Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Al Quran

 

Assalamu’alaykum Wr Wb. Ustadz Aam. Saat ini saya sedang mengikuti pertukaran pelajar. Saya tinggal di keluarga (orangtua asuh) yang non muslim atau Nasrani. Alhamdulillah mereka baik sekali dan tidak ada masalah dengan ibadah saya termasuk membolehkan membaca Quran di rumahnya. Sebentar lagi mereka akan merayakan Natal. Saya ingin menjaga hubungan baik dengan mereka. Apa hukumya mengucapkan ”Selamat Natal” dengan niat menjaga dan membalas kebaikannya? Kalau saya tidak mengucapkan, kira-kira bagaimana cara menjelaskannya? Mohon nasihat ustadz dan terima kasih. ( Ikhsana Febriyani via email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya teh Ikhsana dan mojang bujang sekalian. Ini memang permasalahan atau pertanyaan yang sering dibahas. Namun sebagai pengingat dan penguat keyakinan coba kita bahas lagi.

 

Begini, sebagaimana yang kita tahu bahwa bagi mereka atau kaum Nasrani yang namanya Natal itu merupakan hari kelahiran Isa Al Masih. Pandangan umat Islam dengan umat Kristen tentang Isa Al Masih secara mendasar terdapat perbedaan. Dalam pandangan Islam, Isa Al Masih adalah seorang manusia yang lahir tanpa ayah, yang disebut juga Isa ibnu Maryam

 

Kelahiran Isa tanpa ayah sebagai bukti kekuasaan Allah.

 

Maryam berkata, ‘Ya Tuhanku, mana mungkin aku mempunyai anak padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki.’ Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril); ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya; ‘jadilah,’ lalu jadilah dia.’” (Q.S. Ali Imran 3: 47, lihat pula Q.S. Al Baqarah 2: 87, Q.S. Al Maidah 5:17, Q.S. Ali Imran 3: 45).

 

Ungkapan putra Maryam dalam Al Quran sebagai gambaran bahwa Isa tidak memiliki sifat keilahian (ketuhanan), karena Isa adalah manusia yang dilahirkan oleh Maryam, seorang perempuan pilihan yang disucikan Allah.

 

Dan ingatlah ketika malaikat Jibril berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (Q.S. Ali Imran 3: 42).

 

Namun demikian, Maryam dan Nabi Isa a.s. hanyalah manusia biasa. Allah swt. memberikan peringatan agar tidak mempertuhankan Isa Al Masih dan ibunya.

 

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam (Al Masih Ibn Maryam).’ Katakanlah, ‘Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?’ Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Maidah 5: 17).

 

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S. At-Taubah 9: 31).

 

Bertolak dari konsepsi ini, umat Islam dilarang (haram) menghadiri ritual natal, bahkan hanya sekedar mengucapkan ”Selamat Natal” pun hukumnya haram, karena pandangan Islam terhadap Isa Al Masih berbeda dengan umat Kristen yang menuhankan Isa Al Masih.

 

Kerukunan antarumat beragama, bukan bermakna mencampuradukkan keyakinan dan ritual. Namun, bermakna untuk tidak saling mengganggu dan tidak saling menghina agama masing-masing. Secara prinsip kita diperbolehkan menjalin hubungan baik dengan yang berbeda agama selama mereka tidak menampakkan permusauhan. Namun, ekspresi hubungan baik tidak perlu diwujudkan dengan mencampuradukkan keyakinan atau peribadatan.

 

Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.’” (Q.S. Al Kafirun 109: 1-6).

 

Terkait dengan kondisi Anda yang sedang belajar di luar negeri dengan tinggal di keluarga non muslim yang sangat baik tentu bisa dipahami jika Anda mempunyai kegalauan. Antara tetap menjaga akidah dengan membalas kebaikannya meski hanya sekedar mengucapkan “Selamat Natal”.

 

Pastinya Anda harus tetap dan berusaha baik dengan mereka namun tetap mempertahankan prinsip akidah atau keimanan Anda sebagai seorang muslimah. Cobalah dari sekarang Anda sampaikan secara sopan dan ramah bahwa nanti Anda tidak akan mengucapkan “Selamat Natal” kepada mereka. Sampaikan saja bahwa hal ini adalah bagian dari prinsip beragama Islam.

 

Jangan lupa untuk terus berdoa kepada Allah agar Anda diberikan keteguhan dan kekuatan dan mereka pun bisa mengerti dan paham. Insya Allah dengan komunikasi yang baik dan santun mereka pun akan mengerti dan menghormati apa yang Anda sampaikan sebagai bagian dari komitmen dalam menjalankan agama.

 

Semoga Allah memberi kekuatan pada kita untuk berpegang teguh pada ajaran Islam.  Demikian penjelasan singkatnya dan semoga bermanfaat. Wallahu A’lam. [ ]

 5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

990

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

 

 

(Visited 2,228 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment