Cara Membina Iman Agar Tetap Kokoh, Lakukan Hal Ini

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, kadang saya merasa keimanan saya lemah atau tidak kuat. Jika membaca kisah sahabat atau orang – orang shalih begitu kuatnya keimanan mereka hingga nyawa dikorbankan. Bagaimana agar kita juga mempunyai iman yang kuat? Meski mungkin tantangan dan cobaan zaman berbeda. Mahon nasihatnya ( Ully via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya saudari Ully, bapak ibu,mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian. Tentu semua orang muslim ingin mempunyai keimanan yang kokoh dan kuat seperti Rasul dan para Nabi, atau mininal keimanan kita seperti para sahabat atau orang-orang shalih terdahulu.

 

Dalam Al Quran, Allah Swt. mengumpamakan iman yang kuat seperti pohon yang akarnya menghunjam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, berdaun lebat, dan selalu berbuah.  Hal ini terdapat dalam Surat Ibrahim ayat 24 dan 25.

 

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (Laa Ilaha Illallah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya  (menjulang) ke atas langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya selalu ingat’.

 

Agar pohon tetap subur dan kokoh, perlu dipelihara dengan memberinya air yang bagus dan pupuk yang berkualitas. Iman pun demikian, harus dirawat dan dipupuk. Di antara strategi agar iman tetap dalam keadaan kokoh ada beberapa amalan yang dapat kita lakukan,antara lain,

 

Pertama muhasabatunnafsi  melakukan introspeksi diri.

 

Mengidentifikasi apa saja kekurangan, kelemahan, dan kealfaan kita, lalu memperbaikinya dengan sungguh-sungguh. Apabila melakukan amal keburukan, cepatlah bertaubat dengan memperbanyak istighfar yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai amal kebajikan yang Allah ridoi.

 

Allah berfirman dalam ayat ke-18 surat Al Hasyr.  ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’.”.

 

Kedua, dengan riyadhah ruhiyah,

 

Artinya dengan latihan membiasakan melakukan amalan-amalan sunnah seperti shaum sunah, shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Witir, dan amalan–amalan sunah lainnya yang berfungsi untuk menyuburkan ruhiyah, sehingga senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam hidup.

 

Ketiga,  Tadabbur Quran,

Yaitu membaca, memahami, menghayati, serta mengamalkan Al Quran. Syukur-syukur kita bisa mengajarkannya.  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Usman bin ‘Affan ra. berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda,

“Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al Quran, kemudian mengajarkannya.” 

Al Quran adalah kitab Allah sebagai petunjuk bagi manusia.

 

Apabila menemukan fenomena-fenomena yang menimbulkan keraguan, maka solusinya adalah dengan mentadabburi Al Quran.  Ayat ke 2 surat Al Baqarah berbunyi, ‘Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.’  

 

Dengan tadabbur Quran, hati menjadi bercahaya karena Al Quran berfungsi sebagai cahaya (penerang) bagi orang yang dalam kegelapan, yang diliputi oleh keragu-raguan, kebimbangan dalam menjalani kehidupan, sehingga mendapatkan kemampuan membedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang batil.

 

Firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 24 berbunyi, ‘Mengapa mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran, ataukah hati mereka terkunci?

 

Keempat, dzikrullah.  

 

Banyak mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram. Ketentraman itu terasa dari jiwa ihsan, yaitu merasakan Allah selalu melihatnya sehingga setiap aktivitasnya senantiasa ada dalam tataran fitrahnya (mengikuti petunjuk Allah), yaitu ada dalam situasi tentram dan damai, penuh keimanan yang merupakan cahaya didalam menjalani kehidupannya. Sebagaimana firma-Nya dalam surat Al Ahzab ayat 41 sampai 43.

 

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.’

 

Kelima, Memperbanyak do’a.

 

Memohon pertolongan Allah agar hidup senantiasa ada dalam petunjuk-Nya, senantiasa berada dalam jalan yang pernah ditempuh oleh  orang-orang yang telah mendapatkan anugerah nikmat-Nya seperti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Surat An-Nisa ayat 69 menyebutkan,

 

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman-teman yang sebaik-baiknya.

 

Keenam, mencintai fakir miskin dan anak yatim.

 

Dalam hadis riwayat Ahmad, Abu Hurairah ra. bercerita, seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan qalbu yang dialaminya. Beliau saw., menegaskan, 

 

‘Bila engkau mau  menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang-orang miskin dan cintai  anak yatim.’  

 

Mencintai mereka diaplikasikan dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, dan kegiatan-kegiatan sosial yang dilandasi tujuan membahagiakan fakir, miskin, dan yatim  sebagai ekspresi dari jiwa syukur atas anugerah kenikmatan Allah.

 

Syukur adalah aktivitas yang lahir dari keyakinan bahwa harta yang dimilikinya adalah titipan Allah yang harus dipergunakan secara proporsional sesuai yang dikehendaki-Nya. Allah akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.

 

Semakin banyak membahagiakan orang lain, akan semakin banyak kenikmatan hidup yang akan diraih. Ayat ke-7 surat Ibrahim menjelaskan,

 

…Sesungguhnya jika kamu  bersyukur, pasti  Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika mengingkari  (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’

 

BACA JUGA: Susah Konsentrasi, Bagaimana Cara Shalat dengan Khusyuk?

 

Itulah di antara strategi agar iman tetap kokoh. Sehingga iman yang kita miliki dapat diibaratkan seperti pohon yang kokoh,  berdaun rindang, berbuah lebat, dapat dijadikan tempat berteduh, bersandar, dan  berlindung orang-orang yang kepanasan dan kecapean.

 

Apabila ada angin atau badai datang menimpanya, pohon tersebut akan tetap kokoh berdiri tegak, elegan, gagah, indah, dan mempesona. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam . [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 757 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment