Terpaksa Bersalaman Dengan Lawan Jenis, Bagaimana Hukumnya?

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saat ini saya sedang menempuk studi di luar negeri orang. Disini pergaulan lawan jenis begitu bebas termasuk berjabat tangan atau bersalaman. Beberapa kali teman laki-laki saya menyodorkan tangannya. Bagaimana menjelaskannya kalau dalam Islam itu dilarang bersalaman dengan lawan jenis. Jika saya mengatupkan kedua tangan saya dan menundukkan pandangan saya karena takut akan Allah, dia merasa sakit hati. Manakah yang harus saya lakukan, tetap memegang syariat bahwa haram bersentuhan dan memandang ikhwan yang bukan muhrimnya ketika berbicara, meskipun itu hanya sekadar bersalaman, atau saya harus menjaga perasaannya meski itu artinya saya melanggar syariat? Mohon penjelasannya. (Elva via email).

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya teh Elva dan mojang bujang sekalian. Sebenarnya, Islam itu mengajarkan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang bersifat preventif. Itu sebabnya laki-laki dan perempuan tidak dibenarkan untuk bersentuhan langsung, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (misal, zina).

 

Katakan kepada laki-laki beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nūr [24]: 30)

 

Ayat tersebut memang mengatakan bahwa kita harus menundukkan pandangan, namun bukan berarti Anda harus terus menunduk ketika, misalnya, mengobrol dengan lawan jenis. Karena, pandangan itu ada dua jenis, yaitu pandangan yang bermuatan dan pandangan yang tidak bermuatan. Nah, yang dimaksud menundukkan pandangan dalam Al-Qur’an surat An-Nūr ayat ke-30 tersebut adalah apabila pandangan tersebut bermuatan, tatapannya itu full syahwat. Itu jelas harus dihindari.

 

Sedangkan, pandangan yang tidak bermuatan, tidak menjadi masalah. Misalnya, ketika Anda seorang mahasiswi yang bertanya perihal tugas kuliah kepada dosennya (yang laki-laki), lalu keduanya terlibat kontak mata. Hal ini tidak menjadi masalah karena kontak mata di sini diartikan sebagai proses transfer pemahaman dari dosen kepada mahasiswinya. Jadi, sebenarnya, yang paling tahu apakah pandangan kita bermuatan atau tidak, hanya kita sendirilah yang paling tahu. Semua kembali kepada niat dan hati kita.

 

Lalu, urusan berjabat tangan, jika sekiranya memang Anda bisa menghindari bersentuhan langsung dengan lawan jenis, maka tentu harus Anda hindari. Akan tetapi, jika yang bersangkutan belum paham dan tetap mengulurkan tangannya ketika hendak bersalaman dengan Anda, tentu tidak menjadi masalah. Karena, mungkin dia melakukan hal itu karena faktor ketidaktahuannya. Kalau suatu saat Anda bisa menjelaskan kepada dia, insyaAllah nanti dia akan mengerti. Jadi, Anda usahakan dulu menggunakan isyarat untuk menghindari bersalaman langsung dengan lawan jenis.

 

Tentu saja, ini bukan berarti bersalaman langsung (bersentuhan) itu dibenarkan. Ini hanya masalah konteks saja. Misalnya, kita tentu sudah paham bahwa daging babi atau bangkai itu haram, tapi hal tersebut akan menjadi halal jika kita ada dalam kondisi darurat dan tidak ada makanan lain selain daging babi atau bangkai tersebut. Maka, memakannya menjadi halal. Karena, Sesungguhnya Allah Swt. Maha Tahu hati kita, jadi kita tidak perlu merasa khawatir akan hal ini (bersalaman).

 

Meski begitu Anda tetap harus berusaha untuk menghindari bersalaman dan menjelaskan kepada teman-teman Anda khususnya yang laki-laki bahwa dalam Islam itu hal tidak boleh dilakukan. Insya Allah mereka akan paham dan bisa mengerti mengapa Anda tidak mau bersalaman. Jadi jangan anggap itu situasi yang darurat atau terpaksa sehingga Anda selalu mengulang untuk terus bersalaman dengan mereka setiap kali bertemu. Dalam situasi darurat atau terpaksa masih diperbolehkan namun tetap harus berusaha untuk menghindar dan menjelaskan. Dalam haidtsnya Rasulullah Saw berpesan,

 

Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya“ ( HR. Tabrani)

 

Memegang teguh agama itu bagus, tapi ketika Anda terpaksa melanggarnya dalam situasi tertentu, itu tidak menjadi masalah. Hal ini tidak akan merusak akidah atau membuat diri Anda menjadi murtad. Rasulullah Saw., bersabda, addinuyusrun walaayusyaaddaddiin innagholabah, agama itu mudah dan siapapun yang mempersulit agama pasti akan kalah dan tidak akan mampu mengamalkan ajaran agama. Wallahu a’lam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 728 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment