Mengajak Anak Sholat Jumat, Perhatikan Ini Adabnya

Assalamu’alaykum. Pak Aam, anak saya laki-laki usia 2 tahun. Saya berencana mengajaknya untuk shalat Jum’at. Tapi saya kadang masih ragu, kalau nanti justru mengganggu ibadah orang lain. Kira-kira bagaimana mengajarkannya? Apa saja adab ketika shalat Jumat? Mohon penjelasannya. ( Sony via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr.Wb. Iya pak Sony, bapak ibu, mojang bujang dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Apa yang akan Anda lakukan tentu sangat baik dan mulia yakni mengajari atau mengenalkan ibadah kepada anak dengan langsung memberi contoh sehingga kebiasaan baik ini akan menjadi kebiasaan dirinya ketika telah dewasa.

 

Shalat Jumat ada ibadah yang wajib dilaksanakan bagi setiap muslim yang telah baligh. Meskipun anak Anda masih belum baligh sehingga belum wajib melaksanakan Shalat Jumat namun pendidikan atau mengajarkan shalat apalagi shalat berjamaah sejak dini juga sangat bagus.

 

Meski begitu tetap ada aturan atau rambu-rambunya khususnya bagi anak-anak sehingga kehadirannya selain sebagai bentuk pendidikan juga tetap harus dijaga agar jangan sampai mengganggu ibadah orang lain ketika di masjid. Apalagi ini berkaitan dengan shalat Jumat dimana dalam mendengarkan atau mengikuti khutbah Jumat adalah bagian dari rangkaian ibadah shalat itu sendiri sehingga kehadiran anak harus dijaga.

 

Nah, kewajiban shalat Jumat bagi kaum atau setiap Muslim seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam firmannya,

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu‘ah [62]: 9).

 

Terdapat beberapa adab seorang makmum ketika shalat Jumat, Rasulullah Saw. menganjurkan agar makmum memperhatikan beberapa ketentuan saat shalat Jumat seperti dalam penjelasan berikut.

 

  1. Datang Lebih Awal

Makmum disunahkan untuk datang lebih awal sebelum khatib naik mimbar. Rasulullah Saw. bersabda,

“Barang siapa yang mandi besar pada hari Jumat, kemudian dia pergi ke masjid, seolah-olah dia berkurban dengan unta; orang yang datang kedua setelahnya, seolah dia berkurban dengan sapi; siapa yang datang ketiga setelahnya, seolah dia berkurban dengan kambing; siapa yang datang keempat setelahnya, seolah dia berkurban dengan ayam; barang siapa yang datang kelima setelahnya, seolah dia berkurban dengan telur. Apabila imam keluar untuk khutbah, para malaikat mendengarkan nasihat tersebut” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).

 

Keterangan ini menegaskan bahwa datang lebih awal ke masjid akan mendapatkan pahala terbaik.

 

  1. Menyimak Khutbah

Datanglah lebih awal ke masjid, duduklah pada barisan terdepan, dan simaklah seluruh pembicaraan khatib saat berkhutbah karena Allah akan mengampuni dosa-dosa kecilnya. Nabi Saw. bersabda, “Barang siapa yang wudhu, kemudian mendatangi Jumat, lalu dia mendengarkan dan diam, maka akan diampuni segala dosanya antara Jumat itu dan Jumat yang lain, dan ditambah tiga hari” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

 

  1. Merapikan Shaf Duduk

Saat masuk masjid, isilah shaf (barisan) yang masih kosong agar barisan duduk tertata rapi. Nabi Saw. bersabda, “Rapatkanlah shaf (barisan) kalian, mendekatlah satu sama lain dengan sedekat mungkin pundak-pundaknya. Demi jiwa Muhammad yang ada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan-setan masuk dari sela-sela shaf, seolah-olah mereka itu kambing hitam kecil” (H.R. Ahmad dari Anas bin Malik r.a.).

 

Duduklah dengan manis dan jangan duduk sambil “memeluk lutut”. Seorang sahabat berkata, “Rasulullah Saw. melarang duduk memeluk lutut pada hari Jumat ketika imam berkhutbah” (H.R. Abu Daud).

 

  1. Dilarang Berbicara dan Menegur

Saat khatib sudah naik mimbar, makmum wajib diam dan menyimak pembicaraan khatib. Makmum tidak boleh berbicara kepada sesama makmum, bahkan makmum dilarang menegur makmum yang lain ketika mereka tidak mendengarkan khutbah.

 

Nabi Saw. bersabda, “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah!’ pada hari Jumat padahal imam sedang khutbah, sungguh sia-sia (pahalanya)” (H.R. Ahmad dari Abu Hurairah r.a.).

 

BACA JUGA: Jumlah Adzan Shalat Jumat, Sekali Atau Dua Kali?

 

Namun, seorang makmum boleh bertanya kepada khatib yang sedang berkhutbah kalau ada persoalan yang tidak dia pahami isi dari khutbah imam. Bahkan, makmum pun boleh meminta didoakan oleh khatib. Perhatikan penjelasan berikut ini.

 

Ada seseorang datang kepada Nabi Saw. waktu Jumat dari arah pintu darul qadha. Saat itu, Rasulullah Saw. sedang berdiri khutbah, kemudian laki-laki itu menghadap beliau seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, harta-harta kami telah musnah dan jalan-jalan pun rusak, doakanlah agar Allah menurunkan hujan untuk kami.’ Maka Rasulullah Saw. mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, berilah kami hujan (tiga kali)’” (H.R. Bukhari dari Anas bin Malik r.a.).

 

Keterangan itu menunjukkan bahwa makmum boleh meminta agar khatib mendoakan makmum. Ketika berdoa, khatib mengangkat kedua tangannya. Tentu saja hal ini jika dalam keadaan mendesak atau sangat darurat. Kalau tidak mendesak dan darurat Anda bisa menanyakan ketika shalat selesai.

 

Nah, kembali ke pertanyaan Anda, tentu sebelum mengajak ke Shalat Jumat , Anda harus lebih dulu bisa mengkondisikannya. Cobalah beri penjelasan tentang shalat Jumat, atau adabnya. Atau sesekali boleh juga diajak dalam shalat berjamaah di masjid di lain hari.

 

Intinya ketika  anak melakukan kesalahan menurut orangtua, maka anak jangan dimarahi apalagi dilarang pergi ke masjid. Bikin suasana senang dan gembira di masjid sambil tetap menjaga adab-adabnya. Sebab jika anak dimarahi karena ramai di masjid maka bisa jadi ia akan enggan ke masjid setelah remaja atau dewasa karen imagenya tidak boleh ke masjid. Ajaklah secara perlahan sambil memberinya pemahaman. Demikian penjelasnnya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda dan mojang bujang sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

950

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 399 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment