijelaskan tentang kewajiban beristighfar, di antaranya, “Mahasuci Engkau wahai Allah, Tuhanku! Dan dengan segala puji bagi-Mu ya Allah Tuhanku, ampunilah aku! Sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat lagi Maha Pengasih.” (H.R. Hakim). “Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (H.R. Abu Dawud dan Nasa’i)

 

“Sungguh hatiku didera kerinduan yang sangat dalam sehingga aku beristighfar seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim)

 

“Meski dosa-dosamu sebanyak buih lautan, sebanyak butir pasir di padang pasir, sebanyak daun di seluruh pepohonan, atau seluruh bilangan jagat semesta, Allah Swt. tetap akan selalu mengampuni bila engkau mengucapkan doa sebanyak tiga kali sebelum engkau tidur, Astaghfirullaahal ‘adziim al-ladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih. (Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha-agung, tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Memelihara (kehidupan), dan aku bertaubat kepada-Nya).” (H.R. Tirmidzi)

 

Dalam hidup, kita senantiasa meneguhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Dengan selalu mengevaluasi diri dan bertaubat kepada- Nya serta memperbanyak istighfar, memohon ampunan dari segala kesalahan dan dosa agar kehidupan kita selalu dipenuhi keberkahan dan keselamatan, di dunia maupun di akhirat.

 

Dalam kaitan ini Allah Swt. berfirman,

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Q.S. Huud [11]: 3)

 

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Q.S. Huud [11]: 61)

 

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (Q.S. Huud [11]: 90)

 

BACA JUGA: 3 Keutamaan Shalat Rawatib 

 

Secara korelatif, perintah beristighfar pada ayat-ayat tersebut diawali dengan perintah menyembah dan mengabdi kepada Allah Swt., seperti terdapat dalam Surat Huud (11) ayat 2,

 

“Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya.

 

Hal ini menunjukkan betapa tinggi nilai perintah beristighfar sehingga selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepada-Nya. Semoga bermanfaat. [ ]

 

Dikutip dari buku Dzikir Orang-orang Sukses karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si. 

5

Red: riska

Editor: iman

Ilsutrasi foto: pixabay

941

Dapatkan Quran Al Muasir Diskos Maksimal , klik disini

(Visited 468 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment