Adab Terhadap Pembantu, Ini Yang Harus Dilakukan

Assalamu’alaykum. Pak Aam, belum lama ini saya dikaruniai anak ke dua, karena agak repot akhirnya saya dan suami sepakat untuk mengambil atau mendatangkan seorang pembantu. Mohon nasihatnya dan penjelasannya, bagaimana adab atau aturan pembantu rumah dalam Islam? Saya dan suami takut berbuat dzalim kepada pembantu. Terima kasih. ( Erna via email)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Bapak ibu, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian. Dalam Islam mempunyai atau menjadi pembantu rumah tangga diperbolehkan atau tidak dilarang. Namun kita wajib memperlakukan pembantu secara baik, penuh kesetaraan atau tidak boleh merendahkan. Kemuliaan seseorang bukan pada predikat kaya atau tidak, tapi pada ketakwaannya,

 

 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujurat 49: 13).

 

 

Seorang majikan atau tuan tidak boleh berbuat dzalim atau marah yang berlebihan bahkan sampai menganiaya pembantunya hanya karena ia mempunyai kesalahan. Sangat besar dosa orang-orang yang menganiaya pembantunya. Jangankan menganiaya mereka yang notabene manusia, bahkan Islam mengharamkan menganiaya binatang, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut. Ibnu Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda,

 

 

Ada seorang wanita diazab dikarenakan mengurung seekor kucing yang tidak diberi makan dan minum hingga kucing itu mati.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih).

 

 

Keterangan ini menegaskan bahwa berbuat aniaya pada binatang saja akan mendapatkan sanksi yang berat, apalagi pada manusia, tentu akan lebih berat lagi. Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua dosa yang akan dipercepat siksanya oleh Allah di dunia, yaitu berlaku zalim terhadap orang lain dan berbuat buruk pada orang tua.” (H.R. Thabrani).

 

 

Rasulullah saw. bersabda, “Perhatikan kaum yang lemah, sebab kamu diberi rizki dan  diringankan beban oleh mereka ..” (H.R. Bukhari).

 

Biasanya, kita baru merasakan betapa besar peraran pembantu dalam meringankan beban pekerjaan rumah tangga kalau mereka  sedang mudik alias tidak ada di rumah kita.

 

Namun pada saat mereka berada di sisi kita, sering kita melupakan, bahkan kurang menghargai keberadaan mereka. Ini terbukti dari kecenderungan sebagian orang yang berbuat sewenang-wenang terhadap pembantunya.

 

Islam mengajarkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan para pembantu, yaitu:

 

  1. Posisikan pembantu sebagai saudara.

 

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pembantumu adalah saudaramu. Berikan makanan dan pakaian kepadanya sesuai dengan pakaian dan makananmu.” (H.R. Abu Daud).

 

Nabi Saw. menekankan bahwa hubungan pembantu dengan majikan bukan semata-mata hubungan kerja dan fungsional, tetapi juga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan.

 

  1. Jangan menakut-nakutinya jika berbuat salah

 

Banyak kasus, para pembantu ditakut-takuti oleh majikannya agar mau mengikuti kemauan majikan. Perbuatan seperti ini hukumnya haram sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw.,

 

“Haram seorang menakut-nakuti saudaranya.” (H.R. Abu Daud dan Thabrani)

 

  1. Jangan memakinya

 

Tidak sedikit pembantu yang kehormatannya diinjak-injak dengan dimaki-maki di depan umum hanya karena kesalahan sepele. Padahal Rasulullah saw. membenci perbuatan seperti ini, sabdanya,

 

Memaki seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kufur.” (H.R. Bukhari-Muslim)

 

  1. Bantu  pekerjaannya

 

Fungsi pembantu yaitu membantu pekerjaan kita, karenanya usahakan untuk meringankan pekerjaannya. Rasulullah saw. sangat menghargai orang-orang yang suka membantu meringankan beban pekerjaan orang lain, termasuk di dalamnya meringankan pekerjaan para pembantu, sabdanya,

 

“Siapa yang menolong kesusahan seorang muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusahan akhirat. Siapa yang meringankan beban orang yang susah, niscaya Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong  orang lain”. (H.R. Bukhari)

 

BACA JUGA: Hukum Ibu Bekerja

 

  1. Jangan berbuat zalim

 

Di antara bentuk perbutan zalim yaitu memberikan upah di bawah standar dan tidak memberi upah sesuai jadwal yang disepakati. Kalau kita pernah menjanjikan mengupahnya setiap tanggal 1, kita wajib melaksanakan janji tersebut. Seandainya kita tidak mampu menepatinya, kita wajib minta maaf atas keterlambatan tersebut. Sebab kalau tidak, berarti kita telah menzaliminya. Rasulullah saw. bersabda

 

Jauhi zalim, karena akan menjadi sumber kegelapan pada hari kiamat.” (H.R. Bukhari-Mslim). Allah swt. berfirman dalam hadis qudsi, “Sesungguhnya Aku haramkan zalim terhadap diriku, dan Aku pun mengharamkannya pada kamu sekalian, maka janganlah saling menzalimi”. (H.R. Muslim).

 

Itulah lima hal yang harus kita perhatikan dalam memperlakukan siapa pun yang menolong kita, apakah itu pembantu rumah tangga, sopir, buruh, dan yang lainnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.[ ]

 

5

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

960

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 279 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment