Etika Saat Buang Air Dalam Islam

PERCIKANIMAN.ID – – Buang air dalam Islam, ada aturannya dan tidak boleh sembarangan. Islam adalah agama yang mengatur seluruh seluk-beluk kehidupan manusia. Mulai dari hal besar seperti ekonomi, politik, pendidikan, hingga hal terkecil seperti cara makan, cara berpakaian, dan berinteraksi sesama manusia. Dalam agama kita, segala sesuatunya haruslah bernilah ibadah, agar hidup menjadi tentram dan penuh berkah. Hal kecil yang diatur oleh Islam, termasuk dalam cara buang air besar atau kecil, semua harus ada tata cara yang baik. Berikut etika buang air dalam Islam.

  1. Buang air di tempatnya

Anggota keluarga tidak dibenarkan buang air kecil maupun besar di tempat sembarangan. Dari Jabir diriwayatkan bahwa jika Rasulullah Saw, “Hendak buang air, beliau menuju tempat yang tidak satu orang pun melihatnya”. (HR. Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan bahwa buang air besar maupun kecil harus di tempat khusus sehingga orang lain tidak melihat apa yang sedang dilakukan.

2. Tidak membuang air di sembarang tempat

Salah satu perbuatan dosa adalah buang air di sembarangan tempat sehingga mengganggu orang yang lewat atau yang tengah berteduh. Ternyata, sampai saat ini masih banyak anggota masyarakat yang belim sadar akan hal tersebut. Padahal, perbuatan ini sangat tercela.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Waspadailah dua orang pelaknat!” Beliau ditanya, “Apa itu pelaknat?” Beliau menjawab, “Orang yang suka buang air di jalur lalu lintas manusia atau di tempat berteduh.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Orang yang suka buang air di sembarang tempat dikategorikan pada pelaknat atau yang mengutuk dan dikutuk. Betapa berat dosa yang harus dipikul oleh pengotor tempat umum dan jalur lalu lintas tersebut.

3. Tidak kencing di genangan air

Seseorang tidak dibenarkan kencing pada air yang tidak mengalir. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “janganlah seseorang kencing di air yang tidak mengalir kemudian bersuci dari air tersebut.” (Muttafaq ‘alaih 156)

Larangan yang tercantum dalam hadits ini ditujukan untuk buang air kecil atau kencing. Jika kencing pada air tidak mengalir saja dilarang, apalagi buang air besar.

4. Tidak menghadap kiblat ketika buang air

Ketika buang air besar atau kecil, seyogianya tidak menghadap ke kiblat atau membelakanginya, namun hendaklah kita menghadap ke arah yang lain. Hadits dari Abi Ayub al-Anshari r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “jika kalian buang air, janganlah menghadap kiblat, jangan pula membelakanginya, baik buang air besar maupun kecil, melainkan menghadaplah ke timur atau ke barat.” (Muttafaq alaih, no. 146)

Bila dalam shalat diharuskan menghadap ke kiblat, ketika buang air besar dan kecil dilarang menghadap atau membelakanginya.

5. Berdo’a sebelum buang air

Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa jika hendak masuk ke kamar kecil, Rasulullah Saw. membaca,

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kotoran dan yang menjadikan kotor.” (Muttafaq ‘alaih 207)

Doa ini berisi permohonan lindungan kepada Allah Swt. dari segala kotoran atau yang menimbulkan kotor. Dengan demikian, yang disucikan kaum muslimin bukan hanya kotoran lahiriah, tapi juga noda batiniah. Membersihkan diri dari kotoran lahiriah bisa dilakukan dengan membuang dan membersihkannya, sedangkan dari kotoran batiniah bisa dilakukan dengan berlindung kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.

6. Bersuci dengan tangan kiri

Setelah buang air besar atau kecil, diwajibkan bersuci, yaitu membersihkan kotorannya. Ketika bersuci, hendaklah memegang dan menggosok dubur atau kelamin dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan digunakan untuk menyiramkan air. Untuk laki-laki, memegang zakar ketika buang air kecil pun hendaknya dengan tangan kiri.

Hadits dari Abu Qaradah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seseorang janganlah memegang zakarnya dengan tangan kanan ketika buang air kecil, jangan pula memegang/menggosok kotoran dengan tangan kanan, dan janganlah bernapas ketika minum.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 147)

 

BACA JUGA: Etika Di Kamar Mandi

 

7. Berdoa sesudah buang air

Sesudah buang air, hendaklah berdoa, “gufroonaka”, “aku mengharapkan ampunan-Mu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Boleh juga membaca doa yang berbunyi, “alhamdulillahilladzii adzhaba ‘anniil adza wa ‘afaanii”, “segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan memaafkan aku.” (HR. Ibnu Majah)

Esensi doa ini adalah bersyukur kepada Allah yang telah menjauhkan hamba-Nya dari noda kotoran lahir maupun batin. Doa ini juga mengandung didikan bahwa setelah bersuci lahiriah, janganlah mengotorinya dengan kotoran ruhaniah. Oleh karena itu, hendaklah meninggalkan dosa sekecil apa pun bentuknya. (Dari berbagai sumber)

 

5

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

860

(Visited 437 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment