Menikah Dalam Masa Iddah, Apakah Sah?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya seorang duda yang digugat cerai oleh istri saya. Saya mempunyai satu orang anak perempuan. Mantan istri saya sudah menikah lagi dengan laki-laki selingkuhannya, padahal masa iddahnya belum habis. Pertanyaan saya, kalau mantan istri saya itu memberikan barang atau uang pada anak saya apakah itu haram pemberiannya? Dan apakah pernikahan mantan istri saya itu sah? (D via email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Pak D (karena tidak mau disebut namanya, red), mojang bujang dan para pembaca sekalian. Begini, salah satu syarat pernikahan yang sah bagi seorang janda adalah masa iddah harus habis atau selesai.  Kita bisa merujuk pada firman Allah tentang hukum perceraian, bahwa seorang wanita apabila bercerai, belum boleh menikah lagi sebelum masa iddahnya habis, ini bisa dilihat dalam surat Al-Baqarah ayat 228.

Para istri yang diceraikan wajib menahan diri mereka selama tiga quru. Mereka tidak boleh menyembunyikan janin yang diciptakan Allah dalam rahim mereka jika beriman kepada Allah dan hari akhir. Sesungguhnya, para suami mereka lebih berhak rujuk dengan istrinya dalam masa tiga kali quru’ itu jika mereka menghendaki rujuk kembali. Para wanita mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi, para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Di ayat itu ada kata-kata, “para suami mereka lebih berhak rujuk dengan istrinya”, apabila mereka memandang itu akan menjadi kemaslahatan. Jadi teteh-teteh atau khususnya para ibu atau istri, kalau Anda bercerai, tolong perhatikan masa iddah. Karena pernikahan tidak akan sah apabila Anda masih berada di masa iddah.

Jadi rujuk itu bisa dilakukan, bahkan harus dilakukan sekiranya mereka yakin pernikahan itu bisa diselamatkan kembali. Berarti, masa iddah itu dimana suami masih lebih berhak, bahkan di masa iddah itu, mantan suami walaupun sudah ketok palu cerai, mantan suami masih wajib menafkahi istrinya. Kemudian masih boleh tinggal serumah dengan mantan istrinya. Dan yang tidak boleh dilupakan, apabila salah seorang diantara mereka meninggal padahal masih ada masa iddah, mereka masih bisa saling mewarisi.

Jadi yang harus diperhatikan, masa iddah itu sebenarnya masa dimana mahram masih terjadi. Oleh sebab itu tidak sah seorang perempuan menikah saat masih dalam masa iddah. Inilah pentingnya masa iddah. Masa iddah itu adalah tiga kali bersih dari menstruasi lalu apabila dalam keadaan hamil, maka masa iddah nya adalah sampai ia melahirkan.

 

BACA JUGA: Hukum Nikahi Siri

 

Apabila seorang istri ditinggal wafat oleh suaminya maka masa iddahnya adalah 4 bulan 10 hari. Dan talak itu hanya dua kali jatahnya yang bisa dirujuk. Jadi apabila sudah dua kali rujuk lalu ada perceraian untuk ketiga kalinya, maka itu tidak boleh, kecuali wanita itu harus dinikahi dulu oleh orang lain, baru boleh kembali pada suami pertamanya.

Lalu apakah mantan istri memberikan barang atau uang pada anaknya itu haram? Itu tidak haram. Jadi masalah masa iddah yang belum selesai itu tidak ada kaitannya dengan pemberian ia pada anaknya. Jadi yang tidak sah itu adalah pernikahannya (mantan istri Anda) dengan suami barunya, harus diulang karena itu tidak sah. Kalau dia memberi sesuatu pada anaknya, tentu itu sesuatu yang halal. Wallahu’alam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

945

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

(Visited 510 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment