Pentingnya Al Quds ( Yerusalem) Bagi Ummat Islam

 

Oleh: Muhammad Edgar Hamas*

 

PERCIKANIMAN – – Apa yang Anda bayangkan ketika kamu menonton Film Thor? Ketika suatu ketika dalam adegannya, Thor mengangkat palunya -Mjolnir- ke langit dan seketika pintu antar galaksi terbuka menuju Asgard. Sekilas saja kita sudah tahu bahwa hal semacam itu hanya mengada-ada. Tapi sayangnya, kenapa banyak pemuda muslim memasang poster Thor di kamarnya?

 

Padahal ada sebuah peristiwa yang lebih gagah, lebih heroik, lebih hebat dan lebih ‘cool’. Itulah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Muhammad ﷺ. Sebuah momentum agung yang diabadikan dalam Al Quran surat Al Isra ayat 1. Disitulah Rasulullah ﷺ mengadakan perjalanan semalam saja dari Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Al Aqsha di Palestina. Sebuah perjalanan yang pada zaman itu hanya bisa ditempuh dalam 3 bulan perjalanan.

 

Dari Al Aqsha, Rasulullah ﷺ mengendarai Buraq, bersama Jibril mengilat terbang menuju lapisan langit dunia sampai ujungnya. Sesampainya di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ menerima perintah shalat, ibadah agung yang menghebatkan siapapun dan menenangkan dalam keadaan apapun.

 

Pertanyaannya sederhana saja; bukankah Rasulullah ﷺ bisa saja naik ke langit dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha? Sebab Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Namun Isra’ Mi’raj menyuguhkan kita sebuah fakta; Allah ingin memberi ilmu pada kita bahwa Al Aqsha menjadi tempat Mi’rajnya Nabi, sebab disanalah gerbang langit berada. Banyak kemudian Ulama menyatakan bahwa Al Quds adalah “Kunci Bumi dan Gerbang Langit.”

 

“Allah memilih Al Aqsha sebagai tempat akhir Isra dan tempat bermula Isra’ bukan karena iseng atau asal-asalan”, kata DR Tariq Suwaidan, “melainkan ada nilai istimewa dan hikmah luarbiasa, dan semuanya atas pengaturan Allah nan Maharapi. Salah satunya; agar Rasulullah ﷺ dapat bertemu para Nabi dan Rasul kemudian menjadi imam shalat mereka.”

 

Dengan Rasulullah mengimami para Nabi dan Rasul di malam Mi’raj itu, mendeklarasikan secara resmi bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah menjadi pemimpin baru untuk seluruh Nabi. Dan risalah kepemimpinan agama langit telah berpindah dari Bani Israil ke sebuah umat yang baru, dengan kitab suci yang lebih sempurna, dan dan Rasul yang menyempurnakan.

 

Umat yang baru ini, Rasul yang baru ini, dan kitab suci yang sempurna ini pun bukan untuk satu bangsa saja, melainkan untuk seluruh tataran alam semesta, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” [QS Al-Anbiya’ 107]

 

Dalam perjalanan itu pulalah kita mengenal Buraq, seekor hewan yang jadi kendaraan Rasulullah ﷺ, yang pada malam Mi’raj, Rasulullah menambatkan Buraq itu di salah satu sisi Masjidil Aqsha. Kita menamakannya “Ha’ith Buraq”, yakni Dinding Buraq, yang sayangnya kini diklaim oleh zionis Yahudi sebagai tembok ratapan mereka.

 

“Pelajaran berharga yang bisa kita renungkan dari Isra dan Mi’raj adalah; hubungan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha sangatlah erat. Hubungan ini sejatinya mesti terinstall dengan baik di hati dan kepala setiap muslim, yakni takkan memisahkan sebagaimana ia mengharap datang ke Masjidil Haram, maka ia juga berharap datang ke Masjidil Aqsha”, kata Syaikh Raid Shalah.

 

“Dan barangsiapa yang meninggalkan atau mencampakkan satu diantara keduanya, maka ia telah berbuat sewenang-wenang”, lanjutnya.

Semoga bermanfaat dan membuka wawasan kita tentang bumi perjuangan Ummat Islam. Wallahu’alam [ ]

Referensi Terkait :

  1. Filisthîn; Tarikh Mushawwar, DR Tariq Suwaidan
  2. Ensiklopedia Mini Al Aqsha, Asia Pasific Community for Palestine (ASPAC)
  3. Al Quds Qadhiyyatu Kulli Muslim
  4. Al Quds, Baina Al Islam Wa Al Yahud, DR Muhammad ‘Imarah.

5

 

*Penulis adalah mahasiswa Islamic University of Madinah Al Munawwarah Saudi Arabia

 

870

Editor: iman

Ilustrasi foto: alarabiya

(Visited 151 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment