Muslim Memakai Atribut Natal, Apakah Sebuah Takdir?

Assalamu’alaikum. Pak Aam, ada yang mau saya tanyakan, kebetulan saya bekerja di sebuah restoran milik orang non muslim. Pada bulan ini akan datang hari kebesarannya, yaitu hari natal maka kami diwajibkan memakai aksesoris natal, seperti, topi sinterklas, sedangkan saya memakai kerudung. Saya sempat menolak dan sempat mau dikeluarkan. Bagaimana hukumnya soal tuntutan kerja ini ustadz? Apakah ini takdir saya yang bekerja pada non muslim? Mohon penjelasannya. (Sari via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya saudari Sari, mojang bujang dan sahabat sekalian. Pertanyaan sebenarnya sudah sering kita bahas khususnya pada bulan Desember sekarang ini namun untuk menguatkan yang sudah tahu dan menginformasikan yang belum coba kita bahas lagi.

Begini, secara tegas tidak ayat atau hadits tentang larangan memakai atribut natal ini. Untuk itu setidaknya ada dua pendapat dikalangan ulama mengenai permasalahan ini. Pendapat pertama mengatakan tidak boleh, atau mengharamkannya. Hal ini berkaitan dengan hadits larangan mengikuti suatu kaum. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw, dari Amr ibn Syu’aib bahwasanya Rasulullah Saw bersabda,

Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR. At Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain dari Ibn Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda,

Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud)

Setidaknya dari dua hadits ini para ulama menganggap bahwa memakai atribut agama lain dalam hal ini atribut atau asesoris Natal sebagai perayaan agama kaum Nasrani adalah bagian dari mengikuti atau setidaknya menyerupai mereka, sehingga para ulama mengharamkan memakainya.

Sementara pendapat kedua yang membolehkan hal ini dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat diterima. Menurut para ulama yang membolehkan atribut Natal menganggap bahwa atribut atau asesoris natal bukan bagian dari ibadat. Asesoris atau atribut hanya dipahami sebagai sebuah budaya atau tradisi saja. Dalilnya,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujuraat [49]: 13)

Di dalam terjemahan ayat diatas disebutkan, “…menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….,” yang dimaksud saling kenal-mengenal adalah agar kita memahami budaya kita masing-masing. Dalam hal ini atribut atau asesoris natal dianggap sebagai budaya natal.

Akan tetapi, ketika sudah menyangkut mengenai peribadatan, tentu ini berbeda yang masuk kategori haram adalah ketika Anda mengikuti ritual natal, seperti, datang ke gereja kemudian terlibat dalam acara pemberkatan, pemercikan air suci, baptis dan sebagainya.

Ini mungkin akan berbeda kebijakan dengan di Negara –negara lain .Di Indonesia sendiri ada yang namnya Fatwa MUI no 56 tahun 2016 yang mengatur hal tersebut. Kalau yang saya pahami dari fatwa tersebut adalah satu, menggunakan atribut keagamaan non muslim adalah haram. Kedua mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.

Menurut hemat saya, Anda harus punya pendirian atau sikap baik ikut anjuran atasan (owner) atau menolaknya memakai atribut Natal tersebut. Jika menolak maka sampaikan dengan bijak dan santun alasan atau argumennya. Mudah-mudahan atasan Anda bisa paham. Jika akibat dari penolakan tersebut Anda dikeluarkan dari tempat kerja maka anggap saja itu bagian dari usaha Anda dalam mempertahankan keyakinan atau aqidah. Yakinlah bahwa Allah Maha Kaya  dan Maha Luas dalam memberikan rezeki kepada hamba-Nya yang bertakwa.

Begitu pun sebaliknya, jika Anda terpaksa mau memakai atribut atau asesoris natal maka sampaikan kepada rekan atau keluarga bahwa sebenarnya Anda terpaksa. Tentu resikonya ada, bisa jadi Anda akan dianggap tidak konsisten dalam memegang teguh ajaran agama dan nasihat para ulama khususnya MUI.

BACA JUGA: Hukum Mengucapkan Natal Menurut Al Quran

 

Namun jangan anggap atau Anda merasa ini adalah takdir, sebab Anda diberi pilihan ikut atau menolak. Menurut saya, ini bukan takdir tapi pilihan. Perlu dipahami bahwa yang namanya takdir itu tidak bisa diprediksi atau tidak ada pilihan. Tapi kasus Anda ini kan lain. Anda diberi pilihan untuk menentukan sikap. Tentu semua pilihan akan ada konsekuensi atau resikonya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu a’lam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

(Visited 446 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment