Umroh Dengan Uang Pinjaman, Bagaimana Hukumnya?

haji indonesia

Assalamu’alaykum, Pak Aam, di kantor saya diadakan program umroh untuk karyawan dan karyawatinya dimana karyawan yang berangkat, dilihat dari masa kerjanya. Tetapi kantor tidak full menanggung biayanya. Jadi kekurangannya menjadi tanggung jawab karyawan tersebut. Kalau karyawan tersebut memaksakan diri pergi umroh dengan uang pinjaman, bagaimanakah hukumnya? Mohon nasihatnya. (Yulia via email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya teh Yulia dan mojang bujang serta sahabat-sahabat sekalian. Begini, pertama, kita harus melihat, pinjaman itu ada dua, ada pinjam yang jelas ada sumber pembayarannya, ada juga pinjam yang nekat. Yang pertama, jelas dan terukur bagaimana kita membayarnya dan kapan kita dapat melunasinya, maka berumroh atau berhaji dengan dana pinjaman, tentu tidak ada masalah dan diperbolehkan. Yang tidak boleh adalah, kita meminjam uang padahal kita sadar kalau gaji kita tidak akan cukup untuk melunasinya, malah akan menimbulkan mudharat setalahnya.

 

Baca juga: Larangan “Selfie” di Masjidil Haram dan Nabawi

 

Jadi kalau anda sebagai karyawan mendapat fasilitas untuk umroh, tapi tidak full maka Anda harus meminjam sisanya. Menurut hemat saya, kalau Anda yakin bisa membayarnya dengan penghasilan Anda, tentu itu diperbolehkan dan sah-sah saja. Tapi kalau Anda tidak yakin bisa membayar hutangnya atau terlalu berat serta akan menjadi beban lalu Anda nekat meminjam uang untuk umroh maka itu tidak dianjurkan.

Saya menyarankan Anda untuk memikirkan lagi, apalagi kalau Anda sudah berkeluarga maka harus dikomunikasikan dengan suami. Atau kalau masih single maka baiknya dimusyawarahkan dengan orangtua dan terbuka saja bahwa Anda umroh itu hadiah dari kantor namun sebagian uang pinjaman. Hal ini tentu untuk menjaga kejadian yang tak diinginkan.

Perlu dipahami oleh kita semua bahwa yang namanya haji dan umroh itu diperuntukkan bagi yang mampu. Dalam satu keterangan disebutkan, “diwajibkan seseorang berhaji apabila ia mampu.” Yang perlu digarisbawahi adalah kata “mampu”, kata tersebut bisa berarti mampu secara materi, bisa juga secara fisik, bisa juga secara intelektual.

Ada orang yang umurnya masih muda namun sudah mengalami kepikunan, yang seperti ini menjadi tidak wajib bagi dia untuk berangkat haji. Ada juga orang yang mampu secara materi, tapi ia terkena sakit, maka ia tidak kena kewajiban untuk haji. Ini yang harus diperhatikan dalam permasalahan haji dan umroh. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: kemenag

960

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 196 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment