Contoh Pekerjaan Halal Dan Haram, Apa Saja?

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, insya Allah tahun ini saya selesai kuliah dan mau bekerja agar segera bisa membalas jasa dan membantu orangtua. Bagaimana konsep pekerjaan dan rezeki yang halal menurut Islam agar nanti saya tidak salah pilih pekerjaan? Mohon nasihatnya ( Noval via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Noval, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian. Apa yang Anda cita-citakan tentu mulia dan baik sekali, dimana selesai kuliah Anda ingin segera bekerja untuk membantu ekonomi keluarga dan tidak menjadi beban orangtua atau orang lain.

Begini, Islam telah mengajarkan kepada kita untuk bekerja mencari nafkah atau menyambut rezeki dari Allah Swt dengan ikhtiar bekerja. Islam mewajibkan umatnya untuk mencari rezeki atau bekerja. Jadi Islam melarang umatnya bermalas-malasan atau menunggu jatah atau pemberian makan dari orang lain, kecuali dalam keadaan darurat seperti tertimpa bencana atau musibah. Selebihnya kita dituntut untuk bekerja. Coba simak perintah Allah Swt dalam Al Quran,

Hai, orang-orang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah-Nya.” (QS. Al Baqarah: 172).

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw juga berwasiat dan memerintahkan kepada umatnya untuk bekerja dan mencari rezeki yang halal,

Mencari rezeki yang halal itu adalah wajib bagi setiap orang Islam” (HR. Ibnu Mas’ud).

Atau dalam hadits lain disebutkan,

Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah)

Lalu bagaimana kriteria pekerjaan yang halal itu? Secara umum, pekerjaan halal adalah profesi yang tidak melanggar aturan Allah  atau bekerja dengan tidak melanggar hal-hal yang diharamkan dalam Islam. Dagang, usaha, jual beli, atau bisnis, baik bisnis produk maupun jasa, merupakan salah satu jenis pekerjaan.  Sebuah bisnis  yang dilakukan dengan baik, jujur, tidak menipu, tidak berbohong, dan bukan memperjualbelikan barang haram, maka itu termasuk pekerjaan halal.

Nah, pekerjaan halal juga bisa dipahami sebagai pekerjaan yang tidak termasuk tindak kejahatan yang diharamkan Islam. Profesi atau pekerjaan  yang diharamkan dalam Islam misalnya mencuri, merampok, menodong, menjambret, menipu, menjadi penadah barang curian, melacurkan diri (pelacur), bisnis berbau pornografi, judi, dan jual beli makanan dan minuman haram.

Berdagang itu halal, tapi barang dangannya mengandung unsur yang haram maka pekerjaannya bisa menjadi haram. Menjadi designer produk itu pekerjaan yang halal, tapi kalau design produk yang Anda buat misalnya mengandung unsur pornografi, ajakan untuk maksiat dan tindakan munkar lainnya maka pekerjaan Anda menjadi haram. Membuat film bagus dan halal, misalnya film untuk dakwah dan mengandung nilai-nilai kebaikan sesuai dalam Al Quran dan hadits. Tetapi jika film yang Anda produksi mengandung unsur pornografi dan ajak berbuat kemunkaran atau maksiat maka bisa menjadi haram.

Tentu pembahasan pekerjaan yang halal dan lebih spesifik ini perlu kajian yang lebih detail lagi. Intinya pekerjaan dan rezeki yang halal itu tentunya tidak melanggar ketentuan syariat Islam dan sebaliknya pekerjaan haram adalah pekerjaan yang diharamkan dalam ketentuan dan ajaran Islam. Soal jenisnya secera spesifik maka itu perlu kajian dan pembahasan tersendiri.

Nah, ada pemahaman yang, paling tidak, kurang tepat mengenai rezeki. Banyak orang berpendapat bahwa rezeki adalah sejumlah uang yang kita terima, baik dari hasil bekerja ataupun pemberian orang lain secara cuma-cuma. Memang betul itu adalah rezeki.Namun, hal tersebut hanyalah satu dari sekian banyak rezeki yang diterima oleh manusia dari Sang Maha Pemberi rezeki.

Ada dua macam rezeki yang Allah Swt. berikan pada kita, yaitu rezeki yang bersifat jasmaniah dan rezeki yang bersifat rohaniah.Rezeki yang bersifat jasmaniah, selain harta, dapat pula berupa kesehatan, ilmu, dan keturunan.Ketika kita dikaruniai kesehatan sehingga dapat beraktivitas tanpa terganggu oleh rasa sakit atau terbebani oleh penyakit tertentu, itu adalah rezeki.Ketika kita dapat memahami suatu ilmu dengan benar dan dapat membuktikannya secara ilmiah misalnya, itu adalah rezeki.Ketika kita dikaruniai putra-putri yang tumbuh dengan menggemaskan, itu adalah rezeki. Dengan kata lain, segala nikmat duniawi yang kita terima adalah rezeki jasmaniah yang patut kita syukuri.

 

BACA JUGA: Syarat Istri Bekerja Dalam Islam 

 

Sedangkah, rezeki yang bersifat rohaniah diterangkan dalam hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang artinya, “Ya Allah, rezekikan kepadaku kesabaran untuk senantiasa taat kepada-Mu, sabar dalam menjauhi kemurkaan-Mu, sabar dalam menjaga apa yang Engkau cintai, sabar menghadapi apa yang aku benci, dan sabar menghadapi urusan yang berat.”

Dalam ajaran Islam, rezeki itu turun karena ada unsur ikhtiar. Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan rezeki yang bersifat jasmaniah, misalnya berupa kesehatan, tentu kita harus menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga kebersihan, pola makan, pola pikir, serta perilaku terhadap orang lain. Selain itu, kita pun harus mensyukuri apapun yang Allah berikan kepada kita karena Allah memberi rezeki atau karunia itu berbeda-beda. Kita harus mampu menerima kenyataan dengan ikhlas. Sehingga, hidup akan menjadi lebih enak, lebih indah, lebih nikmat, lebih tenang, lebih ringan, dan tidak akan menjadi beban. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

968

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1,585 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment