Cara Menjalani Ikhtiar Kehamilan Dengan Sabar dan Optimis

Assalamu’alaykum. Pak Aam, Bagaimana, cara sabar dan ikhtiar dalam islam, Saya berusia 39 tahun, sekarang tinggal di Jepang bersama suami. Alhamdulillah aplikasi Pak Aam menjadi obat kangen saya dengan MPI, KII, dan Kota Bandung. Pak Aam, saya dan suami sedang diuji kesabaran, karena hingga saat ini belum diberi keturunan. Secara medis harus melalui bayi tabung, jika ingin hamil. Saya ikhtiar satu kali melakukan bayi tabung, tapi belum berhasil. Bulan ini saya akan coba lagi tapi masih bingung karena ada dua pilihan klinik. Klinik pertama sudah terkenal, profesional, mahal dan terakreditasi, tapi service nya kurang baik terutama pada orang asing. Klinik yang kedua, masih baru, relatif murah, dan ramah pada orang asing. Saya sudah istikharah berkali-kali tapi hingga saat ini masih bingung, apakah ini godaan setan? Apa betul masalah klinik itu sebenarnya tidak usah dipikirkan, karena berhasil atau tidaknya itu tergantung rejeki yang Allah beri? Atau tetap saja ikhtiar untuk memilih yang terbaik, bagaimana ikhtiar saya dalam menghadapi ujian ini agar tenang dan optimis? Mohon nasihatnya. (Yuliani via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Ibu Yuliani, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih dimana dakwah melalui digital ini bisa diterima diberbagai negara. Jadi begini, sebenarnya istikharah itu bisa dilakukan untuk apapun. Kalau menurut Anda ini perlu istikharah, maka silakan lakukan. Tetapi, istikharah pun menggunakan fakta-fakta empirik sebenarnya.

Kalau misalnya anda melihat klinik itu sudah banyak yang berhasil, dokternya sudah berpengalaman di bidang itu, sementara klinik kedua reputasinya masih meragukan, lalu anda istikharah, fakta empirik itu pun seharusnya bisa mempengaruhi jawaban sholat anda. Anda bisa saja menggunakan klinik yang pertama, karena banyak yang berhasil dalam bayi tabung. Dalam Islam pun bayi tabung itu tidak dilarang, karena merupakan ikhtiar. Orang beriman pun diperintahkan untuk ikhtiar, nah hasilnya serahkan saja pada kuasa dan takdir Allah SWT.

Jadi anda mencari klinik terbaik itu adalah bagian dari ikhtiar. Mencari dokter terbaik yang sudah berpengalaman adalah ikhtiar. Nah itu saja kan sudah jelas, secara akal sehat bahwa klinik A ini memang sudah mahir di bidang bayi tabung. Maka anda ambilah yang itu. Lalu masalah kurang ramah dengan orang asing, itu lain lagi urusannya. Tapi yang jelas kita lihat profesionalismenya saja. Jadi istikharah itu dikuatkan juga dengan fakta-fakta empiris. Misalnya seseorang diterima di dua universitas, maka selain istikharah, dia juga harus ikhtiar melihat, mengevaluasi, kira-kira dari keduanya mana yang terbaik.

 

Memang betul, jawaban istikharah itu adalah keyakinan, bukan dengan mimpi. Sebab mimpi itu sangat subjektif. Yang penting jawaban istikharah itu adalah mana yang membuat hati kita mantap. Nah, untuk sampai pada kemantapan, bukan hanya sekedar istikharah, tapi carilah informasi sebanyak-banyaknya agar lahirnya sebuah kemantapan. Dan tugas kita adalah mencari yang terbaik. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “jika kalian memiliki cita-cita, maka tawakalah pada Allah.” Apa itu tawakal? Tawakal itu artinya ikhtiar yang terbaik, berdo’a, lalu hasilnya kita serahkan pada Allah. Kalau sukses kita bersyukur, kalau belum sukses kita bersabar.

Lalu bagaimana agar kuat menjalani ujian hingga saat ini belum dikaruniai anak? Begini, anak itu ada tiga kemungkinan, pertama, anak bisa menjadi kebanggaan dan perhiasan dunia, urusan dunianya sukses. Kedua, anak bisa menjadi sumber penderitaan. Betapa banyak orang yang dikaruniai anak bukannya bahagia malah menderita karena anaknya seringkali berperilaku yang membuat orang tuanya malu. Banyak juga orang tua yang sakit, yang bangkrut karena kelakuan anaknya. Itulah anak yang menjadi fitnatun atau sumber penderitaan. Ketiga, anak itu bisa menjadi qurata’ayun, yaitu penyejuk hati. Maksudnya, boleh jadi anak tersebut masalah duniawinya biasa-biasa saja, tetapi cukup menyejukkan hati. Kita tentunya mengharapkan anak yang duniawinya sukses, ukhrawi nya pun sholeh.

Memahami hal ini maka kalau Anda hingga sekarang belum punya anak, boleh jadi Allah sayang pada anda. Daripada anda punya anak yang tidak sholeh, lebih baik anda tidak punya anak. Makanya jangan dulu suudzan pada Allah. Jadi bagi yang belum diberi anak, khusnudzan saja sama Allah, mungkin ini yang terbaik. Al-Qur’an menyebutkan, “boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu pada itu yang terbaik untukmu.” Jadi jangan pikir ketika kita punya anak, maka anak itu akan selalu lucu. Ketika balita memang lucu, tapi beranjak remaja lalu dewasa, sifatnya jadi mengkhawatirkan.

Baca juga: Do’a dan Ikhtiar, Mana yang Didahulukan?

Lalu ada yang khawatir kalau meninggal siapa yang akan mendo’akan? Solusinya, kita sisihkan harta dan perhatian kita pada anak orang lain. Karena yang dimaksud anak menjadi jariyah itu tidak harus anak yang berasal dari rahim kita. Hadistnya pun, waladun sholihun, anak sholeh yang kita didik. Anak yang menjadi sholeh karena didikan kita, bisa anak saudara kita, bisa anak yatim, bisa anak pungut. Pokoknya ada tenaga, pikiran , dan rejeki kita yang kita keluarkan untuk mendidik anak tersebut, itu akan menjadi jariyah untuk kita. Jadi selalulah berpikir khusnudzan.

 

Nah, untuk pembahasan lebih detail masalah kehamilan dan ikhtiar dalam rumah tangga, sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “KEHAMILAN YANG DIDAMBA” yang saya tulis bersama dr Hanny. Jadi selain ada ikhtiar secara medis juga ada tuntunan yang sesuai syariat Islam.  Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor:iman

Ilustrasi foto: pixabay

940

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

(Visited 765 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment