Hukum Membayangkan Orang Lain Saat Berhubungan Intim, Bolehkah?

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya punya masalah dalam berhubungan intim dengan suami, soalnya dulu dia pernah selingkuh. Sejak saat itu saya malas untuk melayani suami. Karena saya takut dosa, saya memaksakan diri untuk melayani, namun dengan malas-malasan sehingga saya sulit untuk merasakan ejakulasi. Akhirnya saya berinisiatif untuk membayangkan orang lain pada saat berhubungan. Dengan harapan saya dapat ejakulasi dan rela untuk melayani. Pertanyaannya, berdosakah apa yang saya lakukan? Apakah saya mengalami sakit atau gangguan? Bagaimana solusinya? Mohon nasihatnya dan terima kasih. ( L via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya ibu L dan sahabat-sahabat sekalian. Begini, menurut pakar seksologi maupun kalangan psikolog bahwa yang namanya hubungan intim suami istri bukan hanya sekedar hubungan fisik namun juga melibatkan psikis sehingga tujuan berhubungan intim bukan sekedar terpenuhinya unsure biologis semata. Namun adanya unsure ketenangan dan kebahagian secara psikis yakni jiwa yang bahagia.

Sebenarnya, hal yang paling nakal dari diri kita adalah pikiran. Karena, pikiran itu sesuatu yang tidak bisa dilihat. Sementara hukum hanya mengatur hal-hal yang lahiriah, yang dapat dilihat. Jadi, kalau Anda bertanya mengenai halal/haram atau boleh/tidak boleh, sebenarnya itu masuk ke dalam wilayah hukum.

Dalam ajaran Islam bahwa yang namanya jima’ atau hubungan suami istri adalah ibadah yang bernilai pahala, seperti yang disampaikan Rasulullah Saw bersabda,

Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

 

Sebab behubungan intim dengan suami istri adalah ibadah maka salah satu unsur ibadah itu harus landasi dengan niat lurus dan ikhlas. Puncak kenikmatan bersetubuh tersebut dinamakan orgasme atau faragh. Meski tidak semua hubungan seks pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil hukumnya wajib. Yang dimaksud faragj yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

 

Mengapa wajib? Karena faragh bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam jima’, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar islam, la dharara wa la dhirar (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.

Hubungan intim dengan suami itu ibadah, karena ketika Anda melakukan hubungan intim dengan suami, itu bagian dari sesuatu yang dihalalkan dalam akad nikah. Bahwa kemudian saat berhubungan intim itu ada pikiran yang terlintas, bahkan (maaf) sampai mempengaruhi semangat berhubungan intim, itu sudah bukan wilayah hukum. Karena, hukum hanya mengatur hal-hal yang bersifat lahiriah, yang dapat dilihat, sedangkan pikiran tidak dapat dilihat.

 

Jadi tidak salah kalau tiba-tiba Anda teringat dengan seseorang yang membuat Anda (maaf) berselera ketika sedang berhubungan intim dengan suami. Lain halnya jika Anda dengan sepenuh hati meniatkan atau menyengaja untuk membayangkan laki-laki lain, ini yang salah. Sebab, ini bisa masuk kategori dengan zina hati seperti yang diingatkan Rasulullah bahwa zina mata dengan melihat,zina tangan dengan memegang dan zina hati dengan menginginkan. Untuk itu, Anda jangan terlalu bergantung kepada imajinasi Anda, karena hal itu akan membuat hati tidak sehat dalam membina rumah tangga khususnya dalam melayani suami.

 

BACA JUGA: Frekuensi Hubungan Suami Istri Menurut Islam

 

Terkait solusi, menurut hemat saya, Anda harus komunikasikan dengan suami tentang hati Anda yang belum sepenuhnya bisa menerima kesalahan suami. Tentu harus disampaikan dengan tenang, tidak emosi, santun dan dalam keadaan santai. Jika perlu Anda dan suami bisa konsultasi dengan psikolog untuk bisa saling terbuka untuk mencari solusi yang sama-sama nyaman karena masalah psikologis Anda. Sebab yang namanya luka hati itu kan susah untuk disembuhkan dari luar (orang lain) dan yang bisa mengobati tentu Anda sendiri.

 

Kesimpulannya, kalau Anda jadi tidak mau berhubungan intim lagi dengan suami karena suami ketahuan berselingkuh, sebenarnya menurut hemat saya, Anda tidak terlalu berdosa karena itu kelakuan atau kesalahan yang dibuat suami Anda. Kecuali, kalau suami Anda tidak melakukan apa-apa dan Anda tidak mau ‘melayani’ nya dengan baik, itu baru Anda berdosa besar. Jadi, hal-hal seperti ini harus diperhatikan karena bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga Anda. Kembalilah kepada rambu-rambu agama supaya kehormatan kita terjaga.Hubungan intim suami istri adalah salah satu cara dalam membangun dan mempertahankan keluarga yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah.

 

Nah, terkait pembahasan masalah dan solusi hubungan suami istri lebih detail Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “CINTA & SEKS Keluarga Muslim” yang saya tulis bersama dr Untung. Selain bahasan atau tinjauan dari sisi medis juga ada pembahasan dari sisi syari’inya sehingga jauh dari kesan jorok. Ini buku ilmiah juga syari’iyah.

Wallahu a’lam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 1,491 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment