Agar Umat Islam Bersatu, Ini Yang Harus Kita Lakukan

Assalamu’alaykum. Pak Aam, Ummat Islam di Indonesia mayoritas namun sepertinya ukhuwah atau persatuan masih belum terwujud, seperti dalam pemilu baik pilpres maupun pilkada, termasuk saat ada pelecehan agama Islam dan ulama yang tidak kompak membela. Menururut pa Aam apa saja yang harus kita lakukan agar ummat ini bisa bersatu? Mohon nasihatnya dan terima kasih. ( Rio via email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Kang Rio, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian, soal belum adanya ukhuwah yang solid sesama muslim ini tentu saja apa yang menjadi kerisauan Anda juga menjadi kerisauan kita semua.

Akhir-akhir ini, umat Islam dihadapkan pada situasi yang sangat memprihatinkan. Hanya karena wadah organisasi sosial kemasyarakatan (ormas) atau organisasi sosial politik (orsospol) berbeda, kita saling bermusuhan, bahkan di sejumlah daerah saling menyerang dan menumpahkan darah. Masya Allah. Bagaimana umat Islam mau maju kalau segala urusan diselesaikan dengan cara kekerasan dan beda pendapat yang berujung perpecahan?

Bersikap lemah lembut, saling menghargai, menghormati, dan lapang dada terhadap sesama muslim merupakan modal penting kokohnya ikatan Ukhuwah Islamiyah. Sebesar apa pun jumlah kita, kalau tidak ada kesatuan, akan jadi bumerang. Sebaliknya, walaupun jumlah kita sedikit, tetapi kalau kuat akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Idealnya, jumlah yang besar didukung oleh soliditas yang mantap, insya Allah akan menjadi kekuatan yang dahsyat!

Umat Islam di Indonesia jumlahnya mayoritas, namun karena ukhuwah hanya sebatas khotbah, saling menghargai sebatas hiasan bibir, ta’awun (tolong menolong) sekadar motto, dalam tataran praktis justru merasa paling benar, paling Al-Qur’an-Sunnah, so suci,  dengki kalau orang lain maju. Pada akhirnya, kita menjadi permainan orang lain, tidak punya bargaining power (posisi tawar).

Nabi Saw. mengingatkan, “Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim. Karena itu, janganlah menganiayanya, jangan membiarkannya teraniaya, dan jangan menghinanya. Takwa tempatnya di sini! (sambil beliau menunjuk dadanya tiga kali). Alangkah besar dosanya menghina saudara sesama muslim. Setiap muslim haram menumpahkan darah sesama muslim, haram merampas hartanya, dan haram mencemarkan kehormatan dan nama baiknya.” (H.R. Muslim,  Jilid IV, No. 2193)

“Hindari prasangka buruk, karena dia berita paling bohong. Jangan saling mencari keburukan, jangan saling mengorek aib, jangan bersaing secara tidak sehat, jangan saling mendengki, jangan saling marah, dan jangan saling tidak peduli. Tetapi jadilah kamu semua bersaudara sebagai hamba-hamba Allah.” (H.R. Muslim, jilid IV, No. 2119)

Untuk itu, marilah kita implementasikan (terap­kan) Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman) menjadi darah daging kehidupan kita. Mulailah dari hal-hal kecil, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Tunjukkan Keramahan

 

Meski sepele, menunjukkan muka ramah kepada sesama saudara seakidah mampu menghadirkan rasa saling memiliki. Mari kita simak beberapa keterangan berikut ini.

“Janganlah kamu menganggap sepele (remeh) pada kebaikan, walaupun sekadar menampakkan wajah yang ramah saat bertemu saudaramu (sesungguhnya itu kebaikan).” (H.R. Muslim)

“Wajah yang ramah saat bertemu saudaramu, itu sedekah.” (H.R. Tirmidzi)

Intip pengakuan sahabat Jarir bin Abdullah r.a. yang memaparkan pengalamannya selama bergaul dengan Rasulullah Saw., “Sejak  masuk Islam, saya menyaksikan wajah Rasul selalu tersenyum ramah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

  1. Nasihati Secara Bijak

 

Jarir ibnu Abdullah r.a. menerangkan, “Saya bersumpah setia kepada Rasulullah Saw. untuk mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan memberi nasihat kepada sesama muslim.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Persahabatan yang sesungguhnya harus dibangun di atas cinta, kejujuran, dan nasihat. Kalau sahabat kita benar, dengan cinta, jujur, dan ikhlas kita mendukungnya, dan kalau keliru, dengan cinta dan jujur kita menasihatinya.

Semua orang punya harga diri dan kehormatan. Karena itu, nasihatilah dengan tetap menjaga kehormatannya. Walaupun nasihat kita benar, namun kalau dilakukan dengan menginjak-injak harga diri dan kehormatannya, kemungkinan besar orang tersebut bakal menolak. Maha benar firman Allah yang menyatakan,

“Serulah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Naĥl [16]: 125)

  1. Doakan

 

Doa yang paling tulus yaitu tatkala kita mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. Doa seperti ini akan di-amin-kan malaikat dan akan segera dikabulkan Allah Swt. sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

“Sesungguhnya doa seorang muslim yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan pasti dikabulkan karena di atas kepalanya ada malaikat. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan untuk orang lain, malaikat itu menyahutnya, ‘Amin! Mudah-mudahan Allah mengabul­kan­ dan memberikan kebaikan yang sama kepadamu.’” (H.R. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Bertolak dari keterangan ini, hendaklah kita selalu mendoakan orang lain tanpa harus dipinta. Begitu tahu sahabat kita sedang punya masalah, segera doakan agar ia bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, ini bukti bahwa kita bersikap lembut terhadap sesama muslim.

  1. Ringankan Beban Hidupnya

 

Di antara bukti bahwa kita bersikap lembut terhadap sesama mukmin adalah membantu meringankan beban hidupnya. Kalau dia butuh modal untuk pengembangan usahanya, bantulah kalau kita punya. Kalau dia butuh biaya untuk menyekolahkan anaknya, berilah beasiswa bila kita mampu. Kalau dia butuh dana untuk berobat, berilah kalau memang ada. Jadi, apa pun yang bisa kita lakukan untuk meringankan beban orang lain, lakukanlah. Kalau tidak bisa meringankan bebannya dengan harta, minimal kita mau mendoakannya. Ingatlah, Allah swt. akan senantiasa menolong kita selama kita suka menolong orang lain.

“Siapa yang menolong kesusahan seorang muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusaha akhirat. Siapa yang meringankan beban orang yang susah, niscaya Allah akan ringankan bebannya  di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain.” (H.R. Bukhari)

Itulah di antara usaha-usaha konkret untuk sampai pada persaudaraan yang hakiki. Kalau kita mampu bersikap lembut, saling menghargai, lapang dada, pemaaf, sibuk memperbaiki kekurangan sendiri hingga lupa kelemahan dan aib orang lain, insya Allah jasad kita tidak akan disentuh api neraka dan akan mendapatkan pertolongan-Nya.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku beritahu orang yang jasadnya tidak akan disentuh api neraka? Yaitu, setiap muslim yang bersikap lunak dan lemah lembut terhadap saudara seiman.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. berfirman pada hari kiamat, ‘Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini akan Aku naungi (tolong) mereka, di mana tidak ada naungan (pertolongan) yang lain selain dari-Ku.’” (H.R. Muslim, jilid IV, No. 2197).

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ukhuwah islamiyah segera terwujud dan ada dalam ridho Allah Swt. Wallahu A’lam . [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: antara

981

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 77 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment