Memilihkan Jodoh, Orangtua Jangan Memaksakan Kehendak

Dialog muslimah

PERCIKANIMAN.ID – – Menurut fiqh, pernikahan ialah akad yang membolehkan dan menghalalkan bersenang-senang antara laki-laki dengan perempuan. Sedangkan dalam Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebukan, pernikahan ialah akad yang sangat kuat (mitsaqan ghalizhan) untuk mentaati perintah Allah, dan melaksanakannya merupakan ibadah. Dalam Pasal 3 disebutkan, pernikahan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

 

Al Quran menerangkan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Rum 21).

 

Dengan akad nikah, timbullah perjanjian antara pria dan wanita dalam berhubungan, menyalurkan naluri biologis, melahirkan dan memelihara keturunan, memunculkan naluri sebagai orang tua, tolong menolong, menjaga kehormatan diri, berdasarkan cinta dan kasih sayang Allah swt.

 

Telah diseru mereka yang sanggup menikah, “Hai para pemuda barangsiapa yang telah sanggup di antaramu untuk menikah, maka menikahlah karena sesungguhnya menikah itu dapat menjaga pandangan yang liar dan lebih menjaga kehormatan.” (H.R. Bukhari Muslim).

 

Namun, dalam masyarakat kita banyak orang tua yang memaksakan kehendak dalam menikahkan purinya.

kalender percikan iman 2018

 

Ayahku mengawinkan aku dengan putra saudaranya (keponakan), padahal aku  tidak menyukainya. Ketika aku adukan kepada Rasulullah saw., beliau  berkata, “Sudahlah terima saja pilihan orang tuamu itu.” Aku menjawab, “Tetapi aku tidak menyukainya.” Rasulullah saw. berkata kembali, “Kalau begitu pulanglah! Jangan lanjutkan pernikahanmu. Nikahlah engkau dengan pria yang kamu sukai.” Sesampai di rumah, aku akhirnya rela terhadap keputusan ayahku itu, hanya saja aku ingin mengajar umat manusia setelah kejadian ini bahwa tidak ada hak paksa. (H.R. Bukhari)

 

Harus diingat, tugas orang tua sebatas mencarikan atau memberi masukan. Namun jika larangan orang tua itu berhubungan dengan agama dan akhlak calon suaminya, seharusnya anak menurut pada orang tuanya.

 

Jika datang seorang laki-laki yang kalian ridoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan muncul kerusakan besar.” ( HR. Muslim)

 

Untuk itu hendaknya orangtua bijaksana dalam memilihkan jodoh untuk anaknya khususnya lebih mempertimbangkan aspek psikologis anak. Ajaklah ia dialog dan coba mendengarkan pendapatnya. Jika anak merasa cocok insya Allah mereka akan menjalaninya dengan penuh cinta kasih. [ ]

 

*Dinukil dari buku “Jangan Galau Ukhti”, karangan Sasa Esa Agustiana

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment