Agar Rumah Penuh Berkah, Begini Caranya

PERCIKANIMAN.ID – – Rumah yang berkah menurut Islam, seperti apa? Rumah adalah salah satu simbol status sosial seseorang. Namun bagi seorang muslim rumah bukan sekedar tempat berteduh dari panas dan hujan semata. Ada makna yang dalam dari sebuah rumah. Rumah adalah tempat mencurahkan kasih sayang dan meningkatkan ketakwaan bagi seluruh anggota keluarga.

Lalu bagaimana seorang muslim dalam membangun atau mengelola rumah agar mempunyai spirit ibadah? Jika diluar sana ada yang namanya klinik atau feng sui tentang baik buruknya sebuah rumah, maka di dalam Islam pun ada panduannya sehingga rumah menjadi berkah.

 

Surat Al Ahzab (33) ayat 33 menandaskan,

Allah Swt. menghendaki untuk menghilangkan noda dan dosa darimu, serta membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya wahai ahlul-nait!

Hal ini menunjukkan bahwa rumah yang baik dan wasi’ah harus seperti rumah keluarga Rasulullah yang bersih dari noda, dosa, dan perbuatan tidak terpuji. Tatkala membangun rumahnya, Nabi Ibrahim mencontohkannya dengan menjauhkan diri dan keluarga dari unsur-unsur kemusyrikan. Rasulullah Saw. bersabda, “Aku berlepas diri dari orang muslim yang berkedudukan di antara kaum musyrikin.” (HR. Tiga ahli hadits, dari Jarir bin Abdillah).

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini memerintahkan hijrah dari lingkungan atau negeri musyrik yang menguasai muslim. Dapat ditafsirkan pula bahwa Rasulullah Saw. tidak senang terhadap kaum muslimin yang selalu berada di lingkungan kaum musyrikin, apalagi jika serumah. Untuk itu, agar rumah mendapat berkah, hendaklah dijauhkan dan dibersihkan dari orang-orang musyrik. Manusia hidup tidak terlepas dari interaksi dengan sesamanya. Jika seorang muslim bergaul dengan orang saleh, akan terbina kesalehannya. Jika seorang muslim terlalu banyak bergaul dengan orang musyrik, bisa jadi keimanan dan ketauhidannya terganggu. Kaum muslimin diseru agar memilih teman bergaul dari kalangan orang yang baik.

Allah Saw. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah 9: 119)

Ayat ini menyerukan agar orang mukmin selalu bertakwa kepada Allah dan berada di lingkungan orang yang benar keimanan, keislaman, dan tingkah lakunya. Dengan demikian, ayat ini mengandung larangan untuk bergaul dengan orang yang tidak benar keimanannya.

Segala hal yang berpengaruh negatif pada akidah dan ibadah harus dijauhkan dari rumah, bahkan anjing dan patung. Rasulullah Saw. bersabda, “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang terdapat di dalamnya anjing dan patung.” (Muttafaq ‘alaih 1235).

 

BACA JUGA: Pahala Menjadi Ibu Rumah Tangga

 

Imam al-Ghazali memahami hadits ini secara makna hakiki dan makna majazi. Secara hakiki, hadits ini menunjukkan bahwa dalam rumah tidak boleh ada anjing dan patung karena akan berpengaruh pada perkembangan pemikiran dan kegiatan para penghuninya.

Secara majazi, hadits ini mengandung arti bahwa rumah harus bebas dari unsur dan pengaruh negatif yang berpengaruh pada akidah dan ibadah. Dalam hadits lain, diterangkan bahwa orang yang memelihara anjing di rumahnya, nilai amalnya dikurangi satu qirath setiap harinya.

Dikutip dari buku Feng Shui Islam karya H.U. Saifuddin, ASM.

5

 

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

790

(Visited 130 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment