Suami  1 Tahun Tanpa Kabar, Bagaimana Statusnya?

0
288

PERCIKANIMAN.ID – – Jika seorang suami dianggap ghaib (tidak berada di tempat, tidak berada di sisi istri) lebih dari 1 tahun lamanya tanpa adanya udzur yang bisa dibenarkan, sementara sang istri mengalami penderitaan akibat keberadaan suami yang jauh itu, maka merupakan hak bagi istri untuk membawa permasalahan yang dihadapinya ke pengadilan.

Selama suami diketahui keberadaan tempatnya dan dimungkinkan sampainya surat ke sana, maka hendaknya hakim mengirim surat kepadanya yang isinya meminta dia agar datang lalu tinggal bersama istrinya atau memboyong istrinya ke tempat suami berdomisili. Selain itu hendaknya hakim memberikan tempo kepada suami dan menjelaskan kepadanya bahwa jika ia tidak mau datang atau tidak mau memboyong istrinya ke tempat dia berdomisili dalam tempo yang telah ditetapkan itu, maka hakim akan menjatuhkan thalaq antara dia dan istrinya.

iklan

Jika tempo yang ditetapkan sudah habis sementara sang suami tidak mengambil tindakan apapun dan tidak mengemukakan alasan yang bisa diterima, maka hakim lalu memisahkan antara keduanya dengan thalaq ba’in.

Pemisahan terhadap suami yang ghaib inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Malik bin Anas. Yang demikian itu, dikarenakan seorang suami yang meninggalkan istrinya lalu menetap di tempat yang jauh dari istri dapat menyebabkan timbulnya penderitaan bagi sang istri dan terkadang bisa mendorong istri terjerumus ke dalam jarimah diniyyah (kejahatan yang diharamkan agama). Padahal dalam Islam itu, seseorang tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan tidak boleh juga berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain.

Imam Ahmad bin Hambal ( madzhab Hambali) juga telah menetapkan jangka waktu minimal yang di dalamnya dibolehkan dijatuhkannya perceraian, yakni 6 bulan. Hal itu dikarenakan Umar a telah menetapkan kebijakan bagi pasukan Islam agar tidak meninggalkan istri mereka lebih dari 6 bulan. Sebabnya adalah karena jangka waktu tersebut merupakan batasan maksimal dimana seorang istri mampu bersabar jika ditinggal suaminya.

Adapun menurut madzhab Maliki, tentang jangka waktu minimal yang dapat menimbulkan “bahaya” lantaran ghaibnya atau hilangnya seorang suami itu, diperselisihkan; ada yang mengatakan 1 tahun dan ada pula yang mengatakan 3 tahun.

Sementara Undang-undang Mesir menetapkan bahwa jangka waktu minimal (untuk bisa dijatuhkan perceraian) tersebut adalah 1 tahun. Dan setelah ditelusuri, bahwasanya pendapat dalam madzhab Imam Ahmad (madzhab Hambali) yang menyebutkan tentang jangka waktu minimal itu, ternyata jika di sana tidak ada alasan yang bisa diterima; sementara pendapat dalam madzhab Imam Malik (Madzhab Maliki) tidak mensyaratkan hal tersebut.

Dan safar yang dianggap memiliki alasan yang bisa dibenarkan adalah safar dalam rangka thalabul ilmi (menuntut ilmu), safar dalam rangka bisnis, safar dalam rangka diplomasi, dan safar lain yang semacamnya. Namun dengan syarat istri memang tidak bisa diajak serta.

Jenis perceraian yang ditimpakan terhadap suami yang ghaib, menurut Imam Malik, adalah thalaq ba’in; dan inilah pendapat yang dianut oleh Undang-undang Mesir. Sementara menurut Imam Ahmad, perceraian tersebut dikategorikan sebagai fasakh. Dan faidah dari adanya perbedaan pendapat mengenai status perceraian yang ditimpakan terhadap suami yang ghaib ini, akan nampak jelas dalam hal apakah perceraian itu dianggap thalaq ataukan tidak.

Pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan fasakh, maka perceraian tersebut tidak dianggap sebagai thalaq. Karenanya, siapa yang telah menthalaq istrinya sebanyak 2 kali, lalu selanjutnya antara keduanya diceraikan (dipisahkan paksa), kemudian mantan suami berkeinginan menikahi lagi mantan istrinya, maka hal itu dibolehkan baginya, meskipun mantan istri belum menikah dengan laki-laki lain. Sebab, tidak ada bagi mantan suami tersebut (thalaq yang telah dia jatuhkan) selain thalaq 2, sementara perceraian (pemisahan paksa) yang ditimpakan terhadap seorang suami yang ghaib itu bukanlah thalaq.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa perceraian (pemisahan paksa) itu dianggap sebagai thalaq, maka mereka yang sepakat dengan pendapat ini mengatakan: “Tidak boleh bagi laki-laki tersebut untuk kembali kepada (menikahi) mantan istrinya sebelum mantan istrinya itu menikah dengan laki-laki lain terlebih dahulu; sebab dengan tafriq (pemisahan paksa, perceraian paksa) tersebut, maka menjadi sempurnalah thalaq yang dijatuhkan yakni menjadi thalaq 3211.”

Sementara itu, madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi berpendapat tentang tidak adanya hak istri untuk meminta dijatuhkannya tafriq yang disebabkan ghaibnya suami, meskipun dalam waktu yang lama. Yang menjadi hak istri dalam keadaan seperti itu hanyalah meminta jatah nafkah, yakni jika keberadaan suami memang diketahui di mana tempatnya. [ ]

 

*Disarikan dari buku “ Fikih Wanita 4 Mahzab” karangan Dr. Muhammmmad Utsman Al-Khasyt

Buku Fikih Wanita

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980