Berdzikir Itu Sebaiknya Berjamaah atau Sendiri?

berdoa berdzikir

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya baru pindah rumah ke daerah baru. Di masjid dekat tempat tinggal yang baru ini setiap selesai shalat wajib khususnya Subuh, Maghrib dan Isya selalu diadakan dzikir berjamaah. Saya sendiri hanya ikut sekali saja dan setelahnya saya ditegur karena tidak ikut. Saya jadi seperti kurang disukai kalau shalat berjamaah dengan mereka. Bagaimana cara zikir atau wirid ba’da shalat wajib sesuai yang dicontohkan Rasulullah Saw.? Apakah setelah salat wajib Rasulullah memimpin doa secara berjamaah dan dzikir berjamaah? Bagaimana sikap saya tetap shalat disitu atau pindah masjid? Mohon penjelasannya. (Ronny via email)

 

 

Wa’alaukumsalam Wr Wb. Iya pak Ronny dan sahabat-sahabat sekalian. Begini, jika kita mencontoh maka dzikir atau wirid yang dilakukan Rasulullah Saw. setiap ba’da shalat adalah sebagai berikut.

 

Beliau membaca Istighfar (Astaghfirullahal‘azhim) sebanyak tiga kali, kemudian membaca “Allahumma antas-salam waminkas salam tabarakta dzaljalali wal ikram.” (H.R. Muslim dari Tsaban r.a.). Lalu membaca: Tasbih,  “Subhanallah” 33 kali,  Tahmid,  “Alhamdulillah” 33 kali,  dan  Takbir  “Allahu Akbar” 33 kali. Diteruskan dengan membaca: “Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodir.” (Tidak ada Tuhan  kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya kerajaan ini dan bagi-Nya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).

 

Hal ini merujuk pada hadis berikut. Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

 

”Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali,  takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian digenapkan menjadi seratus kali dengan membaca “laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodir”,  maka diampuni Allah segala kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan.”  (H.R. Muslim).

 

Setelah itu, silakan berdoa (secara individual) sesuai dengan keinginan dan harapan masing-masing, dengan suara lembut, penuh kerendahan hati (khusu’), dan husnuzhan (berbaik sangka) bahwa Allah akan mengabulkan.

 

“Dan sebutlah nama Tuhan dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al’Araf 7: 205). “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman, ’Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepada-Ku.’” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

“Wahai manusia, jika kamu memohon kepada Allah swt., maka mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa yang keluar dari hati yang pesimisi.” (H.R. Ahmad).

 

Bertolak dari analisis di atas jelaslah bahwa tidak ada satu pun dalil sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. memimpin doa setelah shalat wajib. Bagi para  pembaca yang pernah shalat di Masjidil Haram di kota Mekah atau Masjid Nabawi di Madinah tentu akan tahu, bahwa para imam di sana tidak ada satu pun yang memimpin doa setelah shalat wajib.

 

Kesimpulannya, tidak satu pun dalil shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw memimpin doa setelah shalat wajib. Doa dan zikir diserahkan pada individu masing-masing alias tidak dipimpin. Berdzikir itu dalam rangka mengingat Allah maka sebaiknya dilakukan dengan khidmat dan khusyuk.

 

Terkait dengan sikap jamaah kepada Anda mungkin itu disebabkan mereka belum tahu. Sebaiknya Anda juga bisa menjelaskan, mengapa Anda tidak berdzikir bersama mereka setelah shalat. Insya Allah jika dijelaskan secara baik dan santun maka bisa dipahami. Hemat saya, sebaiknya Anda tetap shalat di masjid terdekat sebagai sarana silaturrahmi dan menjaga ukhuwah. Jangan sampai Anda tiba-tiba tidak mau berjamaah dengan mereka yang justru bisa menimbulkan prasangka negatif dan hubungan yang kurang harmonis. Berdzikir baik sendiri atau bareng-bareng itu hanya cara atau ikhtiar saja, namun yang utama adalah menjaga ukhuwah dengan shalat berjamaah.   Wallahu A’lam. [ ]

 5

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

930

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 264 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment