Hukum Kerja Di Bank Konvensional, Boleh atau Terlarang?

 

Assalamu’alaykum. Pak ustadz, apakah kita sebagai seorang muslim diperbolehkan bekerja di bank konvensional, misalnya sebagai Manajemen  Trainee (MT) ataupun ODP (Officer Development Program). Atau, kita sebaiknya memilih yang bank syariah saja? Saya pernah mendengar kabar bahwa bunga bank konvensional termasuk riba dan yang namanya riba itu diharamkan. Nah, apakah dengan kita bekerja di bank konvensional, berarti hasil kerja (gaji) yang didapat juga haram? Mohon jawaban dan penjelasan dari Ustadz. Terimakasih ( Permana via email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya pak Permana, bapak ibu,mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Dalam Islam sebagaimana yang kita yakini bahwa riba adalah termasuk dosa besar yang harus dijauhi. Untuk penjelasan tentang jenis riba, unsur, juga hukumnya lebih detail sebenarnya perlu pembahasan lebih panjang lebih dan perlu waktu khusus. Disini saya hanya coba jelaskan secara prinsip pokoknya saja.

 

Namun pastinya bahwa yang namanya riba semua ulama sepakat  diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.  Terkait dengan dosa riba dapat kita simak dalam penjelasanya Allah dalam Al Quran,

 

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena tekanan penyakit gila. Hal itu karena mereka berkeyakinan bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli, tetapi mengharamkan riba. Siapa pun yang mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu ia berhenti melakukan riba, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya diserahkan kepada Allah. Orang yang mengulangi perbuatan riba akan menjadi penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 275)

 

Jadi jual beli itu berbeda dengan riba meski pun dalam transaksi jual beli kemungkinan ada unsur ribanya. Namun Allah menegaskan bahwa jual beli itu halal dan riba itu haram.

 

Sebelumnya mari kita juga perhatikan riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya. Dan beliau bersabda, “Mereka itu sama.” (H.R. Muslim)

 

Hadits sahih ini, bila dicermati dari sudut pandang idealisme, mungkin sudah cukup menjadi jawaban akan keraguan hukum bekerja di bank konvensional. Hadits tersebut juga sekaligus memberikan keyakinan penuh bahwa Allah lah yang akan melindungi hamba-Nya manakala ada itikad untuk senantiasa berada di jalan-Nya. Sehingga, hendaknya kita tidak merasa takut akan kelangsungan rezeki di kemudian hari jika akhirnya harus meninggalkan pekerjaan di bank konvensional.

 

Namun demikian, sebagian kalangan masih memberi peluang untuk tetap menerima pekerjaan di bank konvensioal dengan alasan bahwa meski sistem yang dipakai tergolong riba, tapi masih memungkinkan adanya aliran dana yang masuk pada lembaga tersebut dari tranaksi non-riba, seperti penitipan, transfer, dan lain-lain.  Mereka ini berlandaskan pada firman Allah,

 

“….Namun, siapa pun yang terpaksa memakannya, bukan karena menginginkannya dan tidak melampaui batas, tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” ( QS.Al Baqarah: 173)

 

Meski ayat tersebut berkaitan dengan memakan makanan yang diharamkan seperti darah,bangkai dan sebagainya juga ayat ini suka dikaitkan dengan situasi kerja di bank konvensional. Sebab disitu ada unsur kedaruratan atau keterpaksaan yang sebenarnya dia sendiri menolaknya.

 

Nah, kembali ke dosa riba tersebut karena riba termasuk perbuatan yang diharamkan maka ada beberapa perbuatan haram yang akan berdampak pada dirinya yaitu salah satunya doanya tidak akan diijabah atau akan tertolak. Jadi Allah akan mengabaikan doa orang yang memakan makanan haram termasuk dosa riba tersebut. Seperti hadits hari Abu Hurairah ra, dimana Nabi Saw bersabda,

 

“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR. Muslim)

 

Inilah salah satu akibat memakan makanan yang haram yang bukan hanya dari riba saja, bisa dari hasil mencuri, menipu, korupsi dan sebagainya.

 

 

Nah, lantas bagaimana apakah Anda harus tetap bekerja disitu atau mencarai pekerjaan yang lain?  Ini dikembalikan kepada Anda setelah mendapat penjelasan singkat dari saya ini. Apakah Anda menjadi yakin atau masih ragu-ragu. Kalau masih ragu-ragu sehingga belum bisa memutuskan maka sebenarnya ada kaidahnya yakni tinggalkan yang ragu dan ambil atau kerjakan yang meyakinkan, sebagaimana yang dipesankan Rasul,

 

Tinggalkanlah segala yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu. Kejujuran akan mendatangkan ketenangan. Kedustaan akan mendatangkan kegelisahan.” (HR. Tirmidzi)

 

BACA JUGA: Contoh Pekerjaan Halal atau Haram, Apa Saja?

 

Kalau menurut hemat saya, selama Anda belum terlanjur bekerja disitu maka sebaiknya dihindari dan cari pekerjaan lain yang lebih menentramkan. Namun, kalaupun masih melanjutkan pekerjaan itu, maka mohonkanlah ampun dan teruslah berdoa agar diberi jalan yang terbaik.

 

Sekali lagi untuk menentukan pilihan, tentu saja dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Jika ingin selamat secara total, maka pilihan keluar dari bank konvensional adalah yang terbaik. Yakinlah bahwa Allah akan memberi rezeki dari pekerjaan halal dan menentramkan yang lainnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

946

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 1,902 times, 10 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment