Hukum Mengaku Melihat Jin

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saudara saya pernah bercerita katanya dia bisa melihat jin. Apakah benar kita bisa melihat jin dan bagaimana hukumnya? Apakah jin juga bisa menyerupai manusia? Mohon penjelasannya. ( Nila by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Nila dan mojang bujang sekalian. Tentang wujud atau penampakan Jin ini setidaknya kita bisa membaca penjelasan yang disampaikan Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Risaalatul Jinn menyatakan, “Jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular, kalajengking, unta, sapi, kambing, kuda, keledai buruk, dan anak-anak.” Pernyataan ini merujuk pada sejumlah hadis yang mencapai derajat mutawatir (riwayat yang tak terhingga banyaknya). Di antaranya sebagai berikut.

 

Rasulullah Saw. bersabda, “Ular adalah jadian jin…,” (H.R. Ibnu Hibban, Thabrani, dan disahihkan oleh al-Hakim)

 

Abu Ubay bin Ka‘ab r.a. menerangkan bahwa ia mempunyai tempat pengeringan yang sedang dipakai mengeringkan kurma dan dijaganya, kemudian ia dapati kurma tersebut berkurang. Tiba-tiba, ada seekor binatang sebesar anak remaja keluar. Abu Ubay bertanya kepadanya, “Apakah kamu jin atau manusia?” Ia menjawab, “Saya adalah jin! Kami mendengar Anda suka bersedekah dan kami ingin mendapatkan bagian makananmu.” Abu Ubay r.a. bertanya, “Apakah yang dapat melindungi kami dari gangguan kalian?” Jin itu menjawab, “Ayat Kursi ini.” kemudian Abu Ubay r.a. menceritakan hal itu kepada Rasulullah Saw., lalu Rasulullah mengatakan, “Jin itu benar.” (H.R. Nasa’i)

 

Dua hadis tersebut dapat dijadikan dalil bahwa jin mampu melakukan penyerupaan pada bentuk yang bukan aslinya. Atau dengan kata lain, jin bisa melakukan penampakan diri dengan bentuk yang beragam, bisa menyerupai manusia ataupun binatang.

promooktober1

 

Apakah dua dalil tersebut bertentangan dengan firman Allah Swt., “…Sesungguhnya, iblis dan pengikut-pengikutnya dapat melihatmu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat…” (Q.S. Al- A‘raaf [7]: 27)?

 

Hadis tersebut tidak bertentangan dengan ayat itu karena yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah jin dalam bentuk aslinya. Artinya, jin dalam bentuk yang asli tidak bisa dilihat oleh siapa pun kecuali para nabi yang mendapatkan mukjizat, seperti Nabi Sulaiman a.s. Sedangkan, jin dalam bentuk yang tidak asli alias jin yang sudah menyerupakan diri pada bentuk manusia atau binatang, maka jin seperti ini bisa terlihat.

 

Untuk lebih jelas, silakan simak baik-baik riwayat sahih berikut. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa dirinya mendapatkan tugas dari Rasulullah Saw. untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Lalu, ada seseorang yang datang dan mengambil bahan makanan. Kemudian, aku tangkap orang itu sambil mengancam, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah!” Orang itu menjawab dengan penuh iba, “Saya sangat memerlukan makanan itu untuk keluarga saya. Sungguh saya sangat memerlukannya.”

 

Akhirnya, Abu Hurairah melepaskan orang itu. Pada pagi harinya, Rasulullah Saw. bertanya kepadaku, “Apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?”Aku menjawab, “Ia mengiba dirinya sangat membutuhkan makanan yang ia curi itu untuk keluarganya. Karena merasa kasihan, maka saya melepaskannya.” Rasulullah Saw. berkata, “Ketahuilah sesungguhnya dia membohongimudan pasti dia akan kembali lagi.

 

Malam berikutnya, Abu Hurairah mengintai kembali karena yakin ia akan kembali lagi seperti yang diperkirakan Rasulullah Saw. Ternyata benar, ia datang lagi dan mengambil beberapa bahan makanan. Lalu, Abu Hurairah menangkapnya seraya mengancam, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah.” Ia berkata, “Tolong lepaskan saya, sungguh keluarga saya membutuhkannya. Saya janji tidak akan kembali lagi.” Pagi

harinya, Rasulullah Saw. bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, keluarganya sangat membutuhkan makanan itu. Karena kasihan, saya lepaskan lagi.” Lalu, Rasulullah Saw. bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya ia membohongimu dan pasti ia akan kembali lagi.”

 

Malam berikutnya, Abu Hurairah mengintainya lagi. Ternyata benar, tidak lama kemudian ia datang dan mengambil beberapa bahan makanan. Lalu, Abu Hurairah menangkapnya seraya mengancam, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Kemarin kamu berjanji tidak akan mencuri lagi, ternyata kamu mencuri lagi.” Ia berkata, “Tolong lepaskan saya, sebagai gantinya saya akan mengajari Anda beberapa bacaan, yang dengannya Allah akan melimpahkan berbagai manfaat.” Aku bertanya, “Apa bacaan itu?” Ia menjawab, “Apabila kamu hendak tidur bacalah ayat Kursi hingga selesai, niscaya kamu akan selalu mendapat perlindungan Allah Swt. dan setan tidak akan berani mendekatimu hingga pagi.” Setelah itu, Abu Hurairah mengampuni dan membiarkannya pergi.

 

Pagi harinya, Rasulullah Saw. bertanya, “Apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?” Aku menjawab, “Ia mengajariku beberapa bacaan yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku.” Rasulullah bertanya, “Bacaan apa itu?” Aku menjawab, “Ia mengatakan, apabila kamu hendak tidur bacalah ayat Kursi hingga selesai, maka kamu akan mendapat perlindungan dari Allah dan setan tidak akan berani mendekatimu sampai pagi.” Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Ketahuilah ia berkata jujur, padahal ia seorang pendusta. Tahukah kamu, siapa yang mengajak berbincang-bincang sejak tiga malam yang lalu, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Tidak, saya tidak mengetahuinya.” Rasulullah bersabda, “Ketahuilah bahwa ia sebenarnya adalah setan (jin) yang menjelma menjadi manusia.” (H.R. Bukhari)

Ketahuilah bahwa ia sebenarnya adalah setan (jin) yang menjelma menjadi manusia.

Ini pernyataan yang begitu tegas dari Nabi Muhammad Saw. bahwa jin bisa menjelma seperti manusia, bahkan bisa berdialog seperti yang dialami oleh Abu Hurairah r.a. Perlu diketahui bahwa hadis ini merupakan Sahih Imam Bukhari yang tidak perlu diragukan lagi keabsahannya.

 

Ada kisah lain, seorang ibu bercerita bahwa suatu saat dia melihat suaminya sedang duduk di meja belajar, padahal suaminya sudah meninggal. Namun, setelah didekati, suaminya menghilang. Dia bertanya, “Sebenarnya makhluk apakah yang saya lihat itu?” Penulis katakan, “Apa yang ibu lihat itu adalah jin yang menyerupai almarhum suami ibu.” Penulis menjawab seperti itu karena merujuk pada dalil yang disampaikan tadi bahwa jin bisa melakukan penyerupaan, penjelmaan, atau penampakan.

 

Terkait hukum melihat Jin tentu boleh dan harus kita percaya bahwa Jin itu memang ada karena ia juga makhluk ciptaan Allah yang sifatnya ghaib. Maksudnya Jin menampakkan diri kemudian kita melihatnya. Dalam surat Al Baqarah juga disebutkan salah satu sifat atau ciri orang beriman itu adalah percaya kepada yang ghaib termasuk Jin. Tentu yang tidak boleh itu adalah belajar atau istilahnya berguru untuk bisa melihat Jin bahkan bekerjasama dengan Jin dengan cara-cara yang dilarang dalam Islam. Misalnya puasa mutih, puasa ngebleng (tidak makan dan minum selama beberapa hari) atau melakukan amalan-amalan mistik dan syirik seperti menyembelih ayam hitam kemudian darahnya dibalurkan ke tubuh dan sebagainya yang tidak ada dalam ajaran Islam.

 

Untuk mengetahui lebih detail tentang pembahasan masalah Jin ini Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “ MENELANJANGI STRATEGI JIN ” . insya Allah di dalamnya dibahas secara detail berikut dalil-dalinya. Wallahu a’lam . [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

965

(Visited 59 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment