Suami Selingkuh Bertahan Atau Bercerai? Begini Cara Mengatasinya

Assalamu’alaykum. Pak Aam, rumah tangga kami sudah berjalan lebih dari 15 tahun dengan mempunyai 3 orang anak. Dua tahun ini suami mempunyai pekerjaan (proyek) di luar kota sehingga harus bolak balik ke luar kota kadang hingga seminggu. Akhirnya cobaan dan godaan itu datang ketika suami ada main dengan teman wanitanya (selingkuh). Demi anak-anak saya coba bertahan sambil memperbaiki hubungan namun saya sepertinya sudah tidak sanggup lagi. Mohon nasihatnya pak ustadz bagaimana solusinya. Terima kasih ( F via email).

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya bu F, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian. Bahasan ini juga sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sejenis yang saya terima melalui email. Jadi begini, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh istri menyikapi perselingkuhan suami.

Pertama, berdoa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah Swt. Yang Maha Pembolak-balik hati agar suami selamat dari kemaksiatan dan terhindar dari perbuatan yang membuat situasi rumah tangga menjadi berantakan. Insya Allah akan tercipta keluarga yang berada dalam rel yang benar yang diridhai dan dicintai Allah Swt.

Hendaklah berdoa dengan bahasa yang dipahami atau kontekstual dan dengan penuh kerendahan hati.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 55)

Kedua, bersikap baik kepada suami. Jika disikapi dengan emosi dan perilaku yang tidak terpuji, misalnya mengeluarkan katakata kasar, bersikap memusuhi, apalagi tidak mau melaksanakan kewajiban sebagai istri (kebutuhan biologis), dikhawatirkan hal ini akan membuat suami semakin menjauh.

Keburukan tidak perlu dihadapi dengan keburukan, tetapi alangkah indahnya jika dihadapi dengan kebaikan. Lakukan yang terbaik sebagai istri, I do my best. Dengan demikian, mudah – mudahan hati suami tersentuh, bangga, dan kagum terhadap istrinya. Konsekuensinya, suami akan betah di rumah, setia, dan tidak akan berpaling ke lain hati karena terpuaskan kebutuhan lahir dan batinnya.

Memang tidak mudah, tetapi itulah perjuangan sebagai mediator untuk mendapatkan cinta Allah. Bukankah janji Allah Swt. sangat jelas bahwa Dia akan memberikan reward, yaitu surga yang penuh kenikmatan, bila semua itu dihadapi dengan penuh kesabaran (memaafkan, arif, dan bijaksana)?

Kebaikan tidak sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang memusuhimu akan seperti teman setia. Sifat-sifat yang baik tidak akan di-anugerahkan, kecuali kepada orang-orang sabar dan orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar..” (Q.S. Fushshilat [41]: 34-35)

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika perempuan mengerjakan shalatnya yang lima, puasa Ramadhan, memelihara kehormatannya dan taat kepada suaminya, akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Ketiga, istri berikhtiar untuk mengendalikan emosinya agar suami tidak merasa tertekan. Jangan terlalu menekan suami untuk mengakui kesalahan karena akan menambah permasalahan, bahkan bukan tidak mungkin jika suami sudah merasa kesal dan tertekan, dia melakukan hal-hal yang lebih jauh dan semakin tenggelam dalam perselingkuhannya. Yang urgen adalah inti solusinya, yakni “adanya perubahan” menuju rumah tangga yang harmonis, terjalin kembali kasih dan sayang antara suami, istri, dan anak.

Keempat, konsultasikan kepada orang yang tepat. Jangan diumbar, apalagi dipublikasikan. Sebaiknya konsultasi dilakukan kepada orang yang telah berhasil membuat solusi dalam permasalahan yang sama (senasib).

Kelima, melakukan introspeksi, memperbaiki diri lahir dan batin, bersikap terbuka (pemaaf), dan melakukan kewajibankewajiban sebagai istri yang baik.

“…Maka, perempuan-perempuan yang saleh adalah perempuan yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka…” (Q.S. An-Nisaa [4]: 34)

Poin-poin tadi memang tidak mudah direalisasikan. Oleh karena itu, barengi dengan berikhtiar, sabar, dan tawakal sampai ada solusi terbaik. Yakinlah bahwa Allah Swt. Yang Mahaadil, Maha Pengasih dan Penyayang akan memberikan solusi kepada hamba yang datang kepada-Nya. Ingat, yang diperhitungkan oleh Allah Swt. adalah proses, bukan hasil.

“Katakan, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Allah mengabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (Q.S. At-Taubah [9]: 105)

Jadikanlah hal itu sebagai media untuk semakin akrab dengan Allah Swt. sebagai pelajaran untuk menjadi lebih dewasa, mampu menyikapi kehidupan secara realistis, dan sebagai asset untuk kebahagiaan di masa mendatang.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Bisa juga kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al- Baqarah [2]: 216)

“Segala sesuatu yang ada di sisimu akan lenyap dan sesuatu yang ada di sisi Allah adalah kekal. Kami pasti akan memberi balasan kepada orang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 96)

BACA JUGA: Saat Suami Dekat Dengan Wanita Lain, Ini Yang Harus Istri Lakukan

Apabila ada permasalahan keluarga, hendaklah diselesaikan secara terbuka (jujur), terima suami apa adanya dengan bersabar (lapang dada), berorientasi ke masa depan demi kemaslahatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan anak-anak dengan menghadapi kenyataan yang dialami sebagai lahan ujian dari Allah Swt. untuk semakin dekat dengan-Nya. Mohonlah pertolongan-Nya agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam menyikapi semua itu dengan tetap konsisten melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik.

Namun sebaliknya, apabila situasi semakin kacau, istri merasa semakin terzalimi, suami menjauh, dan jika dipertahankan makin banyak kemudaratan (semakin menjauh dari Allah), solusinya ada dua, yaitu pertama, istri tetap sabar dan terus berikhtiar untuk menjadi istri yang baik dan bertawakal kepada Allah Swt. dan kedua, boleh melakukan khulu’, yaitu istri mengembalikan maskawin karena merasa terzalimi. Secara otomatis, pernikahannya batal atau cerai.

“… Jika kamu khawatir tidak mampu menjalankan hukum – hukum Allah, keduanya tidak berdosa apabila istri mengembalikan mahar yang pernah diterimanya sebagai tebusan dirinya…” (Q.S. Al- Baqarah [2]: 229)

Apa yang Anda alami atau jalani selama ini menurut hemat saya adalah sebuah pilihan. Anda bertahan demi anak-anak atau berpisah dengan suami adalah pilihan. Pastinya semua pilihan itu ada konsekuensinya. Anda bertahan demi anak-anak berarti Anda harus siap dengan pengorbanan batin Anda. Demikian juga Anda berpisah dengan suami, bisa jadi hati Anda lebih plong dan lepas dari beban batin tapi bisa jadi anak-anak yang akan mengalami kegoncangan jiwa dan sedikit terganggu psikisnya. Bagaimana pun juga Anda sendiri tentunya yang lebih tahu dan mengerti. Semoga Allah memberikan solusi yang terbaik. Demikian saran saya semoga bermanfaat. Wallahu’alam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

973

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 1,830 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment