Hukum Gadai Emas Dalam Islam

Assalamu’alaykum. Pak Aam, beberapa hari lalu saya menanyakan soal menggadaikan emas di salah satu Bank Syariah. Mereka menanyakan saya punya uang berapa dan untuk apa. Saya jawab, saya punya uang 12 juta untuk pergi haji. Pihak bank bilang, saya ambil emas 100 gr, dengan porsi 12 juta dari saya dan 50 juta dari bank. Tiap empat bulan akan jatuh tempo. Jika jangka waktu empat bulan tersebut terlewati, saya tidak bisa bayar angsurannya maka emas akan dilelang dengan harga sekarang, dan hasil lelang akan dibayar ke bank lalu sisanya akan diberikan pada saya. Benarkah hal tersebut? Karena ada yang bilang itu haram karena menggabungkan dua akad yaitu jual beli dan pinjam meminjam. Bahkan dalam Islam sendiri perihal gadai pun masih rancu. Lalu bagaimanakan hukumnya? (Ira via email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Begini Bu Ira, pada prinsipnya secara hukum, menggadaikan barang itu boleh. Yang tidak boleh adalah menggadaikan barang lalu barang tersebut dimanfaatkan oleh yang punya uang. Tapi kalau sekedar jaminan, itu tidak apa-apa. Dalam perjanjian di Bank Syariah, memang Bank punya wewenang untuk menjual  jaminan tersebut lalu menutupi hutang, lalu sisanya dikembalikan pada kita.

 

 

Jadi misalkan jaminan tersebut laku 100 juta, kita punya kewajiban ke Bank 50 juta, maka Bank mengambil 50 juta, sisanya dikembalikan pada kita. Secara hukum syariah itu boleh, karena jaminan tersebut tidak hangus, tapi sisanya kembali lagi ke kita. Yang saya sarankan, berhaji itu bagi yang mampu, jadi kalau seandainya kita belum mampu, maka tidak usah memaksakan diri. Kita tidak perlu sampai pinjam sana, pinjam sini untuk mampu.

 

 

Jadi berhajilah dengan uang yang kita punya atau istilahnya uang dingin, yang kita simpan. Jangan sampai ketika kita berangkat haji dengan uang pinjaman yang mungkin bisa mengakibatkan anak keturunan kita harus repot melunasi hutang-hutang kita, seandainya ada sesuatu hal yang tidak kita inginkan saat haji, meninggal misalnya. Sebab kita tidak tahu umur kita sampai kapan. Boleh jadi saat berangkat haji nampak segar dan fit namun takdir bisa berbicara lain. Oleh karena itu, saya sarankan bagi bapak ibu yang ingin berhaji, berhajilah saat kita memang sudah punya kemampuan, jangan sampai memaksakan diri, apalagi dengan uang atau dana pinjaman.

 

Berangkat haji adalah kewajiban bagi yang mampu baik financial maupun fisik. Allah Swt juga Maha Tahu akan kemampuan hamba-Nya. Sekiranya sampai akhir hayat kita tidak mampu pergi haji namun mempunyai tekad dan niat yang kuat untuk haji, insya Allah akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah. Jadi bagi dan sahabat-sahabat sekalian perlu dipikirkan lagi sekiranya ingin berangkat haji dari dana pinjaman atau talangan. Wallahu’alam. [ ]

promo oktober

 

BACA JUGA: Hukum Jual Beli Mata Uang Menurut Islam

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

890

(Visited 76 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment