Uswatun Hasanah Dalam Diri Rasulullah

PERCIKANIMAN.ID  – – Dalam salah satu istilah Al Quran, sikap yang patut dicontoh dan ditiru disebut dengan ungkapan uswatun hasanah. Di beberapa terjemahan Al Quran bahasa Indonesia, uswatun hasanah diartikan dengan ‘suri tauladan yang baik’. Kita bisa menemukan tiga kali penggunaan kata tersebut di dalam Al Quran. Salah satunya adalah berkaitan dengan suri tauladan yang dimiliki dan diperlihatkan oleh Rasulullah saw. yang termaktub di dalam surat Al Ahzab, surat ke 33, ayat 21,

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

 

Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Quran, ayat ini berkaitan dengan sikap tauladan dan kepahlawanan Rasulullah saw. tatkala terjadi perang Ahzab. Ketika itu, disepakati bahwa tentara umat Islam mempersiapkan perang tersebut dengan menggali parit. Rasulullah keluar bersama kaum muslimin untuk menggali parit. Meskipun seorang Nabi dan panglima perang, beliau tidak segan-segan dan tidak canggung untuk ikut menggali parit tersebut bersama pasukannya. Bahkan, ia pun ikut mengangkut tanah dan pasir dengan menggunakan alat pikul.

 

Untuk memberi semangat kepada pasukannya, beliau juga ikut melantuntan rajaz (semacam syair) bersama para pelantun rajaz. Sembari bekerja, mereka melantunkan rajaz sederhana tentang kejadian-kejadian yang mereka lihat atau mereka alami saat itu. Ketika itu ada seorang dalam pasukan yang bernama Ja’il. Saat mengetahui nama itu, Rasulullah merasa tidak menyukai namanya, beliau pun mengganti nama tersebut dengan ‘Amar. Maka, semua orang yang sedang menggali parit itu beramai-ramai melantunkan rajaz tentang hal itu. Bila mereka menyebut satu bait yang di dalamnya ada kata Amran, Rasulullah ikut menyahut bersama-sama pasukan yang lain ‘Amran’. Bila mereka melewati bait yang ada kata zhuhran, Rasul pun ikut menyahut dengan serentak dengan suara keras, zhuhran.

 

Dari kisah di atas, dapat kita bayangkan bagaimana kondisi ketika itu. Kaum muslimin sedang sibuk menggali parit dan Rasulullah pun ikut bersama meraka menggali dan mengangkut tanah. Rasul pun ikut meneriakkan suaranya melantunkan rajaz. Dengan kondisi dan suasana yang seperti itu, tentulah menimbulkan semangat dan kekuatan yang menggelora di setiap diri para sahabat yang menimbulkan kerelaan dan keyakinan. Suasana itu menggambarkan bagaimana pasukan kaum muslimin hidup di bawah perhatian dan tauladan dari Nabi Muhammad saw. yang diliputi semangat, kebersamaan, keceriaan, dan kemuliaan.

promooktober1

 

Dari sepenggal kisah itu, dapatlah diambil hikmah bahwa sudah sepantasnya kita mengambil Nabi Muhammad sebagai idola dan pahlawan kita. Dunia pun mengakui bahwa beliau adalah tokoh yang paling berpengaruh. Bukankah ajaran Nabi Muhammadlah yang bisa membawa kita kepada keselamatan hidup di dunia dan akhirat? Masih terlalu banyak alasan lain mengenai kepatutan Nabi Muhammad sebagai idola.

 

Dalam buku Kuliah Aqidah Islam, Prof. Yunahar Ilyas, Lc. menyebutkan beberapa ciri dan sifat Nabi Muhammad saw. yang patut dijadikan alasan mengapa kita mengidolakan beliau, yaitu:

 

  1. Mempunyai fisik yang sempurna, lidah yang fasih, dan otak yang cerdas.
  2. Berasal dari keturunan yang mulia dan terpandang.
  3. Berakhlak mulia; shiddiq, amanah, tabligh, fathanah, sabar, pemaaf, penyayang, penyantun, pemberani, pemurah, dll.
  4. Tabah dalam menghadapi segala penderitaan dan cobaan dalam menyampaikan ajaran Islam.
  5. Memiliki taktik dan strategi dakwah yang tepat sehingga meraih keberhasilan dalam waktu yang singkat, di antaranya dengan:
  • Melaksanakan dakwah secara rahasia
  • Melaksanakan dakwah secara terang-terangan
  • Mengadakan kaderisasi di rumah Al Arqam
  • Memerintahkan beberapa sahabat untuk mencari perlindungan di Habsyah
  • Berusaha hijrah ke Thaif
  • Hijrah ke Madinah
  • Membangun masjid sebagai pusat pembinaan umat
  • Membuat konstitusi Madinah
  • Melaksanakan peperangan
  • Mengirim surat dan utusan kepada pembesar-pembesar di luar negeri
  • Dan lain-lain.

 

Tentunya tak habis mengupas pribadi agung dan mulia sepanjang zaman ini ribuan bahkan jutaan hingga tak terhingga lembaran tak sanggup menampung goresan pena tentang sosoknya. Demikian juga ribuan dan jutaan teladan dalam dirinya yang akan abadi sepanjang zaman untuk terus menjadi teladan generasi muslim sepanjang zaman juga. [ ]

5

Red: agung

Editor: iman

Ilustrasi foto: ap/norman

980

(Visited 37 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment