Menikah Karena Dijodohkan, Bagaimana Cara Menumbuhkan Cinta?

Pasutri Marahan

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, pernikahan kami seperti sebuah sinetron dimana saya menikah karena dijodohkan oleh orangtua. Demi ingin membahagiakan mereka dan mungkin ini salah satu cara saya berbakti kepada orangtua maka ini kami jalani. Namun setelah membina rumah tangga selama 3 bulan ini masih hambar dan sepertinya biasa saja. Untungnya selama ini kami tidak ada cek cok dan berjalan apa adanya. Selain itu suami sangat sabar, baik dan rajin ibadah. Saya sendiri ingin menjadi anak yang berbakti pada orangtua juga taat pada suami sekaligus menjadi istri shalihah. Menurut pak ustadz, kira-kira apa yang harus saya lakukan agar tumbuh cinta pada suami?Bagaimana saya menjalani rumah tangga seperti ini? Mohon nasihatnya. (Lyla via email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Teh Lyla, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian. Begini, apa yang Anda alami sudah terjadi maka cara terbaik adalah cobalah Anda berusaha menerima semua ini dengan lapang dada dan berusaha untuk ikhlas. Menurut hemat saya, Anda tentu tidak sepenuhnya salah menjalani rumah tangga demikian sebab salah satu keharmonisan rumah tangga adalah harus ada cinta dulu atau istilahnya ‘ngeklik’ dengan suami atau istri.

Perasaan cinta itu penting dalam membangun mahligai rumah tangga. Dalam Islam, Rasulullah juga menanamkan cinta kepada ummat ketikan akan membangun rumah tangga atau menikah. Kita bisa baca kisahnya ketika ada seorang sahabat beliau yang hendak menikah. Saat itu seorang sahabat beliau hendak melamar seorang wanita. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran kepadanya,

Lihat dulu calon istrimu, karena itu akan lebih bisa membuat kalian saling mencintai”. (Ahmad dan Turmudzi)

Jadi sebelum menikah perasaan saling mencintai itu penting sebab kita akan menjalani rumah tangga dengan suami atau istri kita bukan orang lain. Makanya ini bisa menjadi pelajaran bagi para orangtua agar tidak memaksakan kehendak kepada putra putrinya dalam memilih pasangan atau jodoh. Tentu saja orangtua berhak memberi saran atau nasihat kepada anak terkait calon suami atau istrinya. Namun jangan sampai memaksakan kehendak. Ingat bahwa yang akan menjalani rumah tangga itu mereka buka kita selaku orang tuanya.

Kembali ke permasalahan Anda, bahwa dalam hidup ini setidaknya ada 3 tingkatan cinta yakni rahmah adalah cinta yang tidak terhingga dari Allah kepada makhluk-Nya. Ada mawaddah atau cinta yang tidak terhingga dari mahluk kepada mahluk, sesama manusia, misalnya orangtua kepada anaknya. Kemudian mahabbah atau cinta yang bersifat sementara terhadap suatu objek atau cinta yang terbatas.

Kita sering mendengar atau membaca bahkan mendoakan kepada pengantin, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Rahmah disini tentu berharap Allah Swt memberikan cinta-Nya kepada kita selaku suami istri hingga akhir hayat.

Lalu bagaimana dengan rumah tangga yang sudah Anda jalani ini? Ya, menurut saran saya tadi, coba Anda untuk menerimanya dengan ikhlas, siapa tahu ini adalah salah satu jalan Anda meraih ridho-Nya dan surga-Nya kelak. Apalagi seperti yang Anda akui sendiri bahwa suami Anda adalah pria yang baik, sabar dan rajin ibadah. Menurut saya, Anda masih beruntung memiliki suami yang demikian. Jadikan itu modal Anda untuk membangun rumah tangga yang bahagia.

Terkait bagaimana Anda membangun atau menumbuhkan perasaan cinta atau mawaddah kepada suami?. Anda bisa belajar dari kesuksesan rumah tangga orang lain atau orang-orang shalih. Dalam hal ini atau cara menumbuhkan perasaan cinta atau mawaddah setidaknya ada cara yang bisa kita lakukan,

Pertama, katsratut-tahaady yakni saling menghargai dan saling memberi hadiah, seperti ungkapan Nabi Saw. ”Dengan saling memberi hadiah cinta akan selalu hangat”.

Kedua, katsratu dzikrihi yakni saling mengingat-ingat    kebaikan dan jasa-jasnya ,  karena dengan mengingat kebaikannya akan semakin mempererat hubungan dan kasih sayang.

Ketiga, katsratul Ittishaali ma’ahu  atau saling berkomunikasi, sebab  komunikasi sehat  akan menghilangkan prasangka dan segala macam curiga.

Insya Allah dengan melakukan minimal tiga langkah atau cara tersebut Anda dapat menjalani rumah tangga dengan bahagia. Anda masih mempunyai waktu untuk itu dan belum terlambat untuk memulainya.

Ingat, bahwa keluarga sakinah, mawaddah dan penuh rahmah itu diraih bukan dengan kemujuran atau hadiah dari seseorang tetapi digapai melalui perjuangan yang tak mengenal lelah. Keberhasilan rumah tangga itu diraih dan dibangun bukan itungan tahun bahkan puluhan tahun hingga akhir hayat.

 

BACA JUGA: Mengatasi Istri Yang Pemcemburu Berat

 

Jadi saran saya, tetaplah optimis dan iringi dengan doa, sebab pada hakikatnya yang mendatangkan atau menumbuhkan perasaan cinta dan benci itu adalah Allah Swt. Maka itu minta dan berdoalah kepada Allah dibarengi dengan amal shalih agar Anda dan suami ditumbuhkan perasaan cinta yang hakiki.  Demikian jawaban saya semoga bermanfaat.

Nah, terkait permasalahan rumah tangga berikut solusinya Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Ada pembahasan lebih detail berikut contoh kasusnya dan solusinya yang sesuai dengan bingkai syariah. Wallahu’alam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 353 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment