Cara Menghadapi Musibah dan Cobaan, Lakukan 8 Hal Ini

Assalamu’alaykum, Pak Aam, mohon nasihatnya. Saya merasa hidup saya penuh ujian dan cobaan serta kemalangan.Bertahun-tahun saya harus merawat ibu yang sakit dengan keluar biaya banyak dan akhirnya meninggal. Kemudian saya terpaksa harus berpisah (cerai) dengan suami karena sesuatu hal yang tidak bisa dipertahankan lagi. Terakhir saya juga merintis usaha dan akhirnya bangkrut karena salah satunya ditipu rekan. Saya benar-benar merasa stres dan sangat kalut. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana keluar dari musibah yang berat? Mohon nasihat dan bimbingannya. ( W via email) 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Ibu W, bapak ibu, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu yang namanya hidup kita menyadari tidak akan lepas dari ujian dan salah satu bentuk ujian adalah adanya musibah.

 

Sebenarnya pada hakikatnya yang namanya ujian itu bukan hanya yang bersifat kesusahan atau kesedihan saja melainkan ada juga yang bersifat kesenangan atau kebahagian. Sikap kita adalah bersabar ketika tertimpa musibah dan bersyukur ketika mendapat kesenangan.

 

Ujian kesedihan pasti akan diberikan Allah kepada hamban-Nya seperti yang difirmankan dalam Al Quran,

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, ke­ku­rangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (se­­sung­guhnya, kami milik Allah dan ke­pada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah orang yang akan memperoleh ampunan dan rah­mat dari Tuhannya dan mereka itu­lah orang-orang yang mendapat pe­tun­juk.” (QS.Al Baqarah: 155 – 157)

 

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ujian adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya agar kita memperoleh ampunan dan rahmat Allah. Cara menghadapi ujian adalah dengan bersabar dan berdoa, semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita, seperti yang diajarkan Rasul,

 

Sesungguhnya kita milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, dampingi aku dalam kemalangan dan berilah ganti yang lebih baik darinya.” (H.R. Ahmad dan Muslim)

 

Setiap orang pasti bercita-cita agar jalan kehidupannya selalu mulus dan membahagiakan. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Kadang, kita harus melewati perjalanan hidup yang menyulitkan, kadang timbul situasi-situasi yang tidak kita harapkan, situasi yang sangat menyakitkan. Itulah yang disebut musibah.

 

Jadi, musibah artinya peristiwa menyakitkan yang menimpa kita. Saat musibah itu terjadi, secara spontan kita harus berdoa, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun, Allahumma ajirnii fii mushiibatii wa akhluflii khairan minhaa.

 

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad, lengkapnya sebagai berikut, “Tidak ada seorang hamba pun yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan ‘innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, Allahumma ajirnii fii mushiibatin wa akhluflii khairan minhaa’, kecuali Allah akan mendampinginya dalam kemalangan dan akan memberi ganti yang lebih baik daripada itu.”

 

Mengapa saat ditimpa musibah kita harus mengucapkan doa tersebut? Karena apa pun yang terjadi di bumi ini atas izin dan kuasa Allah. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semuanya atas kekuasaan Allah Swt. Jangankan musibah, daun yang gugur dari tangkainya pun atas sepengetahuan dan izin Allah Swt.

 

Banyak yang sadar bahwa kita harus tahan uji menghadapi musibah, tetapi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Berikut akan dijelaskan trik atau kiat menghadapi musibah.

 

Pertama, yakini bahwa musibah itu merupakan ekspresi cinta Allah Swt. agar kita lebih matang dan dewasa dalam menghadapi persoalan. Tidak selamanya yang menyakitkan itu akan menjadi keburukan. Bisa jadi peristiwa yang menyedihkan akan membuat kita lebih matang dan dewasa.

 

Janganlah berprasangka buruk seolah musibah itu merupakan murka Allah Swt. Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik, maka Allah memberinya cobaan” (H.R. Bukhari).

 

Kedua, yakini bahwa semakin besar musibah yang Allah Swt. turunkan, semakin besar pula pahala dan sayang Allah yang akan dilimpahkan kepada kita. Dengan catatan, kita bisa menyelesaikan setiap ujian itu secara elegan dan dewasa.

 

Anas r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu bergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah Swt. mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang tidak menerimanya, ia mendapat murka Allah.” (H.R. Tirmidzi)

 

Ketiga, yakini bahwa musibah itu akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan.

Abu Sa‘id dan Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang Muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri, semuanya itu merupakan penebus dari dosa-dosanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Keempat, selalu berpikir positif bahwa apa pun yang menimpa diri kita akan menjadi kebaikan.

Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar, maka itu lebih baik baginya,” (H.R. Muslim).

 

Kelima, yakini bahwa setelah menghadapi kesulitan kita akan mendapatkan kemudahan.

“Sungguh, beserta kesulitan ada kemudahan. Sungguh, beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Asy-Syarh [94]: 5-6)

 

Keenam, selalu optimis bahwa kita bisa menyelesaikan setiap musibah, karena Allah Swt. tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan ukuran kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya….” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 286)

 

BACA JUGA: 3 Cara Umar bin Khattab dalam Menghadapi Musibah

 

Ketujuh, hadapi musibah dengan ikhtiar atau usaha. Tidak bijaksana menghadapi musibah hanya dengan doa, melainkan harus dibarengi juga dengan usaha untuk menyelesaikannya. Allah Swt. akan menilai seberapa keras usaha kita dalam menyelesaikan ujian-Nya.

 

“Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras untuk urusan berikutnya, dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Asy-Syarh [94]: 7–8)

 

Kedelapan, hadapi musibah dengan doa,“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan doamu,” (Q.S. Gafir [40]: 60). Doa merupakan ekspresi kerendahan hati seorang hamba. Oleh karena itu, Allah Swt. sangat mencintai orang-orang yang rajin berdoa kepada-Nya.

 

Itulah delapan langkah agar kita bisa menghadapi berbagai ujian kehidupan. Berdoa dan berikhtiar merupakan dua hal yang harus selalu berjalan beriringan. Semoga kita senantiasa menjadi hamba-Nya yang bertakwa dengan bersabar ketika ditimpa musibah atau ujian dan bersyukur jika mendapat kesenangan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait dengan doa dan tuntunannya ini Anda dan mojang bujang serta sahabat sekalian bisa baca buku saya yang berjudul “DOA ORANG-ORANG SUKSES”. Di dalamnya ada contoh-contoh doa berikut dalil atau sumbernya serta tata cara berdoa agar dikabul Allah Swt. Wallahu’alam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

950

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1,513 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment