Hukum Membaca Al Quran Tanpa Tahu Artinya

tadarus

Assalamu’alaykum, Pak Aam, saya ingin bertanya tentang baca Al-Qur’an. Sempat terlintas dipikiran saya, setiap umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia membaca Al-Qur’an hanya arabnya saja, jarang sekali ada yang membaca dengan terjemahannya. Sedangkan mereka tidak mengerti dengan bahasa arab dan mungkin mereka tidak paham apa isi Al-Qur’an itu sendiri. Menurut Pak Aam, bagaimana sebaiknya kita membaca Al-Qur’an? Mohon penjelasannya. (Hadi via email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb . Iya, saudara Hadi dan para pembaca, sekalian. Begini, Al-Qur’an itu bisa diibaratkan sebuah peta bagi kehidupan manusia khususnya umat Islam. Di dalamnya ada perintah dan larangan, petunjuk dan aturan. Yang namanya peta, tentu saja harus dimengerti oleh yang membacanya.

Sekarang misalnya saya berada di suatu kota yang asing bagi saya, dan saya membaca peta, maka peta tersebut harus saya mengerti. Jadi syarat yang penting bagi orang yang membaca peta, pertama, dia yakin peta itu benar, sebab kalau dia tidak yakin, bagaimana bisa dia mengikuti peta itu. Yang kedua, dia harus mengerti apa yang ditunjukkan oleh peta tersebut.

Nah sekarang kita yakin, Al-Qur’an itu adalah peta kehidupan, karena kita hidup di dunia ini seperti di hutan belantara, kita tidak tahu arah dan jalur yang benar itu kemana. Maka Qur’an adalah peta bagi kita agar tidak tersesat. Ini yang dijelaskan dalam surat Al-Hajj ayat 54,

Agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan lurus.”

Jadi Allah memberikan peta pada kita agar tidak tersesat, peta kita hidup di dunia adalah Al-Qur’an. Agar kita tidak tersesat, kita harus meyakini bahwa peta itu benar, lalu memahami apa yang ditunjukkan oleh peta tersebut.  Jadi kita harus meyakini bahwa Al-Qur’an itu peta kehidupan yang benar, lalu kita tunduk dengan apa yang ada didalamnya. Setelah kita tunduk dengan apa yang ada didalamnya, kita harus mengimaninya. Ini penting kita perhatikan kalimatnya, “sesungguhnya Allah pemberi petunjuk ke jalan yang lurus”, maka kita harus membaca Qur’an dengan pemahaman. Ini dikuatkan juga dalam surat At-Takwir,

“Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan lurus” ( QS.At Takwir: 27 – 28)

Dari ayat-ayat tersebut, mengandung makna bahwa Qur’an itu memang seharusnya dipahami. Tapi faktanya kita seringkali melihat orang membaca Qur’an tapi tidak mengerti artinya. Inilah yang harus diperbaiki, ditambahkan dan dikembangkan.

Jika seseorang membaca Qur’an hanya arabnya saja, itu tentu mendapat pahala dari sisi Allah. Namun, kita tak cukup dengan membaca arabnya saja, tapi kita pun harus memahami isinya.

 

Jadi banyak orang kita yang rajin membaca Qur’an itu bagus sekali, walaupun hanya arabnya. Namun alangkah baiknya dan alangkah sempurnanya jika kebiasaan baik itu ditingkatkan dengan membaca terjemahannya. Agar yang kita baca itu dapat dimengerti. Ini yang dinyatakan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

“mengapa mereka tidak mau mentadaburi Al-Qur’an?”

Dalam ayat ini ada kata tadabur, yaitu membaca dan berusaha memahami apa yang dibaca. Jadi dalam ayat tersebut terdapat pertanyaan yang harus dijawab dengan perilaku, “mengapa mereka tidak men tadabur?”. Sedangkan yang banyak orang Indonesia lakukan baru tahap tilawah atau qira’ah.  Jadi bagi yang sudah terbiasa tilawah, mari tingkatkan dengan mentadaburinya. Bukan hanya membaca teksnya tapi juga membaca terjemahannya, memahami isinya, dan yang lebih penting dari itu, juga harus mengamalkannya. Allah berfirman,

Kemudian, Kami wariskan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi dirinya, ada yang pertengahan, dan ada pula yang berlomba berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal itu adalah karunia yang besar”.  ( QS. Al Fathir: 32)

Apakah Jawaban Sholat Istikharah itu Berupa Mimpi?

 

Begitu pun orang Islam dalam menerima Al Quran. Ada yang cukup dengan bisa membaca saja, ada yang bisa membaca dengan artinya namun ada juga yang bisa membaca dengan tartil dan mampu menerjemahkannya, menafsirkannya dan juga mengamalkannya. Nah, kita masuk golongan yang mana kira-kira?.

Jadi tugas kita adalah berlomba dalan kebaikan untuk mengamalkan isi Al-Qur’an dan mengajak yang lain untuk mengamalkannya pula. Ini yang penting kita perhatikan. Lalu ada pula ayat lain yang menyebutkan bahwa Qur’an ini adalah obat. Lebih tepatnya, yang dimaksud adalah obat penyakit hati. Misal jika saya pelit, atau pendendam, semoga dengan membaca Qur’an penyakit hati itu hilang digantikan menjadi dermawan dan pemaaf. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

840

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 928 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment