Hukum Menjual Asuransi

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya karyawan swasta yang bergerak di bidang broker asuransi. Beberapa waktu ini, saya merasa gelisah karena membaca artikel-artikel di internet, baik dari MUI atau sumber-sumber lain yang menyatakan bahwa hukum asuransi adalah haram karena ada unsur riba. Mohon penjelasan mengenai hal tersebut karena saya berencana akan resign dalam waktu dekat karena hal tersebut. Alhamdulillah dengan izin Allah istri saya sudah keluar duluan, dia sebelumnya kerja di perusahaan asuransi persero. (MS by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya bapak yang tidak mau disebut namanya dan sahabat-sahabat sekalian. Begini, asuransi dan perbankan adalah dua persoalan kontemporer. Dua persoalan kekinian yang tidak ada di zaman Rasulullah Saw.sehingga, jika kita berbicara tentang perbankan, khususnya perbankan nonsyariah, maka akan timbul kontroversi mengenai hal ini.

 

Setahu saya MUI sendiri sudah mengeluarkan fatwanya mengenai bunga bank konvensional yang jatuhnya haram. Demikian juga dengan asuransi ada yang disebut konvensional dan yang syariah.

 

Ketika Anda membaca artikel, boleh jadi artikel-artikel yang Anda baca itu cenderung memposisikan asuransi nonsyariah/perbankan nonsyariah sebagai sesuatu yang ada unsur haramnya. Oleh karena itu, penulis artikel akan mencari alasan-alasan untuk menguatkan hal itu.

Tetapi, ada pula tulisan yang memandang perbankan nonsyariah/asuransi nonsyariah, bukan sebagai sesuatu yang haram, sehingga penulis akan menuliskan logika-logika yang menguatkan hal itu. Baik yang pro maupun yang kontra tentu mempunyai dalil dan argumen sendiri yang kuat sesuai dengan penafsirannya. Tinggal kemantapan dan kecenderungan hati Anda untuk menentukan sikap.

promooktober

 

Jadi, jika Anda ingin resign dari tempat Anda bekerja (asuransi nonsyariah) dan mencari alternatif pekerjaan yang lebih menenangkan, itu merupakan sesuatu yang baik. Tetapi, Anda tetap harus mempertimbangkan kondisi realitas saat ini. Apakah keputusan Anda untuk resign itu akan membuat Anda makin berkembang atau justru menjadi beban orang lain. Pikirkanlah hal ini baik-baik. Terutama, apakah setelah Anda resign, kebutuhan istri dan anak-anak Anda masih bisa Anda penuhi dan tidak membebani orang lain atau tidak. Jangan sampai Anda resign dan membuat keluarga menjadi terlantar karena Anda tidak bekerja dan tidak ada pemasukan.

 

BACA JUGA: Hukum Mendepositokan Uang di Bank

Namun, jika Anda merasa yakin dengan keputusan (resign) Anda dan merasa akan tetap mandiri, itu suatu langkah yang bagus. Jadi, pertimbangkah hal ini dengan matang, jangan sampai Anda lepas dari satu dosa lalu masuk ke dosa yang lain. Anda boleh saja keluar lalu mencari alternatif pekerjaan yang lain, tetapi Anda tidak boleh menelantarkan orang lain atau anak dan istri, terlebih membebani orang lain. Karena, sebaik-baik orang adalah yang tidak membebani orang lain, dan sebaik-baik orang adalah yang meringankan beban orang lain. Tanamkan baik-baik hal ini dalam kehidupan Anda. Wallahu a’lam.

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 181 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment