Hukum Menikah Dengan Paranormal, Boleh atau Terlarang?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, teman saya (laki-laki) berencana menikahi seorang paranormal (peramal). Setiap dimintai bantuan (kliennya) ia melakukan puasa beberapa hari dan melakukan ritual layaknya seorang dukun. Ia sendiri berpenampilan modern dan praktinya dilakukan di rumah atau di hotel. Meski mengaku beragama Islam namun dia (calon istrinya tersebut) tidak pernah mengerjakan shalat dan kewajiban lainnya. Beberapa teman termasuk orangtuanya melarang menikahi wanita tersebut karena katanya masuk kategori wanita musyrik. Calonnya tersebut pernah berjanji akan mengerjakan semua perintah agama termasuk shalat dan umroh setelah menikah. Benarkah ia termasuk wanita musyrik? Bagaimana hukumnya jika jadi menikah dan solusinya? Mohon nasihat dan penjelesannya. ( Dens via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb.  Iya Pak Dens, mojang bujang dan sahabat sekalian. Begini, di zaman sekarang ini kadang profesi dan cara tradisional itu dikemas dengan bungkus modern. Contohnya begini, seperti yang Anda sebutkan tadi. Dulu yang tukang ramal itu disebut dengan dukun namun sekarang disebut dengan paranormal, ajengan, kiai bahkan ustadz. Penampilannya pun berubah, kalau dulu serba hitam dan terkesan seram atau menakutkan tapi sekarang bergaya modern, rapi, ramah dan sebagainya.

Begitu pun dengan tempat praktiknya, kalau dulu di kampung-kampung, di goa atau di hutan namun sekarang di rumah mewah kadang di hotel dan sebagainya. Namun intinya sama mereka tetap seorang dukun hanya kemasannya saja yang beda. Sekali lagi hakikatnya sama dengan dulu sehingga bukan penampilan atau caranya dihukumi namun hakikatnya yakni kegiatan atau praktik yang menyekutukan Allah dengan menganggap ada kekuatan lain dan ini terkategori musyrik.

 

Lalu bagaimana jika ada laki-laki beriman atau perempuan beriman yang akan menikahi wanita atau pria musyrik? Jelas hukumnya haram. Coba simak surat Al-Baqarah (2) ayat 221, dimana Allah menerangkan tentang larangan pernikahan dengan laki-laki atau perempuan musyrik. Jika dipaksakan, pernikahannya tidak sah.

“Jangan kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, hamba sahaya perempuan beriman lebih baik daripada perempuan musyrik yang menarik hatimu. Jangan pula kamu nikahkan laki-laki musyrik dengan perempuan yang beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, hamba sahaya laki-laki beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik yang menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajakmu ke surga dan memberi ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat-ayat- Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.”

Laki-laki muslim boleh menikah dengan perempuan yang tadinya musyrik kemudian masuk Islam dengan penuh kesadaran, yaitu perempuan yang keimanannya telah teruji. Coba kita perhatikan Al Quran,

Hai, orang-orang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, ujilah keimanan mereka. Allah lebih mengetahui keimanannya. Jika kamu telah mengetahui mereka benar-benar beriman, jangan kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (walaupun itu suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir tidak halal bagi mereka…” (Q.S. Al-Mumtahaanah [60]: 10)

Jika setelah menikah istri atau suami tersebut kembali murtad, otomatis pernikahannya batal (cerai atau fasakh [batal demi hukum]). Sebaliknya, sebagaimana haramnya perempuan menikah dengan Ahli Kitab, perempuan juga diharamkan menikahi laki-laki musyrik, kecuali mereka telah menjadi mualaf. Namun, apabila setelah pernikahan suami murtad kembali, pernikahannya otomatis batal. Mereka tidak bisa saling mewarisi jika ada di antara mereka yang meninggal dunia.

 

BACA JUGA: Hukum Menikahi Pezina

 

Solusinya bagaimana? Tentu yang terbaik adalah calon istri teman Anda tersebut masuk Islam, mendapat pembinaan dan melaksankan perintah Allah khususnya shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Jadi jangan sebaliknya seperti janjinya tersebut, akan beribadah setalah menikah. Ini tidak boleh, jangan jadikan menikah sebagai syarat untuk taat kepada Allah dengan ibadah. Harusnya dibalik, taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya sehingga dikatakan beriman, kemudian  baru menikah.

Untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah sesuai dengan statemen Surat Ar-Ruum (30) ayat 21, suami dan istri harus melaksanakan hak dan kewajibannya di dalam rumah tangga yang telah diikat oleh sebuah perkawinan. Bagaimana bisa melaksankan hak dan kewajiban sesuai perintah Allah sementara taat kepada Allah saja tidak?.

Nah, menurut hemat saya, teman Anda tersebut harus dijelaskan dan diberi kesadaran. Demikian juga calonnya tersebut. Jangan sampai hidup dalam rumah tangga dalam yang diawali dengan proses yang tidak sah dan hanya mengundang kemurkaan Allah. Wallaahu a’lam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 184 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment