Tanda Prahara Dalam Pernikahan (1)

PERCIKANIMAN.ID – – Cinta bersemi tumbuh diantara mereka, padahal rentang usia terpaut 15 tahun. Sang wanita seorang janda yang bergelar at-thahirah (wanita yang dapat menjaga kesucian dirinya), yaitu Siti Khadijah r.a. Kala itu, dirinya berusia 40 tahun. Laki-laki yang dinikahinya adalah seorang pemuda bergelar al amin (pemuda jujur, dapat dipercaya) yang bernama Muhammad yang berusia 25 tahun.

Rasulullah saw. adalah suami ketiga Khadijah –kedua suami sebelumnya telah wafat. Dari pernikahan ini, mereka memiliki enam orang anak, di antaranya 2 anak laki-laki yang meninggal ketika masih kecil.

Mengarungi bahtera pernikahan selama 25 tahun telah menggoreskan kenangan yang dalam dan indah di hati Rasulullah saw. Begitu besar jasa Khadijah, ia adalah muslimah pertama, pelipur lara, pendukung dakwah, setia berkorban dengan segenap harta dan jiwanya karena cintanya pada Allah swt. dan Rasulullah saw.

Poligami

Selama menikah dengan Khadijah, Rasulullah tidak menikah dengan perempuan lain. Baru kemudian, pasca Khadijah wafat, beliau berpoligami antara lain dengan janda-janda sepuh sekaligus menyantuni anak-anak yatimnya. Gadis yang dinikahi Rasulullah saw. hanyalah Aisyah r.a., putri Abu Bakar r.a., setelah berliau mendapatkan wahyu dari Allah swt. Rasulullah saw. adalah sosok suami monogami yang cemerlang, sekaligus sosok poligami yang benar.

donasi perpustakaan masjid

Aisyah adalah seorang gadis yang sangat cerdas. Karena kecerdasan inilah ia menjadi istri yang paling sering ikut dalam perjalanan Rasul. Tak heran jika Aisyah menjadi perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Namun, kenyataan dewasa ini berbanding terbalik dengan keadaan pada zaman Rasulullah. Tak sedikit, suami yang melakukan poligami dengan mengabaikan perasaan istri dan keluarga.

Tanda-tanda Prahara dalam Pernikahan

Berikut merupakan beberapa prahara yang terjadi dalam pernikahan yang berasal dari pihak suami. Pertama, Suami tak mampu menangkap esensi kesetiaan dan pemuliaan Rasulullah saw. pada wanita. Yang terjadi justru sebaliknya, sebagian besar suami mengembangkan ketidakmampuan membendung hasrat naluri kelelakiannya.

Kedua, ketika peluang dan kesempatan terbuka lebar –biasanya ditandai dengan kemapanan status dan materi, tak jarang lambat laun mengalami disorientasi tujuan pernikahan sehingga rentan godaan, terutama yang berkaitan dengan lawan jenis.

Ketiga, Prahara yang menghampiri pernikahan acap kali ditandai dengan berpalingnya suami ke lain hati, memiliki teman tapi mesra/teman tapi mesum (TTM), sering beralasan sibuk atau jenuh dengan istri dan anak, ikut-ikutan asal mencontoh lingkungan keluarga, teman, bahkan publik figur yang berpoligami.

Keempat, Sifat sombong mengklaim diri telah memenuhi syarat poligami, mengklaim meneladani Rasulullah saw., dan menyatakan turut berpartisipasi memberikan alternatif solusi masalah sosial yang dikaitkan jumlah wanita yang lebih banyak.

Kelima, Meminta pembuktian cinta istri supaya mau dimadu dengan mengatasnamakan/merujuk pada Al-Qur’an, tak jarang mengatasnamakan istri salehah dengan ganjaran surga.

Keenam, Menyatakan diri siap mendidik wanita lain, terkadang disertai dengan intimidasi nafkah lahir dan nafkah batin.

Tidak Amanah sebagai Ayah

Dampak selanjutnya, otomatis berkurangnya sifat amanah sebagai suami dan ayah, terkikis kasih sayang pada anak, dengan alasan standar kesibukan yang luar biasa. Istri dan anak sulit bertemu dengan suami atau bapaknya tersebut, tidak ada komunikasi dalam keluarga. Akibatnya, psikis anak terganggu, kehilangan kasih sayang, kepercayaan diri, dan keteladanan.

Sungguh, sebagai suami dan seorang ayah, Rasulullah saw. selalu terjun langsung mendidik dan dakwah pada diri, istri, dan anak. Mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan kasih sayangnya. Beliau sebagai ayah yang begitu memuliakan dan memahami perasaan suka duka putri-putrinya.

Allah swt. mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras…” (Q.S At-Tahrim 66:6)

(Bersambung)

Dikutip dari bukun Jangan Galau Ukhti karangan Sasa Esa Agustiana

5

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

865

(Visited 131 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment